SABTU pagi, 1 Agustus 2026, pukul 5 pagi. Ruas jalan di seberang Stasiun Madiun sudah penuh orang. Ratusan pesepeda bersiap menaklukkan rute menanjak menuju Telaga Ngebel di KAI Ngebel KOM 2026. Di antara mereka, sosok Ali Afandi tidak tampil mencolok.
Ia adalah Vice President KAI Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun, tuan rumah KAI Ngebel KOM 2026. Namun, alih-alih berada di panggung untuk seremoni flag off, ia malah berada di jajaran para peserta. Ali tidak mengenakan baju road captain. Tapi memilih mengenakan jersey merah, untuk kelompok usia 50-54.
Bagi Ali, keterlibatannya dalam ajang rintisan ini bukan formalitas pejabat publik. Ia memadukan dedikasi pekerjaan operasional perkeretaapian dengan passion mendalam di atas pedal sepeda. Buktinya, ia sanggup menyelesaikan tanjakan ke puncak telaga Ngebel hanya dalam 1 jam 6 menit saja.
"Saya awalnya menargetkan bisa finis 1 jam 15 menit. Dan ternyata saya mampu menyelesaikan KAI Ngebel KOM di waktu 1 jam 6 menit," kata Ali dengan gembira, ketika ditemui di race village KAI Ngebel KOM 2026, di kawasan Telaga Ngebel, Ponorogo. "Tahun depan, target saya di bawah 1 jam," tegasnya yakin.
Baca Juga: KAI Ngebel KOM Ramah Buat Pemula, Peserta Langsung Nge-boom
Baca Juga: IRCC Terjunkan 12 Cyclist di KAI Ngebel KOM 2026, Manfaatkan Gerbong Khusus Sepeda
Ali sudah gemar bersepeda sedari lama. Perjalanannya mengayuh pedal dimulai sejak 2012 dengan sepeda mountain bike (MTB). Tuntutan mobilitas pekerjaan sempat mengalihkannya ke sepeda lipat (seli). Sebelum akhirnya mantap menjajahi road bike pada 2017.

Ali Afandi (jersey merah) memulai KAI Ngebel KOM 2026 di samping Azrul Ananda dan para road captain dari depan Kantor KAI DAOP 7 Madiun, 1 Agustus 2026.
Sejak saat itu, deretan ajang bergengsi besutan Mainsepeda konsisten ia lahap: tiga kali Bromo KOM, dua kali Dholo KOM, dan terakhir mengikuti Ngebel KOM kali ini.
"Pekerjaan di bagian operasional menuntut fisik dan psikis yang selalu prima, karena membutuhkan konsentrasi tinggi," ungkap Ali.
"Bersepeda sebelum jam kerja membuat badan lebih fresh, tidak lelah sampai malam. Tidur jadi lebih nyenyak," jelasnya. "Selain itu, gowes jadi cara saya menikmati alam yang asri dan melepas penat dari rutinitas perkotaan," tutur pria yang sehari-hari berkantor di Surabaya itu.
Di luar kebugaran fisik, aspek humanis dunia sepeda menjadi alasan kuat Ali bertahan selama lebih dari sedekade. Menurutnya, nilai solidaritas antarpesepeda sangat kental terasa di jalanan.
Baca Juga: Cerita Peserta KAI Ngebel KOM 2026 ke Madiun Naik Kereta, Gerbong Khusus Sepeda Praktis dan Hemat
Baca Juga: Rela Repot Demi Seru, 20 Anggota Matador Siap Serbu KAI Ngebel KOM 2026
"Ketika berjumpa komunitas lain, kita saling sapa. Jika ada teman yang mengalami kendala teknis saat gowes bareng, kita tunggu dan bantu sampai selesai. Kebersamaannya sangat tinggi," tambahnya.

Ali Afandi ketika melintasi kawasan Pagotan, Kabupaten Ponorogo, pada KAI Ngebel KOM 2026, 1 Agustus 2026.
Kecintaan Ali pada olahraga gowes juga mewujud dalam penguatan komunitas internal perkeretaapian. Ia merupakan salah seorang inisiator berdirinya Indonesian Railway Cycling Club (IRCC) pada 2017. Memasuki usia 9 tahun, IRCC berkembang menjadi wadah aktif bagi para pekerja KAI yang gemar bersepeda.
Penyelenggaraan KAI Ngebel KOM 2026 menandai tonggak sejarah baru. Ini adalah kali pertama ajang KOM dihelat di Kota Madiun dengan titik start tepat di kantor KAI DAOP 7 Madiun. Tepat di seberang Stasiun Madiun. Momentum itu dimanfaatkan KAI untuk menghadirkan terobosan layanan moda transportasi ramah pesepeda.
KAI bekerjasama dengan KAI Logistik menyediakan gerbong khusus barang (baggage car) untuk mengangkut sepeda para peserta. Sementara penumpangnya berada di kereta penumpang yang sama. Skema itu telah diuji coba sejak keberangkatan dari Stasiun Pasar Senen Jakarta menuju Madiun.
"Ini memberikan kemudahan luar biasa bagi peserta sekaligus menjadi bentuk promosi baru bagi KAI," jelas Ali. "Kami akan terus mengevaluasi dan mempermudah layanan ini agar dapat berlanjut di berbagai event berikutnya," paparnya.
Baca Juga: Strategi B2C Magetan Taklukkan KAI Ngebel KOM 2026: Cukup Gowes Happy
Baca Juga: Jajal Rute Duluan, Peserta KAI Ngebel KOM 2026 Mantapkan Persiapan Jelang Race Day

Bagasi khusus sepeda yang diterapkan PT KAI bekerja sama dengan KAI Logistik selama KAI Ngebel KOM 2026. Fasilitas itu diharapkan berlanjut di berbagai event selanjutnya.
Ali mengisyaratkan bahwa konsep serupa akan diboyong ke event Mainsepeda lainnya. Seperti Nggravel Glenmore pada Oktober mendatang, dan West Java Journey (WJJ) di Cirebon, akhir tahun ini. Ia optimistis model kemitraan transportasi terpadu ini bisa dikembangkan menjadi agenda tahunan bersama Mainsepeda.
Antusiasme publik terhadap KAI Ngebel KOM 2026 meloncat jauh dari proyeksi awal. Kuota yang semula diperkirakan hanya menyerap 200 hingga 300 peserta melunjak hingga menembus 500 pendaftar, meninggalkan ratusan calon peserta lain yang tak kebagian tiket.
Berbeda dengan tantangan ekstrem Bromo KOM yang dijuluki "Naik Haji-nya para pesepeda", Ali menggambarkan Ngebel KOM sebagai "pesta kegembiraan". Tingkat finisher mencapai 100 persen. Artinya, semua peserta berhasil berjuang hingga garis akhir di kawasan wisata Telaga Ngebel yang hijau dan asri.
"Saya berharap di tahun-tahun mendatang KAI bisa terus berkolaborasi dengan Mainsepeda untuk event-event selanjutnya," tutupnya. (Mainsepeda)