Tim kaya memang lebih bebas. Kalau merasa komponen yang disediakan kurang kurang oke, bisa beli yang lebih mahal. Itu yang dilakukan Team Ineos (dulu Team Sky) di Tour de France 2019 ini. Merasa wheelset yang diberikan Shimano kurang ringan, mereka pun membeli sejumlah wheelset Lightweight yang supermahal!

Sejak kali pertama eksis sebagai Team Sky pada 2010, tim yang dipimpin oleh Dave Brailsford ini memang sangat memikirkan “marginal gain.” Bahwa hal-hal kecil kalau dikumpulkan bisa jadi keunggulan besar.

Mulai progam latihan, membeli tempat tidur khusus, sampai wheelset khusus mereka lakukan kalau dianggap bisa membantu meraih kemenangan.

Menjelang Tour de France tahun ini, para pembalap mereka sudah terlihat latihan memakai wheelset Lightweight dari Jerman. Lalu pada Etape 5 Rabu (10/7), para pembalap andalan tim itu sudah memakainya saat berlomba. Katanya sebagai “pemanasan” sebelum memakainya di etape-etape gunung yang lebih menentukan.

Padahal, Team Ineos adalah salah satu tim utama yang disokong oleh Shimano. Ditanya soal itu, tim ini hanya bilang kalau mereka tetap disponsori oleh Shimano, tapi akan menggunakan dua merek wheelset.

Itu berarti, Team Ineos membeli sejumlah Lightweight itu dari kocek sendiri. Padahal, tipenya adalah Lightweight Meilenstein Obermayers, yang harganya mendekati Rp 100 juta sepasang.

Tim ini tutup mulut soal mengapa memilih merek tersebut. Kabarnya, mereka memilihnya karena bobot yang sangat ringan. Sepasang wheelset Shimano C24 tubular beratnya 1.110 gram. Sepasang Lightweight Obermayer di kisaran 900 gram. Selain itu, Lightweight yang memakai ruji dari karbon dikenal sangat kaku, menguntungkan untuk menanjak.

Tidak banyak memang. Tapi itulah Team Sky, eh, Ineos. Mereka mengejar setiap keunggulan kecil.

Banyak pengamat lantas mengingatkan, bahwa walaupun lebih ringan, Lightweight masih memiliki bentuk aerodinamika yang “kuno.” Bentuk “V” sudah lama ditinggalkan banyak merek, yang sekarang mengadopsi bentuk “U.” Alasannya, bentuk “U” justru lebih aero dan lebih stabil saat dihantam angin.

Mungkin, Team Ineos mendapati kekurangan dari sisi aero itu tertutupi oleh keunggulan dalam hal berat.

Pertanyaan lain: Kalau Team Ineos harus menggunakan wheelset ringan, berarti frame Pinarello Dogma F12 yang mereka gunakan tidaklah cukup ringan. Mungkin ini juga tidak benar. Dalam arena lomba, UCI menetapkan bobot sepeda minimum 6,8 kg. Andai sepeda berada di bawah batas itu, mekanik bisa menaruh beban ekstra di tempat-tempat yang bisa membantu handling dan performa overall.

Intinya, marginal gain!

Dalam sejarahnya, tim ini juga bukan kali pertama membeli wheelset yang bukan sponsor. Pada awal eksistensi tim, mereka sering membeli rim merek HED, melepas labelnya, lalu memadukannya dengan hub milik Shimano.

Saat merebut juara Tour de France beberapa tahun lalu, pembalap tim ini, seperti Bradley Wiggins dan Chris Froome, juga pernah memakai wheelset superringan merek Jerman lain: AX Lightness.

Catatan tambahan: Pada era 2000-an, para bintang dunia juga pernah membeli Lightweight untuk mengejar performa ekstra. Misalnya Jan Ulrich dan Lance Armstrong! (mainsepeda)

 

Populer

Isaac del Toro Segel Gelar Juara Umum Tirreno-Adriatico 2026
Paris Nice 2026: Hapus Penasaran, Jonas Vingegaard Rengkuh Gelar Perdana
Paris-Nice-Etape 4: Juan Ayuso Tumbang, Vingegaard Menang
Tirreno-Adriatico 2026-Etape 3: Tobias Lund Andresen Kalahkan Dominasi Sprinter Kelas Atas
Paris-Nice 2026-Etape 5: Vingegaard Untouchable, Persaingan Juara Berakhir?
Van der Poel Menguasai di Etape 2 Tirreno-Adriatico, Del Toro Rebut GC
Jersey Nggravel Blitar 2026: Memadukan Keindahan Rute dengan Estetika Seni Van Gogh
Paris-Nice 2026-Etape 3: INEOS Grenadiers Dominasi Balapan Team Time
Tirreno-Adriatico 2026-Etape 1: Filippo Ganna Tak Terbendung di Nomor ITT
Kisah LeBron James dan Kecintaannya pada Sepeda