BROMO: Kalau Manja Jangan Ikut

Harus selalu ada even yang berani mendobrak batas, menantang “kegampangan,” dan mengajak partisipannya untuk terus maju dan menjadi lebih baik. Di dunia cycling, itu yang saya harapkan dari acara tahunan menanjak ke Wonokitri, Bromo.

Sudah lebih dari lima tahun ini saya menekuni cycling. Gara-gara tidak bisa lari jauh dan olahraga lain, dampak dari operasi rekonstruksi lutut kanan sekitar sepuluh tahun lalu.

Saya benar-benar jatuh cinta. Ini olahraga yang benar-benar memberikan tantangan bagi diri sendiri, dan selalu ada batasan-batasan baru yang bisa kita kejar dan dobrak.

Benar sekali kata Greg LeMond: “It doesn’t get any easier, you just go faster.”

Bukan hanya itu, ini olahraga yang sangat menantang keyakinan, ketekunan, dan konsistensi. Sedikit saja kendur latihan, “tabungan” kekuatan yang susah payah kita bangun langsung berkurang. Tapi kalau sampai berlebihan latihan, maka “kendi tabungan” itu bisa pecah berkeping-keping.

Siapkan mental dan latihan yang cukup untuk bisa menaklukkan Bromo KOM Challenge 2019 tanpa manja.

 

Bagi saya, cycling mengajari kita keyakinan dan ketrampilan untuk bisa berjalan (cepat) di atas tali!

Untuk menggairahkan olahraga ini, dan supaya orang-orang ikut merasakan proses “memperbaiki dan mengembangkan diri,” saya berusaha agar even-even yang saya gagas juga bisa berevolusi. Mengajak partisipannya untuk terus maju dan “naik kelas,” tidak pernah merasa nyaman dan gampang.

Teman-teman dekat saya banyak yang tahu bagaimana saya berpikir: Harus selalu satu atau dua langkah di depan apa yang dipikirkan orang. Jadi, setiap kali bengong atau nganggur, secara refleks biasanya saya langsung berpikir habis ini mau bagaimana, mau ke mana.

Setelah bertahun-tahun mendorong berlangsungnya even ke Wonokitri, Bromo, tahun 2018 ini ada kesempatan bersama tim baru untuk menekan tombol reset, membawanya ke level baru.

Selamat jalan nanjak santai ke Bromo, selamat datang Bromo KOM Challenge.

Namanya ternyata bikin banyak orang takut, mereka yang selama ini tercatat sebagai peserta “hore-hore,” tidak punya beban harus finis, banyak yang mundur teratur.

Tahun ini harus ada target. Kalau bukan mengalahkan lawan, ya ikut peloton non-kompetitif untuk mengalahkan diri sendiri. Kalau tidak mencapai batas cut off time, ya tidak dapat medali. Walau tahun ini sebenarnya panitia masih “kurang kejam” dalam menerapkannya.

Memang, even tahun ini masih belum sempurna. Kami mohon maaf. Tidak pernah ada even yang sempurna, tapi kami akan selalu memberikan yang terbaik. Anda yang pernah ikut even orang lain saya rasa bisa membandingkannya.

Nah, setelah Antangin Bromo KOM Challenge 2018, 21 April lalu, banyak yang bilang kepada saya: “Tahun depan lagi ya.”

Lewat tulisan ini, saya memberikan jawabannya: “Ya, tahun depan akan ada lagi!”

Bahkan, saya dan teman-teman sudah menetapkan tanggalnya. Teman-teman itu adalah rekan-rekan di Azrul Ananda School of Suffering (bukan klub, bukan komunitas, tapi brand), tuan rumah Mie Bola Mas di Pasuruan, serta OtakOtak Event Organizer. Kami sudah berkumpul untuk evaluasi, dan hasilnya: Untuk tahun depan acara ini secara provisional kami tetapkan berlangsung pada Sabtu, 16 Maret 2019.

Kami sebut provisional karena banyak situasi bisa memaksa tanggal itu berubah. Tapi saat ini itulah tanggal yang kami tetapkan.

Format masih tidak banyak berubah. Lomba akan terbagi dalam berbagai kategori, yang mungkin akan lebih terbagi-bagi lagi (sesuai masukan banyak peserta). Juga masih ada peloton non-kompetitif dengan cut off time empat jam.

Sekarang tinggal menunggu Anda, calon pesertanya. Anda punya waktu hampir setahun untuk berlatih. Untuk menantang semangat, keyakinan, dan kemampuan diri sendiri untuk terus berkembang.

Tidak ada tanjakan yang menantang keyakinan dan ketangguhan seperti jalan menuju Wonokitri, Bromo. Anggap saja itu ujian semangat, keyakinan, dan kemampuan Anda.

Karena slogan kami untuk Bromo KOM Challenge 2019 adalah sangat tegas: Kalau Manja Jangan Ikut! (*)

 


COMMENTS