ANTUSIASME para pencinta balap sepeda di Tanah Air menjelang KAI Ngebel KOM 2026 kian memuncak. Tak hanya memikat peserta dari Jawa Timur dan sekitarnya. Perhelatan event King of the Mountain (KOM) terbaru yang digagas Mainsepeda itu juga menarik hawa bersepeda bagi para cyclist dari luar Jawa.
Mengeluarkan modal jutaan rupiah hingga menempuh perjalanan ribuan kilometer rela dilakoni demi memuaskan rasa penasaran dan mengejar tantangan di rute baru tersebut.
Ragam motivasi melandasi kedatangan para pegowes lintas pulau ini. Ada yang membidik mimbar juara, penasaran dengan julukan "KOM tergampang" yang disuarakan founder Mainsepeda Azrul Ananda, hingga sekadar berburu atmosfer khas ajang sepeda tingkat nasional.
Ahmad Ridho Ihsani (24), cyclist asal Lampung yang turun di Men Age Category 22-29 tahun, misalnya. Ia datang dengan ambisi tinggi. Berangkat bersama lima rekan sejawat dari komunitas RBMC, perjalanan darat panjang menyeberangi Selat Sunda menggunakan van bukan jadi penghalang.
Baca Juga: Para Cyclist Mancanegara Terjun di KAI Ngebel KOM 2026, Tertarik Lanskap Madiun-Ponorogo
Baca Juga: 7 Asupan Carbo Loading Khas Madiun yang Wajib Dicoba buat Peserta KAI Ngebel KOM 2026
Bahkan sebelum tiba di Madiun, Ahmad dan timnya sempat melakoni pemanasan ketat di Yogyakarta dan Temanggung. "Saya di antara teman-teman goweser Metro termasuk yang paling cepat di tanjakan. Sekaligus saya ingin mengukur kemampuan dengan mencoba ikut event KOM untuk pertama kalinya," ungkap Ahmad.
Keikutsertaan perdana Ahmad di ajang KOM ini didukung penuh oleh rekan-rekan komunitasnya yang membiayai seluruh kebutuhan logistik dan pendaftaran. "Saya dikasih challenge oleh teman-teman untuk merebut podium di Ngebel KOM," tuturnya optimistis.
Cerita berbeda datang dari Kalimantan Selatan. Bobby Surya Winardy (42), yang berlaga di kategori usia Men 40-44, rela terbang menuju Surabaya sebelum melanjutkan perjalanan darat ke Madiun. Rekam jejak Mainsepeda dalam menggelar event bereputasi apik seperti Bromo KOM menjadi alasan utama keikutsertaannya.
Untuk itu, ia harus mengalokasikan perjalanan selama kurang lebih seharian penuh. Ia pun harus merogoh kocek antara Rp5 juta sampai Rp6 juta untuk transportasi saja. Belum kargo dan lain-lain. Meski Azrul Ananda menyebut KAI Ngebel KOM 2026 sebagai rute paling ramah dibanding ajang KOM lainnya, Bobby tetap mengantisipasi kejutan karakter rute anyar tersebut.
Baca Juga: Strategi B2C Magetan di KAI Ngebel KOM 2026: Cukup Gowes Happy
Baca Juga: 5 Destinasi Wisata Madiun untuk Peserta KAI Ngebel KOM 2026, Keliling Dunia Sampai Kulineran
"Penasaran, karena ini rute baru. Biasanya rute dari Pak Azrul menantang-menantang. Biaya sekitar Rp5 juta, tapi layak dicoba," ungkap Bobby yang sudah langganan mengikuti ajang balap tanjakan.
Sementara itu, Hendri Louis Latif, peserta kategori usia Men 35-39 asal Makassar yang mewakili komunitas 151.CC, menilai perjalanannya menuju Jawa Timur sebagai bentuk investasi pada hobi dan pengalaman hidup. Dari Pulau Sulawesi, Hendri menyiapkan anggaran lebih dari Rp5 juta untuk transportasi, akomodasi, dan operasional.
Bagi Hendri, daya tarik KAI Ngebel KOM 2026 tidak semata-mata terletak pada elevasi tanjakan atau perebutan waktu tercepat, melainkan kehangatan interaksi antarpesepeda dari berbagai beluruh wilayah Indonesia.
"Jujur, saya sengaja datang dari Makassar karena ingin merasakan langsung atmosfernya. Karakter tanjakannya berbeda dengan yang biasa saya temui di Sulawesi," kata Hendri.
"Buat saya, event sepeda yang bagus bukan cuma soal tanjakan atau siapa yang paling cepat, tapi bagaimana suasana kebersamaannya. Di sini atmosfernya sangat positif dan bikin semangat," tambahnya.
Kedatangan para cyclist dari Lampung, Kalimantan, hingga Sulawesi itu membuktikan bahwa KAI Ngebel KOM 2026 tidak sekadar menjadi panggung adu ketahanan fisik, melainkan juga wadah silaturahmi komunitas pesepeda seluruh Nusantara. (Mainsepeda)