Aturan-aturan Velominati total ada 95. Tapi bukan berarti urutannya sesuai kategori. Kadang loncat ke sana ke mari. Untuk seri kedua tulisan ini, saya mengelompokkan lima aturan yang saya anggap masuk dalam satu kategori. Yaitu kategori yang mempertanyakan ketangguhan diri kita, komitmen diri kita, untuk menjadi cyclist yang lebih baik.

Pada seri pertama, kita telah membahas aturan nomor 1 sampai 3. Untuk seri kedua ini, kita lewati dulu nomor 4. Mari kita mulai dari aturan nomor 5.

Mungkin, aturan nomor 5 inilah aturan paling kondang Velominati. Paling banyak dikutip atau digunakan oleh cyclist sebagai sumber motivasi. Kira-kira satu level dengan ungkapan kondang Jens Voigt: “Shut up legs!”.

Aturan nomor 5 itu berbunyi: “Harden the f**k up”.

Maaf, saya harus memakai “**” untuk menggantikan dua huruf. Karena rasanya tidak sopan untuk menuliskan kata itu secara utuh. Rasanya pembaca pasti tahu itu kata apa. Dan yang penting kan maknanya. Yang kira-kira begini: “Tangguhkanlah dirimu.”

Aturan nomor 5 ini lantas diperkuat oleh aturan nomor 6: “Free your mind and your legs will follow.” Artinya kurang lebih: “Bebaskanlah pikiranmu dan kakimu akan mengikutinya.”

Karena pada dasarnya, dalam bersepeda serius, lawan kita adalah diri kita sendiri. Velominati menyarankan, begitu kita sudah bersepeda, lupakan segala permasalahan. Nikmati sensasinya, suasananya, dan lain-lain.

Dan karena untuk menjadi cyclist sejati kita harus tangguh, maka dua aturan di atas diperkuat lagi dengan aturan nomor 9: “If you are riding in bad weather, it means you are a baddass. Period.”

Artinya: “Kalau Anda bersepeda dalam cuaca buruk, tandanya Anda adalah seseorang yang tangguh. Titik.”

Velominati #9 : If you are riding in bad weather, it means you are a baddass. Period.

Disusul lagi dengan aturan nomor 10, yang mengutip pembalap legendaris Greg LeMond: “It never gets any easier, you just go faster.”

Latihan itu berat. Menanjak itu berat. Balapan itu berat. Dan akan selalu berat, seberapa kuat pun kita berkembang. Jangan pernah mengalah pada diri sendiri!

Tentu saja, manusia ada batasannya. Bersepeda serius itu bisa menyakitkan. Nah, apa pendapat Velominati kalau kita kesakitan saat bersepeda? Kalau mengikuti aturan nomor 20, maka hanya ada tiga obat untuk mengatasi rasa sakit. Yaitu:

Pertama, kalau otot paha depan sakit (quad), maka duduklah lebih maju ke depan untuk menggunakan otot hamstring (paha belakang) dan calves.

Kedua, kalau hamstring dan calves yang sakit, maka duduklah lebih mundur untuk lebih menggunakan otot paha depan.

Ketiga, kalau Anda merasa lelah dan lemah, maka ingatlah aturan nomor 5, lalu berlatihlah lebih rajin!

kalau Anda merasa lelah dan lemah, maka ingatlah aturan nomor 5, lalu berlatihlah lebih rajin!

Intinya kembali ke Anda sendiri. Saya sering geleng-geleng kepala, dan tertawa di dalam hati, kalau melihat tingkah dan usaha akal-akalan para cyclist Indonesia saat menghadapi sebuah even besar. Khususnya even yang menuntut kemampuan menanjak.

Ada seorang teman yang malas latihan menanjak, sehingga dia memasangi sproket sebesar mungkin di belakang untuk meringankan beban pedal. Ketika yang lain memakai 11-28, dia memasang 11-36.

Eh, pada akhirnya, dia tetap saja menuntun. Dan karena dari awal pakai gir ringan, dia membuat yang lain sebal karena harus menunggu lama di atas tanjakan. Dengan gir ringan, kakinya memang berputar tapi kecepatannya begitu pelan.

Ada lagi contoh kocak. Ada seseorang yang memiliki frame super ringan, AX Lightness Vial Evo. Lalu memakai wheelset super ringan, plus komponen-komponen lain yang juga super ringan.

Walau segalanya sudah super ringan, dan pasti super mahal, dia masih memakai lagi rear derailleur (RD) MTB, supaya bisa memasang sproket belakang 11-42!

Dan ternyata, dia juga tidak mampu menuntaskan even menanjak tersebut!

Ya Tuhan! Betapa lemahnya mental sebagian hambamu, sehingga mereka harus melakukan hal-hal seperti itu demi tidak latihan!

Semoga tulisan tentang aturan-aturan soal ketangguhan ini bisa menginspirasi insan-insan lemah hati itu agar mau berlatih lebih giat. Karena tidak ada yang bisa mengalahkan latihan. Bukan duit ratusan juta untuk beli komponen, bukan gir sebesar piring makan.

 Sebagai penutup, saya akan mengutip aturan Velominati nomor 72: Legs speak louder than words! (bersambung)

 

Foto : Dewo Pratomo      

 


COMMENTS