Pengalaman Serba Pertama Yusran Yahya di EJJ 2026, dari Rasakan Rute Terjauh Sampai Gempa

Jalan Yusran Yahya mengikuti East Java Journey (EJJ) 2026 kategori 1.500 Km dari awal hingga akhir dipenuhi cerita menarik. Berlika-liku dan sangat membekas bagi cyclist asal Singapura itu. 

EJJ 2026 adalah event ultra cycling pertamanya. Jadi banyak hal yang baru dirasakannya. Yang terbaru adalah merasakan gempa. Tinggal di Singapura yang berada di semenanjung Malaya dan jauh dari ring of fire membuatnya tak pernah merasakan gempa sebelumnya. 

"Baru pertama kali rasakan gempa, serius, di Singapura tak ada," ucapnya. 

Baca Juga: Para Remidial yang Akhirnya Sukses Raih Gelar Sarjana Ultra EJJ 2026

Posisinya cukup dekat dengan bibir pantai. Saat itu, ia memutuskan bermalam di Panggul, Pacitan, sangat dekat dengan pusat gempa yang juga berada di lepas pantai Pacitan pada Jumat dini hari, 6 Februari. Akan tetapi, pengalaman pertamanya itu tak cukup membuatnya ketakutan. Ia kadung lelah setelah 920 Km bersepeda. 

"Cuma ini apa nih macam bermimpi, tertidur lantas terbangun. Tapi dia macam sekejab. Dua-tiga saat saje. kemudian sambung tidur lagi," katanya.

Di saat yang sama, ia mengalami cedera pada lututnya. Alasan kenapa akhirnye memutuskan istirahat di Panggul cukup lama. Padahal sebelumnya, Yusran tampil sangat kompetitif. 

Yusran berfoto di depan sunset yang indah di JLS Blitar. 

Ia memang terhitung masih 'hijau' di olahraga bersepeda jarak jauh. Bahkan rute terjauhnya sebelum EJJ 2026 adalah bersepeda dari Singapura ke Melaka di Malaysia yang berjarak 250 Km saja.

Akan tetapi, ketekunannya mengalahkan rasa takut. Ia melakukan riset yang mendalam. Yusran membuat contekan berupa cue points lokasi-lokasi seperti minimarket, tempat makan, hotel, hingga masjid. Catatannya terlihat rapi dan sangat mendetail. Hingga menunjukkan detail tiap Kilometer dimana lokasi-lokasi tersebut untuk mengatasi kekhawatirannya terhadap kebutuhan suplai makanan-minuman hingga tempat istirahat. 

Selain itu, ia membiasakan tubuhnya bersepeda ratusan kilometer dengan latihan yang tepat. Yusran berlatih rutin di zona 2 dengan irama kayuhan (cadence) yang efisien, sekitar 80-90 rotasi per menit. Setiap pekan ia menargetkan berlatih 500-600 Km.

Persiapan matang itu berbuah positif. Ia bahkan sangup bertahan meski harus melintasi tanjakan ke puncak Paltuding via Bondowoso yang punya elevasi mencapai 2.180 meter. Selain itu, Yusran juga sanggup tampil kompetitif di event ultra 1.500 km pertamanya. 

Akan tetapi, ia lantas merasakan sakit di lututnya ketika mulai meninggalkan Trenggalek ke arah Panggul. Lututnya tiba-tiba nyeri. Ia sempat mencoba menjajal tukang pijat dengan harapan sakitnya hilang. Namun, ia tetap merasakan nyeri di sisa perjalanannya. 

"Kalau ditanjakan 10 persen masih bisa. Tapi di atas itu, sudah sulit," jelas 

Setelahnya ekspektasinya menurun, Ia hanya ingin menuntaskan EJJ 2026 1.500 Km under Cut off Time (CoT). "30 Km terakhir, saya kayuh pakai satu kaki saja," imbuhnya. 

Saat ditanya mengenai rute tak terlupakan, Yusran pun me-mention JLS Blitar dan tanjakan setelahnya. Ia menikmati rolling-an di JLS dan mendapatkan foto sunset yang indah di sana, setelahnya ia merasa tersiksa di tanjakan menuju Trenggalek. 

"Naik-turun enak laju. Tapi setelahnya gelap-gelapan. Cleat pun buka baru, saya bawa dua, karena nuntun, batunya begini macam bola-bola, jalannya teruk. Mau dorong sepeda, macam dorong lembu," cerita Yusran.  

Baca Juga: Ketika Para Peserta EJJ 2026 Akhirnya Menemukan Marka Mobil Terbang

Meski penuh dinamika, Yusran bahagia berhasil finish di Surabaya Town Square sebelum batas waktu pada Minggu pagi, 8 Februari. Rekor waktunya adalah 6 hari 18 menit 25 detik.  

Sebelumnya ia juga sempat menghadapi kendala ketika wheel set-nya tertinggal di Singapura. Ia pun harus meminta bantuan sang istri untuk menghantarkan wheel set tersebut dari Singapura ke Surabaya H-1 start EJJ 2026. "Cobaan-cobaan itu semua terbayar lunas," tutupnya. (Mainsepeda)


COMMENTS