Lho kenapa judulnya begitu? Apa yang membuat penulis merasa begitu down dan begitu desperate? Ya, ini adalah semangat atau jeritan hati ketika mengikuti event Unbound Gravel 200 mil, awal Juni lalu. Bagi saya, rute 200 mil itu jauh. Lha wong 100 mil saja capek, apalagi 200 mil, wkwkwkwk. Pasti cuapekkkkkk sekali, kan.

Judul di atas adalah kata-kata penyemangat dari teman saya, Ndoro Galih. Kalau kita terima mentah-mentah, seakan-akan moral Anda disuruh atau diizinkan untuk turun. Tapi kata-kata ini membuat saya berpikir sepanjang jalan. Serta berusaha meluruskannya dalam alam bawah sadar. Mana bisa tidak semangat. Harus tetap semangat dan jangan sampai putus asa. Itulah pesan yang maknanya menjadi terbalik ketika masuk dalam pikiran saya.

Ngomong-ngomong, kenapa saya menulis kata-kata seperti itu? Seperti apa Unbound Gravel? Semengerikan itu, kah? Jawaban saya, iya. Sebab ini event yang tidak saya rekomendasikan untuk cyclist lain. Ada banyak sebab. Tapi salah sekian sebabnya adalah banyak penghalang menuju finis.

Jika kita ini laksana virus di komputer, maka Unbound Gravel seakan mempunyai firewall berlapis lapis. Sehingga sulit diinfeksi. Lantas, apa saja halangan itu? Berikut di antaranya:

1. Medan Gravel
Medan gravel, atau bisa diartikan langsung sebagai medan kerikil, adalah medan yang tidak umum di Indonesia. Sehingga mencari jalan yang serupa untuk dibuat latihan pun kami kesulitan. Walau kami bisa menggantinya dengan gowes dengan model jalan yang berbeda, tetapi meraksakan secara langsung pasti lebih sreg.

2. Cuaca
Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, campur aduk cuaca membuat badan kami harus terlatih menghadapi perubahan itu. Kondisinya tidak seperti di kantor atau di kamar, di mana Anda bisa mengganti cuaca dengan menekan tombol on di remote AC. Perpindahan cuaca ini membuat badan sedikit demi sedikit kehilangan tenaga.

3. Lumpur
Karena videonya sudah diunggah di kanal Mainsepeda di YouTube, saya bisa bercerita. Para pembaca pasti sudah mendapat gambaran bagaimana lumpur yang dimaksud. Menjadi normal jika itu medan MTB. Tapi bagi saya, hal itu begitu berat. Membuat saya harus mengangkat sepeda.

Tulang belakang saya sakit sekali. Maklum, kondisinya memang tidak lurus. Jadi, membawa sepeda sejauh itu membuat saya nyaris tidak mengayuh. Walau saya suka off sadel, alias turun dari sepeda, tapi  lelahnya mendorong sepeda di lumpur benar-benar capai. Ketika sudah bisa dikayuh, tenaga saya seperti habis. Apalagi air minum, baik di botol dan di tas, sudah terkena lumpur. Jadi tidak bisa langsung dikonsumsi.

4. 'Mimik Hahat'
Nah ini. Save the best for last. Bagian terakhir yang ternyata jauh dari bayangan. Saat itu panas dan angin sudah terlewati. Perjalanan saya tinggal 20-30 kilometer saja menuju finis. Hari pun sudah gelap

Ketika saya mau belok kanan, ada sekumpulan sukarelawan menawarkan minum. Mereka duduk di bak belakang sebuah mobil pikap. Ada pula yang berdiri. Lalu ada dua nona, seingat saya, yang duduk di bak pikap. Saya bertanya, ”Do you have water?”

"No," ucap mereka. "Do you want vodka? I have vodka," tanya mereka. Lalu seorang perempuan yang sinam itu turun dari bak pikapnya. Ia menuju ke arah saya sambil membawa sebuah botol.

Lumpur, panas, angin, mechanical problem, lelah, lapar, mual, dan capai, sudah biasa di event sepeda. Tapi tawaran dari cewek satu itu membuat saya yang sangat lelah, menjadi gamang. Semata-mata ini karena lelah, pembaca. Tolong dicatat karena lelah ya.

Akhirnya saya jawab, "Not now." Lalu saya pun meneruskan perjalanan.

Tidak ada di race dan event mana saja yang pernah saya ikuti, saya dicegat dan ditawari minum. Utamanya yang menawari minum seperti itu. Saya jadi paham perasaan Jaka Tarub.

Akhirnya saya finis juga. Setelah saya review perjalanan di Emporia, saya tidak habis pikir. Dari sekian banyak orang yang berhenti, kenapa saya yang ditawari? Sampai-sampai dia turun dari truknya. Sebenarnya tidak baik ditolak. Tapi ah sudahlah. Yang penting finis kan, wkwkwkwkwkwk. Sekian. (johnny ray)

Podcast Main Sepeda Bareng AZA x Johnny Ray Episode 91

Foto: Unbound Gravel


COMMENTS