Sabtu lalu akhirnya event Antangin Bromo KOM Challenge 2022 sudah kita lewati. Sudah berlalu. Meninggalkan banyak cerita. Paling tidak ada 1000 cerita apabila masing-masing peserta mempunyai satu cerita. Itu jika ada satu. Akan tetapi, saya yakin setiap peserta mempunyai lebih dari satu cerita.

Apa yang Anda noted ketika Bromo KOM? Apa yang berkesan menurut Anda? Menurut saya, ada beberapa. Tapi beberapa versi saya adalah ketika berada di beberapa meter sebelum finis.

Cerita lengkapnya seperti ini.

Seperti yang pembaca mengerti dan ingat, kalau area finis di Antangin Bromo KOM Challenge 2022 itu memiliki gradien yang sangat miring. Paling tidak buat saya, itu sangat miring.

Nah, seperti yang sudah dijelaskan di Podcast Main Sepeda Episode 84 (klik di sini), saya memilih turun dari sepeda. Karena otot saya terlalu sakit untuk gowes di gradien sedemikian miring. Bahasa lainnya, saya memilih untuk berlaku 'sopan' di wilayah orang. Lebih baik nuntun daripada menaiki sepeda.

Yang saya heran, ketika saya turun dari sepeda dan berjalan menaiki tanjakan terakhir itu, di depan saya ada beberapa orang yang juga sedang berlaku sopan. Jadi mereka seperti peleton gitu.

Nah yang menarik adalah, salah satu dari peserta yang jalan kaki itu adalah seorang cyclist yang memaksa berjalan dengan sepatu rusak. Dari mana saya tahu kalau sepatunya rusak? Sebab sepatu itu diikat tali rafia. Ada pula yang menyebutnya rumput Jepang.

Seorang cyclist biasanya akan bete kalau tahu salah satu alatnya rusak. Serta sudah lumrah jika cyclist melepas sepatu saat berjalan. Mereka lebih memilih jalan dengan kaus kaki atau kaki telanjang. Tapi cyclist yang satu ini tetap berusaha finis dengan memakai sepatunya. Sepatu yang rusak.

Ada tiga hal yang saya salut dari cyclist ini, yaitu:

1. Tetap Berusaha 
Walau sepatunya rusak. ia tetap berusaha jalan. Tetap berusaha menuntaskan event ini. Kadang bagi saya atau teman lain, bila ada yang tidak benar dengan sepeda, itu bisa menjadi alasan untuk tidak meneruskan perjalanan.

Walau perasaan Anda pasti berkecamuk antara jengkel dan bingung. Bagaimana nanti sepatunya, bisa diperbaiki atau harus beli baru. Luar biasa.

2. Menemukan Solusi
Sepintas saya lihat, sol sepatu itu lepas dan diikat dengan tali rafia. Dari mana ia mendapatkan tali itu? Kapan mengikatnya? Saya tidak habis pikir. Dengan kondisi yang lelah bisa berusaha jadi MacGyver demi finsih sebelum cut of time. Salut.

3. Finis Sebelum COT 
Yeayyy, bisa finish di Antangin Bromo KOM Challenge 2022. Dulu saat pertama kali nanjak Bromo, saya finis jam 16.00, persis seperti jam tayang Podcast Main Sepeda. Jika ini kalu pertama Anda nanjak di Bromo, lalu finis sebelum COT, berarti persiapan Anda luar biasa. Joss.

Memang saya mendengar ada yang bilang kalau ada peserta yang naik mobil, turun, lalu digowes lagi. Tapi saya tidak melihat sendiri. Menurut saya, jumlah peserta yang seperti itu sudah berkurang jauh. Semoga ke depan kalian bisa meniru cyclist bersepatu rafia tadi. Apa pun halangannya, selalu ada jalan keluarnya. Sekian. (johnny ray)

Podcast Main Sepeda Bareng AZA x Johnny Ray Episode 86


COMMENTS