Ayip Rizal dan Dian Erliyani Raih Lanterne Rouge KAI Ngebel KOM 2026: Tetap Bangga!

MANTAN kapten timnas voli Indonesia Ayip Rizal menjadi finisher terakhir KAI Ngebel KOM 2026, yang digelar Sabtu, 1 Agustus 2026 lalu. Karena prestasi tersebut, Ayip dianugerahi jersey Laterne Rouge. Jersey merah khas yang melambangkan kerja keras, resiliens, dan semangat pantang menyerah.

Ini merupakan debut Ayip mengikuti event balap sepeda. Pria yang kini menjabat Kasi Fasmat Subdit Regident Ditlantas Polda Jatim itu finis di peringkat 350 dengan catatan waktu 2 jam 15 menit 48 detik. Ia tiba di garis finis pukul 11.02 WIB di PLTA Ngebel, Ponorogo. Meski paling belakang, tetap under Cut Off Time (COT).

"Saya pernah beberapa kali mendaftar event sepeda, tapi sering tidak jadi berangkat karena ada kesibukan lain. Baru kali ini saya benar-benar ikut sampai finis," ungkap Ayip kepada Mainsepeda. "Ya, meskipun di posisi terakhir, sih," lanjutnya.

Bagi pencinta voli Tanah Air, nama Ayip Rizal jelas sangat familiar. Ia bisa dibilang sebagai salah seorang legenda olahraga tersebut. Ia pernah menjadi pemain andalan tim Surabaya Samator dan Timnas Indonesia. Ia turut mengantar timnas merebut dua emas SEA Games secara beruntun, yakni pada 2007 dan 2009.

Di level klub, prestasi Ayip Rizal juga tidak kalah cemerlang. Bersama Samator, ia berhasil meraih dua gelar juara Proliga. Pokoknya, di akhir dekade 2000-an itu, Ayip dan Samator tidak terkalahkan. Belakangan ia terjun menjadi pelatih Jakarta Bhayangkara di Proliga 2024. Eh, tim itu dibawanya jadi juara juga!

Baca Juga: Baru 13 Tahun, Nadira Jadi Peraih Podium Termuda KAI Ngebel KOM 2026

Baca Juga: Muda Berbahaya! Inilah Prince dan Princess of the Mountain KAI Ngebel KOM 2026

Sebagai mantan atlet voli, Ayip merasakan perbedaan besar antara voli dan sepeda. Terutama dari segi tuntutan fisik. Menurutnya, voli menuntut tenaga besar dalam waktu singkat, dengan intensitas tinggi yang harus dikeluarkan secara cepat.


Ayip Rizal menerima jersey Lanterne Rouge KAI Ngebel KOM 2026 pada 1 Agustus 2026, sebagai simbol keteguhan mental dan semangat pantang menyerah.

Sementara itu, bersepeda lebih menekankan pada daya tahan (endurance). Di mana tenaga harus dijaga secara konsisten sepanjang lintasan. "Mental juga beda. Voli ada waktu untuk istirahat, sepeda tidak. Semakin lama semakin terik, semakin lelah, semakin emosi," kelakarnya, lantas tertawa.

Di tengah perjalanan Ngebel KOM 2026, ada banyak godaan dari luar dan dalam dirinya untuk menyerah atau mengakhiri balapan (Did Not Finish). Salah satunya, cuaca. Sepanjang rute, ia merasakan panas terik. Itu membuat tenaganya cepat terkuras.

Alhasil, ia sempat khawatir tidak akan lolos CoT pada pukul 11.30 WIB. Ia sempat bertanya kepada panitia, apakah dengan sisa waktu yang ada masih bisa finis under CoT. Beruntung, panitia terus memberi semangat bahwa dirinya pasti bisa menyelesaikan balapan.

"Panitia luar biasa, mereka profesional, selalu menyemangati, bahkan siap membantu kalau ada kendala. Itu membuat saya merasa dihargai meskipun finis terakhir," kata pria asal Banjarmasin tersebut.

Baca Juga: Women Elite KAI Ngebel KOM 2026: Maghfirotika Ratu Tanjakan, Crismonita Kram Jelang Finis

Baca Juga: Kategori Men Elite KAI Ngebel KOM 2026 Supeseru, Imam Kalahkan Noufal Setengah Roda!

Dengan segala tantangan yang dihadapi, Ayip Rizal menyebut bahwa finis terakhir bukanlah sebuah kegagalan. Jersey Lanterne Rouge yang ia kenakan menjadi simbol keteguhan mental dan semangat pantang menyerah.

"Saya tetap bangga finis terakhir. Minimal saya jadi pelaku sejarah di Ngebel KOM," ucapnya, kembali disambung tawa. "Walaupun tidak puas sepenuhnya, saya sudah puas dengan hasil ini karena baru pertama kali ikut," imbuh Ayip.


Ayip Rizal tetap tersenyum ketika memasuki garis finis KAI Ngebel KOM 2026 di kawasan PLTA Ngebel, Kabupaten Ponorogo, 1 Agustus 2026.

Perwira polisi berpangkat Kompol itu berpesan agar pesepeda pemula tidak boleh takut gagal. Sebab, kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Tapi cambuk untuk menakar kemampuan tubuh.

"Jangan malu jadi yang terakhir, karena itu pembuktian bahwa kita tidak menyerah. Untuk mencapai puncak, kita harus mulai dari bawah. Yang penting jangan berhenti, karena kalau berhenti kita tidak akan pernah sampai," ujarnya.

Meski finis terakhir di ajang KAI Ngebel KOM 2026, semangat Ayip Rizal tidak pernah surut. Justru dari pengalaman itu, ia menyiapkan strategi baru untuk memperbaiki pencapaiannya di masa depan. Apa itu? "Latihan lagi. Sama sewa trainer," katanya tegas.

Baca Juga: KAI Ngebel KOM 2026 Ramah Buat Pemula, Peserta Langsung Nge-boom!

Baca Juga: IRCC Terjunkan 12 Member di KAI Ngebel KOM 2026, Manfaatkan Gerbong Khusus Sepeda

Rupanya, ia ingin memastikan fisiknya lebih siap menghadapi tantangan endurance di berbagai event Mainsepeda. "Target saya ke depan minimal bisa naik peringkat, jangan di 350 lagi, tapi bisa masuk 300 besar. Saya pasti akan ikut lagi event berikutnya," ia memastikan.


Dian Erliyani tetap bangga menjadi finisher terakhir KAI Ngebel KOM 2026. Dia sempat kram di 3km terakhir, tapi menolak dievakuasi dan memilih merebut Lanterne Rouge.

Di sektor putri, cerita serupa datang dari Dian Erliyani, peserta kategori Women 45 and Up. Dian juga menjadi finisher terakhir dan berhak atas jersey Lanterne Rouge. Dian tampil sebagai debutan di event KOM terbaru Mainsepeda itu. Dia bergabung bersama 11 pesepeda lain dari Kementerian Perhubungan.

Bagi Dian, tantangan terbesar datang saat jarak tinggal 3 km menuju garis finis. Dian sempat merasakan kram, bahkan ditawari untuk diangkut tim medis. Namun dia menolak, memilih melanjutkan balapan. ”Sayang kan, sudah sejauh itu tidak berarti kalau berhenti. Jadi ngeyel saja sampai finis," ujar perempuan asal Semarang itu. 

Dian menyebut ada banyak pengalaman berkesan selama mengikuti KAI Ngebel KOM. Ia merasakan pemandangan yang asri sepanjang rute. Juga keramahan masyarakat setempat yang rela mengalah setiap kali pesepeda melintas. "Meski pelan-pelan, kami merasa aman di jalan," ungkapnya.

KAI Ngebel KOM 2026 memang menghadirkan tantangan yang cukup seru bagi para cyclist. Tanjakan menuju Telaga Ngebel tidak hanya menguji para debutan. Fisik dan mental para pesepeda berpengalaman pun diuji di sini.

Start di halaman Kantor KAI Daop 7 Madiun, peserta harus menempuh perjalanan sejauh 75,5 km menuju Telaga Ngebel, Kabupaten Ponorogo. Mereka menghadapi segmen KOM Challenge sepanjang 15 kilometer dari kawasan Mlilir hingga garis finis di area PLTA Ngebel. (Mainsepeda)


COMMENTS