Hadeeeeh leganyaaa… Event Herbana Bromo KOM Challenge 2019 berakhir sudah. Sebanyak 1.148 cyclist dalam berbagai kelas dan kategori ikut kami sengsara menanjak ke ketinggian 2.000 meter di Wonokitri, Bromo. Sebuah event yang tidak sempurna, tapi sebuah event yang sangat, sangat epic.

Acara Sabtu, 16 Maret 2019 ini sebenarnya sudah sold out sejak akhir Desember 2018. Angka 1.000 peserta sudah tercapai. Namun begitu banyaknya yang berminat, kami mentoleransi hingga akhirnya tercapai angka 1.148 peserta.

Mungkin benar ucapan sejumlah rekan cyclist. Event menanjak ke Bromo ini seperti “naik Haji”-nya pesepeda. Yang belum pernah penasaran, yang pernah makin penasaran. Yang mengaku kapok pun terus kembali mencoba.

Tidak terasa, enam tahun sudah acara ini diselenggarakan.

Begitu banyak ucapan selamat kami terima setelah event. Saya yakin, beberapa mungkin sekadar lip service. Beberapa tentu sangatlah tulus. Yang paling saya nilai ucapannya adalah dari mereka yang memang sangat pengalaman ikut event-event serupa. Baik di Indonesia maupun di berbagai negara.

Abdoullah Mitiche, warga Aljazair yang sudah terkenal kehebatan bersepedanya di Indonesia, merupakan salah satu yang saya perhatikan komennya.

Abdoullah mengirim saya pesan WA: “Azrul, sebelum saya balik ke Jakarta, saya ingin mengucapkan selamat atas kesuksesan penyelenggaraan event. Juga terima kasih atas kerja luar biasa yang kalian lakukan untuk terus mengembangkan cycling di Indonesia secara keseluruhan. Ini bukan lip service. Saya sudah tahu betul standar penyelenggaraan event-event lokal lain. Dan yang terakhir: Terima kasih telah membuat kami semua sengsara!”

Tentu saja, pujian tidak boleh menjadi acuan. Saya sudah menyelenggarakan entah berapa banyak event sepeda, besar maupun kecil. Saya sudah terlibat di dunia basket, sebagai pengelola liga pelajar maupun profesional, bertahun-tahun. Saya juga kebetulan menjadi CEO di Persebaya Surabaya, salah satu klub sepak bola terbesar di tanah air.

Plus saya telah mengikuti dari dekat dan masuk ke dalam, berbagai event internasional. Baik itu balap sepeda, sepak bola, basket, maupun balap mobil Formula 1.

Dunia olahraga adalah dunia saya.

Dan selama belasan tahun saya berkiprah di dunia olahraga, saya tahu betul tidak ada event yang sempurna. Tidak pernah ada. Bahkan event terbesar di dunia pun pasti ada masalahnya.

Setelah event kemarin, saya dan sahabat-sahabat penyelenggara tentu banyak diskusi. Juga dengan sahabat-sahabat yang menjadi peserta. Tentu setiap event ada sesuatu yang dianggap masalah. Misalnya, MC yang seharusnya jadi “master of ceremony” yang mengatur alur acara seringkali justru menjadi “master cerocos,” yang asal ngomong gak jelas tujuannya.

Tentu ada masukan-masukan lain. Misalnya penempatan drink stop dan lain sebagainya. Apalagi event pada 16 Maret lalu ini cuacanya panas terus (38 derajat Celcius), paling panas di antara tahun-tahun sebelumnya.

Kami tentu akan menjadikan semua masukan sebagai bahan untuk event selanjutnya. Walau tidak ada event yang sempurna, kita harus selalu berusaha untuk membuatnya lebih baik. Ada langkah yang harus diambil drastis, ada yang hanya perlu modif kecil-kecil.

Azrul Ananda.

Ada satu hal yang sempat membuat saya agak kecewa, lalu geleng-geleng kepala, kemudian akhirnya hanya tertawa-tawa. Yaitu soal balapan di barisan terdepan.

Ada kejadian yang agak konyol, di saat juara Men Elite tidak ingin naik podium karena merasa keputusan juri tidak tepat. Juara 1 dan 2-nya satu tim, lalu ketika juara 1 kena diskualifikasi, mereka tidak mau naik podium.

Buat saya, awalnya memang kecewa, karena ini menunjukkan betapa tidak respect-nya mereka terhadap penyelenggara, sesama peserta lain, dan tentunya pejabat dan VIP yang sudah siap menanti.

Tapi kemudian kita hanya geleng-geleng kepala. Ya sudah. Biarkan saja. Karena kami merasa segalanya sudah sesuai aturan, mereka pun tahu aturannya. Dan mereka ikut ini dengan cara membayar bukan diundang.

Kami tidak peduli mereka siapa, pembalap top atau tidak, toh 90 persen peserta (yang jumlahnya lebih dari 1.000) tidak kenal mereka. Tidak peduli dengan mereka.

Aturan event kami memang tidak sama dengan lomba-lomba profesional. Bromo KOM Challenge adalah event “mass participation.” Bukan eksklusif untuk pembalap. Di seluruh dunia, aturannya sama. Kalau mereka tidak percaya, mereka mungkin perlu dibuka wawasannya, silakan ikut Maratona Dolomiti, Dirty Kanza, atau event-event dunia lain yang bersifat mass participation.

Tidak peduli dia pembalap profesional, tidak peduli dia pembalap kelas dunia, dia harus mengikuti aturan yang sama dengan peserta lain. Termasuk “ibu-ibu” penghobi yang hanya bersepeda seminggu sekali.

Sekali lagi kami tegaskan, apa yang kami lakukan sudah sesuai aturan yang kami buat. Dan mereka tahu itu. Bahkan peserta lain banyak yang tahu.

Semakin lama, saya justru semakin tertawa.

Misalnya, ada anggapan dengan tidak adanya acara podium Men Elite, event jadi jelek. Lho, tidak masalah. Malah menurut saya yang jelek yang tidak mau naik.

Misalnya saya yang menjadi sponsor tim mereka. Saya tentu ingin membiayai tim ini dengan harapan mendapatkan eksposure besar dari aktivitas yang mereka lakukan. Tidak ada sponsor di dunia ini yang mau mendukung hanya sekadar ingin memberi gaji dan makan.

Dengan tidak naik podium, maka itu berarti tidak ada eksposure untuk mereka, dan tidak ada eksposure untuk sponsornya. Kalau saya punya tim seperti ini, maka tim itu akan saya hukum. Bahkan kalau atlet yang saya gaji berperilaku seperti ini, mereka layak dipecat. Karena mereka tidak memikirkan pentingnya eksposure untuk sponsor mereka sendiri. Sponsor yang menggaji mereka.

Dan asal tahu saja, di dunia, tim-tim profesional semakin menekankan pentingnya partisipasi di ajang-ajang “mass participation” seperti ini. Karena justru mendekatkan brand sponsornya dengan lebih banyak orang. Kalau balapan, yang ikut paling 100-200 orang. Penonton di pinggir jalan belum tentu ada. Kalau event mass participation, yang ikut ribuan (Maratona Dolomiti di Italia bahkan 10 ribu orang).

Dalam beberapa tahun terakhir, tim-tim WorldTour makin peduli dengan event mass participation. Tim EF Education First tahun ini bahkan menjadwalkan ikut even-even seperti ini. Yang aturannya ikut aturan orang umum, bukan balapan. Misalnya di Dirty Kanza, di mana pembalap harus gowes 322 km tanpa tim support di jalan.

Saya juga tertawa, di saat banyak atlet mengaku kurang mendapat penghasilan, di event ini kami justru tidak perlu memberi uang hadiah. Lha wong tidak diambil.

Ya mungkin nasib atlet sepeda Indonesia sudah lebih baik sekarang, sehingga hadiah Rp 10 juta untuk juara pertama tidak ada artinya.

Bagaimana kalau mereka kelak tidak mau ikut lagi? Tidak masalah. Kami memikirkan bagaimana 1.000 orang lebih senang, bukan hanya segelintir. Ratusan orang kami tolak karena pendaftaran sudah penuh. Istilah mati satu tumbuh seribu (mungkin seratus) masih berlaku.

Dan mungkin, event kami bukan untuk yang profesional.

Para atlet ini harus ingat, kalau dunia cycling di Indonesia maju belum tentu karena mereka. Silakan tanya 100 orang di jalan, ada yang mengikuti balap sepeda nasional tidak? Sepak bola mungkin iya. Basket mungkin iya. Balap sepeda?

Fakta itu selalu membuat saya sedih. Karena kalau orang tidak peduli, maka olahraga itu tidak akan maju. Maka tidak akan banyak uang mengalir ke olahraga itu. Maka tidak akan banyak uang bisa didapatkan atlet yang turun di situ.

Cycling di dunia ini sekarang justru maju karena bersepeda sebagai hobi, sebagai partisipasi. Bukan oleh atlet, melainkan oleh bapak-bapak dan ibu-ibu yang senang gowes. Dan event-event mass participation adalah pendorongnya.

Kalau atlet Indonesia pola pikirnya seperti ini, ya mungkin pantas apabila makin sedikit event balap profesional di Indonesia. Makin sedikit sponsor mau mendukung tim profesional di Indonesia.

Kepada seluruh peserta Bromo KOM 2019, kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas partisipasi Anda. Saya ingin hidup aktif berolahraga semakin besar di Indonesia. Kepada para sponsor, terima kasih banyak atas dukungannya. Kami sadar, tidak banyak pihak mau mendukung acara sepeda.

Mohon maaf apabila ada kekurangan. Kami akan selalu berusaha memperbaiki.

Apabila masih ada orang yang tidak suka dan tidak terima dengan penjelasan saya, juga saya bisa memaklumi. Sahabat saya mengirim saya pesan tentang adanya aturan “one in five.”        

Bahwa dari lima orang, satu akan menyukai dan memahamimu, apa pun yang kamu lakukan. Kemudian, satu lagi akan tidak menyukaimu, tidak memahamimu, apa pun yang kau lakukan. Tiga lainnya akan lebih adil dan seimbang, menilai secara lebih obyektif.

Sekali lagi terima kasih.

Selamat gowes selalu dan jangan pernah kapok! (azrul ananda)

 


COMMENTS