Para Cyclist Mancanegara Terjun di KAI Ngebel KOM 2026, Tertarik Lanskap Madiun-Ponorogo

EVENT sepeda tanjakan KAI Ngebel KOM 2026 tak sekadar menjadi ajang adu kecepatan bagi cyclist lokal. Tantangan rute baru yang melintasi kawasan Madiun hingga kawasan wisata Telaga Ngebel, Ponorogo, Jawa Timur itu juga sukses menyedot perhatian deretan pembalap mancanegara.

Ikon baru King of the Mountain (KOM) yang digagas Mainsepeda itu menawarkan kombinasi unik. Yakni tanjakan tajam yang menguji fisik, serta lanskap panorama yang memikat. Bagi para pegowes ekspatriat yang bermukim di Indonesia, event itu terlalu menarik untuk dilewatkan.

Bagi Emmanuel Galbourdin, cyclist asal Prancis yang telah enam tahun bermukim di Jakarta, KAI Ngebel KOM 2026 adalah panggung lanjutan setelah menuntaskan Bromo KOM 2026 pada Juni lalu. Pria yang tumbuh dekat dengan lintasan legendaris Tour de France di Bergerac itu mengaku tertantang untuk menyelesaikan seluruh seri tantangan KOM di Indonesia.

"Ini kali pertama event KOM diselenggarakan di rute ini. Setelah berkompetisi di Bromo tahun ini, saya ingin melengkapi seluruh tantangan KOM," ujar Emmanuel.

Baca Juga: 7 Asupan Carbo Loading Khas Madiun yang Wajib Dicoba buat Peserta KAI Ngebel KOM 2026

Baca Juga: 5 Destinasi Wisata Madiun Rekomendasi Cyclist Lokal, Keliling Dunia Sampai Kulineran 

Emmanuel membagikan pengalamannya membandingkan dinamika bersepeda di Eropa dan Indonesia. Terbiasa melahap tanjakan Sentul, Hambalang, hingga Puncak Pass di akhir pekan, ia melihat karakter bersepeda di Indonesia memiliki keunikan tersendiri.

"Atmosfer di Jakarta sangat berbeda dengan Prancis. Angin lebih sedikit, tidak terlalu berbukit, tetapi lalu lintasnya jauh lebih padat!," ucapnya antusias. "Namun, saya sangat menyukai semangat 'gowes' dan budaya coffee ride di sini," tambahnya.

Ia pun berencana mengalokasikan waktu pasca-balapan untuk mengeksplorasi destinasi wisata di Madiun dan panorama Telaga Ngebel.

Senada dengan Emmanuel, Liyuan Fu, cyclist asal Tiongkok di kategori usia Women 30-34, menilai lanskap tropis Indonesia memberikan sensasi berkendara yang kontras dibanding kota asalnya, Beijing. Bagi perempuan yang akrab disapa Julia itu, keterlibatannya di KAI Ngebel KOM 2026 dipicu oleh rekomendasi rekan-rekan komunitasnya.

Baca Juga: Strategi B2C Magetan Menaklukkan KAI Ngebel KOM 2026: Cukup Gowes Happy

Baca Juga: Rela Repot Demi Seru, 20 Cyclist Matador Siap Invasi KAI Ngebel KOM 2026

"Pengalaman bersepeda di Indonesia jauh lebih menantang. Lanskap pegunungan yang curam dan tidak terduga, suhu lebih tinggi, serta lalu lintas yang dinamis," urainya. "Namun, tempat ini sangat menyambut siapa saja yang mencintai olahraga ini tanpa memandang asal usul," lanjut Julia.

Julia tergabung dalam grup ekspatriat RPS (Relaxed Pace Sports) di Jakarta. Dia menyatakan terkesan dengan sifat inklusif ekosistem sepeda di tanah air. Kehadirannya di Jawa Timur sekaligus menjadi ajang perdana baginya menaklukkan tanjakan panjang di wilayah tersebut.

"Budaya sepeda di Indonesia sangat berbasis komunitas, tetapi sama sekali tidak eksklusif," ungkapnya. "Saya bisa bergabung dengan peleton lain seperti Castelli atau MoF dengan hangat. Inklusivitas ini mencerminkan keramahtamahan budaya Indonesia secara umum," papar Julia.

Target utamanya di KAI Ngebel KOM sederhana namun krusial. Safe finish dan menikmati tanjakan perdana di Jawa Timur.

Sementara itu, Sabine Wilden, cyclist asal Belanda yang bersaing di kategori usia Women 35-39, melihat ajang Mainsepeda selalu memiliki standar organisasi yang mumpuni. Sehingga sayang untuk dilewatkan. Berbekal pengalaman manis di Bromo KOM, Sabine langsung mendaftarkan diri saat KAI Ngebel KOM 2026 diumumkan.

Baca Juga: Pengambilan Race Pack Dipusatkan di Kantor KAI DAOP 7 Madiun, Akses Mudah

Baca Juga: Official Jersey KAI Ngebel KOM 2026 Dirilis, Terinspirasi Legenda Naga Baru Klinting

"Penyelenggaraan event Mainsepeda selalu bagus dan terorganisasi dengan baik! Setelah Bromo, saya ingin mencoba rute KOM lainnya dan bertemu kembali dengan para pecinta sepeda," puji Sabine.

Sabine menggarisbawahi perbedaan mendasar antara kultur olahraga sepeda di benua Eropa dan Indonesia. Di tanah air, sepeda telah bertransformasi menjadi sarana bersosialisasi yang erat.

"Di Belanda, bersepeda mayoritas hanya aktivitas akhir pekan atau latihan indoor karena faktor cuaca dan kesibukan," jelasnya. "Di Indonesia, road cycling sudah menjadi gaya hidup. Komunitasnya sangat dekat, menyatukan orang dari berbagai latar belakang, dan kapan saja selalu ada teman untuk riding," ungkap Sabine.

KAI Ngebel KOM 2026 akan digelar pada Sabtu, 1 Agustus 2026. Event itu baru kali pertama digelar oleh Mainsepeda. KAI Ngebel KOM 2026 akan start dari Kantor PT KAI Daerah Operasional (DAOP) 7 Madiun dan finish di puncak Telaga Ngebel di Kabupaten Ponorogo. Total jaraknya sekitar 75,5 Km dengan elevation gain 830 meter. (Mainsepeda)


COMMENTS