Rela Repot Demi Seru, 20 Cyclist Matador Siap Invasi KAI Ngebel KOM 2026

GELARAN KAI Ngebel KOM 2026 menjadi magnet bagi berbagai komunitas pesepeda di tanah air. Salah satu yang bersiap meramaikan seri event terbaru Mainsepeda itu adalah kelompok pesepeda asal Tangerang yang namanya garang: Matador. Alias petarung dalam adu banteng.

Tidak tanggung-tanggung, Matador mengirimkan 20 personelnya untuk langsung menuju ke Madiun pada awal Agustus mendatang. Bagi mereka, rute baru menuju Telaga Ngebel di Ponorogo adalah kombinasi sempurna antara rasa penasaran dan kesempatan untuk menikmati liburan singkat.

"Ngebel KOM ini kan memang event baru di Mainsepeda. Jadi kami penasaran untuk ikut," ungkap W Teguh Triyono, perwakilan Matador. "Di samping lihat elevation-nya enggak setinggi Dholo (Kediri) atau Ijen (Banyuwangi) yang sebelumnya, jadi ada beberapa teman yang jarang main tanjakan ikut penasaran untuk mencoba event ini," paparnya.

Meski elevasi Telaga Ngebel dianggap tidak sekejam event KOM Mainsepeda lain, persiapan matang tetap dilakukan. Dalam dua bulan terakhir, Sentul—khususnya jalur menanjak ikonik menuju KM 0—menjadi kawah candradimuka bagi 20 cyclist Matador untuk melatih otot kaki dan adaptasi jantung. Manajemen nafas dan kardio.

Baca Juga: Belum Puas di Bromo KOM, 3 Cyclist Bidik Penebusan di Ngebel KOM 2026

Baca Juga: Para Debutan Siap Terjun di Ngebel KOM 2026, View Menawan Hingga Terpapar Video Teman

Agenda Matador saat mengunjungi Bali beberapa waktu lalu.

Bicara soal target, Matador membaginya dalam dua kubu. Untuk kategori prestasi, mereka mengandalkan salah seorang anggotanya yang dikenal tangguh di rute menanjak. "Dalam Matador ada termasuk Om Sulung, tentunya target beliau di P1 (Podium 1)," tegas Teguh.

Sementara itu, bagi belasan anggota lainnya yang murni goweser hobi, target utamanya adalah finis aman sebelum batas waktu (under Cut off Time). Menariknya, persaingan justru akan lebih panas di level internal. Mereka mengincar gengsi mencatatkan waktu terbaik untuk dipamerkan di papan peringkat (leaderboard) aplikasi Strava sesama anggota grup.

Terlepas dari target tersebut, nama Matador lumayan mencuri perharian. Mungkin terdengar garang. Namun, jangan salah, singkatan aslinya justru mengundang senyum. Matador adalah kepanjangan dari Manggih Tanjakan Dorong, yang berarti (kalau) Ketemu Tanjakan, (sepeda) Didorong.

Kelompok pesepeda itu awalnya terbentuk secara tidak sengaja pasca-acara gowes bareng (gobar) menanjak ke daerah Pabangbon, Bogor. Saat itu, beberapa anggota kedapatan harus turun dari sadel dan mendorong sepeda mereka karena tidak kuat menanjak. Dari sanalah ikatan emosional itu lahir.

Baca Juga: Kelar Bromo KOM, Bunda Fey Langsung Tatap Bentang Jawa dan Ngebel KOM 2026

Baca Juga: Cerita Pulang Kampung Setelah 11 Tahun, Kawindra Kini Fokus Ngebel KOM 2026 

Seiring berjalan waktu, grup obrolan WhatsApp (WAG) pun terbentuk. Dan kini, anggota Matador telah membengkak hingga menampung 75 orang. Rutinitas mereka terbagi rapi di dua episentrum gowes sub-urban: kawasan Mozia di BSD (Tangerang) dan Pantai Indah Kapuk (PIK) di Jakarta Utara.

Setiap Selasa dan Kamis pagi menjadi menu gowes rutin, Sabtu dialokasikan untuk rute jauh (long ride), dan Minggu ditutup dengan bersepeda santai (recovery ride) di Mozia. Anggotanya pun tidak eksklusif pengguna road bike, ada pula penunggang MTB (sepeda gunung).

Meskipun kompak gowes bareng, Teguh menekankan bahwa Matador bukanlah sebuah klub atau komunitas resmi dengan struktur organisasi yang kaku. Tidak ada ketua umum, tidak ada iuran wajib, dan tidak ada "kepala suku".

Gobar rutin Matador di Mozia Loop setiap Kamis.

Matador adalah ruang cair bagi para pesepeda yang rela repot meluangkan waktu demi membuat setiap kayuhan menjadi lebih berkesan. Berbagai agenda besar pun kerap lahir dari obrolan santai di grup, mulai dari rute BSD-Anyer, Purwakarta-Tangkuban Perahu, eksplorasi Gunung Halimun, hingga agenda gowes dua hari di Bali.

"Karena buat kami, gowes bukan cuma soal siapa paling kuat. Tapi soal teman, gibah panjang di jalan, ngopi bareng, ketawa bareng, dan pulang bawa rasa penasaran kapan gowes lagi," tutur Teguh.

Ngebel KOM 2026 diselenggarakan pada 1 Agustus 2026. Event itu akan mengeksplorasi tanjakan menuju puncak Telaga Ngebel di Ponorogo yang sangat indah. Pendaftaran event tersebut sudah dibuka, dan proses registrasi dilakukan melalui Mainsepeda App. (Mainsepeda)


COMMENTS