HARAPAN founder Mainsepeda Azrul Ananda untuk mengekspos pembalap-pembalap muda di Ngebel KOM 2026 terwujud instan. Baru kali pertama dibuka di event Mainsepeda, Kategori Age 21 and Under langsung memunculkan nama-nama baru. Dan semuanya sangat muda.
"Ini sih bukan kategori Men dan Women. Boys and Girls nih," kata Azrul Ananda, ketika menyambut para pemenang kategori 21 and Under di podium, tepat di tepi Telaga Ngebel, Kabupaten Ponorogo. "Setuju nggak kalau kita sebut Prince and Princess of Mountain aja?," lanjutnya, masih takjub melihat para cyclist belia itu.
Gelar King of the Mountain (atau Prince of the Mountain, kalau kata Azrul), direbut oleh Mochamad Fariz Faudis. Pembalap Dreezel Cycling Team asal Bandung itu baru berusia 18 tahun. Sementara itu, Princess of the Mountain menjadi milik Kamila Durri, cyclist 19 tahun dari Komunitas Semesta Pekalongan.
Fariz Menempel Peloton Men Elite
Fariz menjadi yang tercepat setelah menuntaskan tanjakan Ngebel di depan rekan setimnya, Luthfi Al Waris, yang finis di posisi kedua. Sementara Axel Andreas dari Ubung Academy melengkapi podium di peringkat ketiga.
Baca Juga: Women Elite Ngebel KOM 2026: Maghfirotika Ratu Tanjakan, Crismonita Kram Jelang Finis
Baca Juga: Kategori Men Elite KAI Ngebel KOM Superseru, Imam Arifin Kalahkan Noufal Setengah Roda!
"Baru kali ini ikut event Mainsepeda. Rutenya sangat menantang," kata Fariz. "Tapi suasananya enak, tidak terlalu panas. Pokoknya terbaik," lanjut cowok kelahiran 25 April 2008 itu, lantas tertawa.

Mochamad Fariz Faudis menjadi Prince of the Mountain setelah mengikuti rombongan Men Elite sejak start hingga finis.
Fariz menerapkan strategi keren untuk demi memenangi KAI Ngebel KOM 2026. "Saya ngikutin rombongan Men Elite sejak start," ungkapnya.
Ya, kategori Men 21 and Under memang dilepas bareng Men Elite setelah pit stop di UIN Kiai Ageng M Besari di Kecamatan Jenangan, Ponorogo. "Karena enggak dijeda kan, antara Men Elite dengan kategori saya. Jadinya saya langsung ngikut mereka," ungkapnya.
Saking semangatnya mengikuti rombongan Men Elite, Fariz sama sekali tidak sempat saling disalip pembalap lain. Strategi tersebut membantunya menjaga tempo hingga mampu mempertahankan posisi terdepan di akhir balapan.
Kemenangan Fariz bukan datang tanpa persiapan. Kecintaannya terhadap lintasan menanjak telah tumbuh sejak kecil. Sebelum menjadi atlet, ia sudah terbiasa bersepeda bersama sang ayah di kawasan Bandung yang dikenal memiliki banyak rute berbukit.
"Kalau saya memang lebih suka event KOM. Dari dulu sebelum jadi atlet sudah sering latihan nanjak sama ayah," tuturnya.
Baca Juga: Cyclist 21 and Under Semangat Terjun di KAI Ngebel KOM 2026, Siap Berebut Podium
Baca Juga: KAI Ngebel KOM 2026 Ramah Buat Pemula, Peserta Langsung Nge-boom

M Fariz Faudis (tengah) berfoto bersama Azrul Ananda (kiri) dan perwakilan sponsor di podium Ngebel KOM 2026 tepi Telaga Ngebel, Ponorogo.
Keseriusannya menekuni balap sepeda dimulai saat duduk di kelas IX SMP. Kini ia menjalani latihan hampir setiap hari dengan libur hanya pada Senin. Untuk latihan endurance, Fariz biasa menempuh jarak hingga sekitar 150 kilometer dalam sehari.
Setelah menjuarai KAI Ngebel KOM, Fariz mengaku ingin terus meningkatkan prestasi. Target terdekatnya adalah memperkuat tim Cimahi pada ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov).
Kamila Seminggu "Pelatnas" di Ngebel
Di sektor Women Age 21 and Under, Kamila Durri juga harus melewati persaingan ketat sebelum memastikan gelar juara. Pembalap asal Pekalongan itu finis terdepan, mengungguli Nadira Dzakiyya Oktavie dari Kabupaten Jombang di posisi kedua, dan Janeeta Najla dari Sulawesi Tengah yang berada di peringkat ketiga.
Bagi Kamila, kemenangan di KAI Ngebel KOM 2026 tidak diraih dengan mudah. Dia mengaku harus menghadapi titik sulit ketika balapan menyisakan beberapa kilometer menuju finis. Saat itu, kondisi kakinya mulai terasa berat akibat panjangnya tanjakan menuju Telaga Ngebel.
Baca Juga: Jajal Rute Duluan, Peserta Ngebel KOM 2026 Mantapkan Persiapan Jelang Race Day
Baca Juga: Para Cyclist Mancanegara Serbu Ngebel KOM 2026, Tertarik Lanskap Madiun-Ponorogo
"Pas tinggal tiga atau empat kilometer, kaki sudah tidak enak buat mengayuh. Sudah terasa pegal-pegal," ujar Kamila. Untuk mengatasi kondisi tersebut, pembalap dari Komunitas Semesta Pekalongan itu memilih menurunkan tempo.

Kamila Durri (tiga dari kanan) ketika menerima jersey dan trofi Queen of the Mountain KAI Ngebel KOM 2026, 1 Agustus 2026.
"Gear diturunkan dulu, jangan langsung dikasih power. Kakinya dikasih istirahat dulu," ceritanya.
Menurut Kamila, strategi menjaga tenaga menjadi kunci menghadapi rute tanjakan. Dia tidak langsung memaksakan diri sejak awal lomba, melainkan menunggu momen yang tepat untuk melakukan serangan. "Ketika tinggal beberapa kilometer baru fight untuk mendapatkan podium," tuturnya.
Prestasi di KAI Ngebel KOM 2026 adalah hasil dari perjalanan panjang Kamila di dunia balap sepeda. Dia mulai mengenal sepeda sejak kelas 4 SD. Sang ayah yang mengenalkannya pada olahraga tersebut. "Karena ayah juga sudah lama suka sepedaan," tutur gadis yang baru lulus SMA itu.
Pada awalnya, Kamila tidak langsung menggunakan sepeda balap. Ia mengawali hobi dengan mancal BMX. Sebelum akhirnya beralih ke road bike dan menjalani latihan yang lebih serius.
Perkembangan Kamila semakin meningkat ketika mulai mendapat arahan dari Ferinanto, legenda balap sepeda asal Madiun. Tidak tanggung-tanggung, peraih emas SEA Games 1997 hingga 2005 itu didatangkan ke Pekalongan oleh komunitasnya.

Kamila Durri melakukan persiapan khusus sebelum terjun di KAI Ngebel KOM 2026 dengan mengikuti pemusatan latihan selama seminggu di Madiun.
Sejak itu, latihan yang sebelumnya belum teratur berubah menjadi lebih intensif. Terutama saat dia mulai mempersiapkan diri menghadapi ajang Porprov Jateng. "Pas ikut Coach Feri, latihannya mulai kenceng. Hampir setiap hari selalu di-push, selalu diarahkan supaya berkembang," ungkap Kamila.
Bahkan, persiapan menuju KAI Ngebel KOM juga dilakukan secara khusus. Dia datang ke Madiun seminggu sebelum event. Setiba di Kota Gadis, Kamila mulai berkenalan karakter rute Ngebel dengan menjalani latihan rutin di tanjakan tersebut beberapa kali.
"Kali dateng ke sini (Madiun) hari Sabtu, Minggu-nya langsung ke Ngebel. Mulai dari situ, selama seinggu kami bisa tiga kali ke Ngebel,” ungkapnya membuktikan latihan yang sangat intensif.
Kini, gelar juara Women Under-21 KAI Ngebel KOM 2026 jadi bukti kerja keras serta menjadi tambahan pengalaman bagi Kamila yang masih berusia muda. Dia berharap bisa terus berkembang dan menghadapi tantangan-tantangan berikutnya di dunia balap sepeda. (Mainsepeda)