Eddie Dunbar (Pinarello Q36.5) mencatat kemenangan emosional pada etape ke-19 Vuelta a España, Jumat (11/9). Ia tampil luar biasa di tanjakan Peñas Blancas dan merebut kemenangan setelah mengejar Santiago Buitrago (Bahrain Victorious) pada kilometer terakhir.
Dunbar menjadi pembalap tercepat setelah mampu membalikkan keadaan dalam pertarungan sengit menuju garis finis. Kemenangan itu menjadi yang ketiga bagi pembalap asal Irlandia tersebut di Vuelta a España, sekaligus mengakhiri penantian selama empat tahun untuk kembali merasakan kemenangan.
Keberhasilan Dunbar juga memiliki arti penting bagi timnya. Pinarello Q36.5 akhirnya meraih kemenangan etape pertama di ajang Grand Tour. Ini sekaligus menjadi kemenangan kedua mereka di balapan level WorldTour.
Prestasi tim semakin lengkap setelah Tom Gloag finis di posisi ketiga. Bagi Gloag, hasil tersebut menjadi pencapaian terbaiknya dalam balapan WorldTour.
Drama kemenangan Dunbar terjadi pada tanjakan terakhir. Ia berada dalam rombongan 20 pembalap yang terbentuk ketika balapan masih menyisakan sekitar 111 kilometer. Perlahan, kelompok breakaway tersebut menyusut hingga hanya menyisakan empat pembalap di tanjakan terakhir, yakni Dunbar, Buitrago, Gloag, dan Urko Berrade (Kern Pharma).
Buitrago kemudian melancarkan serangan ketika jarak menuju finis tinggal sekitar 1,8 kilometer. Pembalap Kolombia itu sempat membuka jarak, tetapi Dunbar tidak panik.
Dunbar secara bertahap memangkas selisih dan berhasil menyusul Buitrago ketika balapan memasuki sekitar 700 meter terakhir. Tanjakan dengan kemiringan dua digit di kilometer terakhir membuat pertarungan semakin berat, tetapi Dunbar mampu mengatur tenaga dengan sempurna hingga akhirnya melaju sendirian menuju kemenangan.
"Ini luar biasa. Saya benar-benar tidak menyangka hari ini, saya bahkan mengatakan di radio tim setelah sekitar 50 atau 60 km bahwa hari ini bukan hari saya, saya merasa tidak enak badan," ujar Dunbar seusai etape.
Dunbar mengaku pada awalnya merasa tidak dalam kondisi terbaik. Namun, setelah masuk ke kelompok breakaway, kondisinya perlahan membaik. Kehadiran dua rekan setimnya di breakaway juga membuatnya bisa mengatur energi dengan lebih baik.
“Ini memberi saya sedikit waktu untuk bersantai jika terjadi sesuatu di flat atau di turunan, ada seseorang di sana,” katanya.
Kemenangan tersebut terasa semakin istimewa karena Dunbar baru saja melewati masa sulit dalam kariernya. Ia sempat tiga bulan tidak mengendarai sepeda setelah mengalami kecelakaan.
Situasi itu bahkan membuat Dunbar sempat meragukan apakah dirinya bisa kembali bersaing untuk memenangkan etape Grand Tour. Karena itu, kemenangan di Peñas Blancas menjadi jawaban atas proses panjang yang telah dilewatinya.
“Tahun ini saya sempat absen selama tiga bulan dan sama sekali tidak bersepeda setelah mengalami kecelakaan parah; saya benar-benar tidak menyangka akan berada di sini, bahkan bersaing memperebutkan kemenangan etape. Saya sungguh tidak percaya,” ujarnya.
Sementara itu, persaingan klasemen umum (GC) Vuelta a España juga tetap menarik. Enric Mas (Movistar) berhasil mempertahankan jersey merah setelah finis bersama kelompok pembalap favorit.
Primoz Roglic (Red Bull-Bora-Hansgrohe) sempat mencoba mengguncang persaingan. Namun, serangan pembalap Slovenia tersebut tidak cukup untuk melepaskan diri dari Mas.
Richard Carapaz juga sempat berusaha membuat perbedaan waktu, tetapi hasilnya sama. Roglic, Carapaz, Mas, Oscar Onley, dan Felix Gall akhirnya melintasi garis finis bersama.
Hasil tersebut membuat Mas tetap memimpin klasemen umum dengan keunggulan 1 menit 37 detik atas Roglic. Dengan hanya tersisa dua hari menuju akhir balapan, posisi Mas memang cukup kuat, tetapi persaingan belum sepenuhnya berakhir.
Etape ke-20 pada Sabtu (12/9) akan menjadi ujian terbesar berikutnya. Rute tersebut memiliki lima tanjakan, termasuk tiga tanjakan kategori satu, satu tanjakan hors catégorie, dan satu tanjakan kategori tiga. Karakter etape yang berat membuka peluang terjadinya perubahan dalam klasemen umum (GC). (mainsepeda)