Para Remidial yang Akhirnya Sukses Raih Gelar Sarjana Ultra EJJ 2026

Pernah gagal, tapi tak rela untuk menyerah adalah pedoman para "mahasiswa remidial" di Universitas Mainsepeda pada East Java Journey (EJJ) 2026. Ya, sejumlah cyclist peserta EJJ 2026 memang berstatus "remidi". Mereka menolak menyerah, mencoba kembali menaklukkan tantangan yang diberikan Mainsepeda, setelah tahun-tahun sebelumnya gagal, baik di kategori 1.500 Km dan 600 Km.

Pada kategori 1.500 Km, terdapat tiga peserta remidi yang akhirnya mendapatkan toga "Sarjana Ultra" dari Mainsepeda: Aditya Wibawa, Hadi Subroto, dan Ilmiawan Auwalin.

Aditya, ultra cyclist asal Tangerang Selatan, terpaksa Did Not Finish (DNF) pada EJJ 2025 karena over Cut off Time (CoT) di Check Point (CP) Blitar saat itu. Dia kehabisan waktu saat melintasi queen stage di JLS Pacitan-Trenggalek yang sangat berat. 

Baca Juga: Ketika Para Peserta EJJ 2026 Akhirnya Menemukan Marka Mobil Terbang

Kegagalan itu yang membuat Aditya belajar banyak. Ia mempersiapkan diri jauh lebih baik. Selain itu, keberhasilannya finish under CoT di Bentang Jawa 2025 membuat kepercayaan dirinya untuk menaklukkan EJJ berlipat. 

Aditya lulus EJJ 2026 1.500 Km meski menemui sejumlah kendala teknis.

Meskipun demikian, segalanya tidak berjalan mulus bagi cyclist 43 tahun itu. Aditya sempat tergelincir di rel kereta Probolinggo, Km 130. Badannya lecet dan memar, namun bisa melanjutkan perjalanan. 

Masalahnya muncul ketika sepedanya yang mengalami kerusakan. Dikarenakan insiden tersebut bagian bottom bracket dan hub roda belakang mengalami masalah. Setelah diperiksa, bearing hub-nya rusak karena dipaksa berputar ratusan kilometer. Kayuhan sepeda menjadi lebih berat sehingga ia harus mengeluarkan tenaga ekstra saat bersepeda, khususnya saat nanjak. 

Beruntung di CP 2 Blitar, ia dibantu mekanik yang disediakan oleh pihak panitia. Masalahnya bearing-nya terselesaikan, tapi bottom bracket-nya tidak bisa diganti karena kesulitan mencari spare part pengganti. Kondisinya masih cukup baik sehingga ia bisa melanjutkan perjalanan. 

"Mekaniknya sigap membantu. Tanpa bantuan itu, rasanya sulit membayangkan bisa terus gowes. Mungkin saya sudah memilih DNF lagi di kota yang sama seperti DNF EJJ lalu," kata Aditya. 

Perjalanan dilanjutkan dan Aditya bisa finish sebelum Cut off Time. Ia tiba di Surabaya Town Square (Sutos) pada Minggu malam, 8 Februari 2026. Catatan waktunya 157 jam 32 menit 49 detik atau kurang dari 2,5 jam sebelum CoT. 

"Alhamdulillah, rasanya lega. EJJ 1500 2025 masih menjadi satu-satunya event di mana saya DNF, dan saya bersyukur akhirnya bisa menuntaskannya," imbuhnya. 

Hadi Subroto mengalami sejumlah cedera berat sebelum mendapatkan Sarjana Ultra.

Seperti halnya Aditya, Hadi Subroto juga harus DNF dini di EJJ 2025 lalu. Bedanya, cyclist asal Ponorogo itu harus menyerah karena mengalami cedera lutut akibat overuse, efek berlatih berlebihan. 

Ambisinya di EJJ 2026 berlipat karena ia juga ingin membuktikan diri mampu bertahan usai mengalami cedera lebih serius pada pertengahan tahun 2025 lalu. Seperti diketahui, Hadi mengalami insiden kecelakaan saat mengikuti event ultra di Flores. Ia terjatuh ke jurang yang menyebabkan siku tangan kanannya remuk.

Kejadian itu membuatnya menepi dari bersepeda. Ia harus menjalani prosedur operasi rumit pada awal Mei 2025. Bahkan, sikunya harus dicangkokkan dengan tempurung tulang sapi saking hancurnya.

Meskipun demikian, ia sudah kembali bersepeda setelah rehat hampir dua bulan. Dan 10 bulan setelahnya, ia akhirnya sukses menaklukan rute 1.500 Km pertamanya di EJJ 2026. Tak hanya itu, ia sukses menyabet posisi tiga besar di kategori Men 39 and Under. 

"Banyak pelajaran tahun lalu. Jadi setelahnya banyak yang berubah, latihannya sekarang lebih efisien, gak ngoyo kayak dulu. Jadi sepedaan makin nyaman," tutur Hadi. 

Ilmiawan Auwalin berhasil meraih 'Sarjana Ultra' dipercobaan kedua mengikuti EJJ 1.500 Km.

Sementara itu, 'Sarjana Ultra' 1.500 Km lain adalah Ilmiawan Auwalin. Cyclist yang berprofesi sebagai dosen itu harus menerima kenyatan under CoT hanya empat menit. Sangat tipis sekali. Namun, rasa kecewa itu tak membuatnya lantas menyerah. Ia kembali menerima tantangan EJJ 1.500 Km dan akhirnya lulus dengan catatan waktu 154 jam 54 menit 53 detik.

Hal yang jadi perhatian kali ini, Ilmiawan lebih fokus pada diri sendiri. "Tahun lalu, belum sadar kalau EJJ 1.500 Km itu race. Jadi tahun ini lebih fokus pada diri sendiri saja. Alhamdulillah, sudah berhasil dan saya pikir ini rutenya lebih berat," ungkap Alin, sapaan Ilmiawan. 

Dari kategori 600 Km, Dwi Raga Priambudi jadi cyclist yang lulus dan mendapatkan 'Sarjana Ultra' 600 Km. Dwi sejatinya tak bersepeda sendirian, ia bersama rekannya Hasan Gozali. EJJ 2026 600 Km sejatinya dimanfaatkan latihan untuk membangun chemistry. Keduanya berencana pair di event ultra cycling yang jaraknya lebih jauh. 

Dwi Raga menargetkan ikut EJJ 1.500 Km tahun depan.

Dwi-Hasan sempat berlatih bersama di EJJ 2025 600 Km, namun keduanya DNF. Tahun ini, mereka mempersiapkan diri lebih baik dengan ride plan yang lebih rapi. Namun malang, Hasan harus kembali DNF di Ngawi karena sakit akibat diterpa hujan lebat saat menuju Madiun. Sedangkan, Dwi akhirnya memutuskan lanjut seorang diri dan finish dengan catatan waktu 60 jam 16 menit 47 detik. 

Baca Juga: Dapatkan Foto Memorable EJJ 2026, Unduh di Mainsepeda App!

"Tahun depan, siap ikut EJJ 1.500 Km," ujarnya. 

Raga mengaku tidak menemui kendala berarti menjalani rute EJJ 2026. Ia menilai EJJ tahun lalu lebih berat. Tapi yang membuatnya kesal adalah penambahan rute 50 Km yang ternyata sangat teknikal. 

Ia yang awalnya berterima kasih kepada John Boemihardjo (Om JB) karena rekomendasinya membuat panitia menurunkan elevation gain-nya, namun rasa terima kasih itu ia tarik karena penambahan 50 km di akhir rute sangat menyulitkan. "Saya tarik rasa terima kasih saya kepeda om JB," candanya. 

Walaupun begitu, ia mengaku sangat menikmati event garapan Mainsepada. Terutama fasilitas komplet di CP yang disediakan oleh panitia. "Pas datang ditanyain kondisi sepeda dan badan, itu sih bikin hepi. Mainsepeda the best sih untuk Ultra," tutupnya. (Mainsepeda)


COMMENTS