Yang saya rencanakan minggu lalu, untuk membawa sepeda hore jalan-jalan ke luar kota mengikuti rute yang "sadis", akhirnya terlaksana. Tepatnya pada Sabtu kemarin. Ada yang bilang ini adalah uji coba rute event KAI Kediri Dholo KOM Challenge 2021. Menurut saya, bukan. Ini lebih ke arah latihan endurance. Tapi memang menu yang disuguhkan tidak dikira-kira. Surabaya ke Dholo. Jaraknya hanya 160 kilometer. Hanyaaaa. Kata hanya ini relatif. Tapi biasanya diucapkan oleh marketing-marketing rute. Agar rute gila ini terkesan mudah dan biasa. Orang naif seperti saya pun mudah terbujuk.

Awalnya saya tidak ingin mencoba sepeda hore ini ke rute yang ekstrem seperti itu. Mengingat tanjakannya  cukup seram. Saya tahu gradiennya. Tapi tidak saya tulis detail ya. Karena akan mengurangi kerseruan event KAI Kediri Dholo KOM Challenge 2021, wkwkwkwkwkwkwk. Intinya kalau bersama teman-teman menunya ya cuma rute ini saja. Kecuali mau jalan sendiri. Yang mana lebih tidak mungkin, kan.

Ya sudah, akhirnya saya mencoba sepeda hore saya ke rute yang walau dengan sepeda saya yang paling mumpuni pun masih berat. Sepeda hore saya hanya memunyai satu crank. Ukurannya 44T. Mungkin crank gravel paling besar. Kurang ideal untuk menanjak. Tapi part yang saya harapkan pun belum datang. Ya nasib. Pakai yang ada sprocket belakangnya memang besar, 10-44T. Tapi kalau jalan miring serasa kurang.

Datanglah hari H. Jalan flat Surabaya sampai Simpang Lima Gumul bisa dilalui dengan satu kali pit stop. Hari itu panas menambah derita di atas sepeda. Nah akhirnya menu utama Simpang Lima Gumul ke Dholo. Jaraknya hanya 35-an kilometer. "Hanya". Tapi 35 kilometer itu penuh cerita. Tiap individu peserta punya cerita yang berbeda. Kalau cerita saya cukup hore. se-hore sepedanya.

Sepeda ini bukan sepeda ringan. Beratnya sembilan kilogram lebih. Tapi, walau besar. sepeda ini benar-benar hore. Kenapa begitu? Kalau soal jarak, panas, dan tanjakannya, saya sudah tahu. Saya sudah tahu kalau bakal tersiksa. Saya juga sudah tahu kalau sepeda yang mencari nyaman akan lebih berat. Tetapi ketika saya mengayuhnya, yang jelas sepeda ini mendatangkan kebahagiaan yang belum tentu bisa saya dapatkan bersama sepeda "cepat" saya. Entah ini kebetulan atau memang tuah si hore.

Kok bisa bahagia? Mekanik Wdnsdy Bike, Dedi bergurau dan bilang, "Bahagia itu sederhana". Cieee, saya kira ia akan meneruskannya dengan kata-kata bijak seperti. "yang penting kita cukup makan sehari tiga kali" atau "yang penting kita sehat". Tapi ucapan Dedi selanjutnya membuat saya tertawa. Ia bilang, "asal kita melihat teman kita sengsara", wkwkwkwkwkwk. Apa yang diobrolkan waktu itu sangat lucu topiknya. Tapi tidak bisa ditulis. Nanti tulisan ini menjadi sastra romantis.

Nah kembali ke sepeda. Benar bahwa saya bahagia karena melihat teman saya yang biasanya jago di tanjakan, duduk di pinggir jalan karena kram. Yang mematenkan kebahagiaan itu adalah ada tukang foto pas di depan saya. Jadi momen saya tersenyum bersepeda dengan latar belakang Joko (bukan nama sebenarnya ) terduduk itu, tertangkap jelas. Sulit mengulang peristiwa seperti ini. Lain waktu mungkin keadaan berbalik. Tapi hari itu saya yang tersenyum hore.

Akhir kata, untuk yang ikut event KAI Kediri Dholo KOM Challenge 2021, siapkan sepeda kalian. Apa pun sepedanya ingat bahwa yang terpenting ialah pesepedanya. Siapkan fisik dan psikis sebaik mungkin. Semoga event ini berjalan lancar. Amin. (johnny ray)

Podcast Main Sepeda Bareng AZA x Johnny Ray Episode 67

Foto: @chaidar26


COMMENTS