LINTASAN gravel di Glenmore, Banyuwangi, memberikan pengalaman spesial bagi para peserta Nggravel Glenmore 2026. Dengan karakter jalur yang didominasi tanah, pasir, dan bebatuan, peserta harus menghadapi kombinasi permukaan cepat, tanjakan, hingga turunan yang menuntut konsentrasi tinggi.

Namun, setiap peserta memiliki kesan positif terhadap lintasan tersebut.

Berry Perdana Putra memberi apresiasi tinggi untuk rute Nggravel Glenmore 2026. Ia bahkan memberi nilai rute 10/10 dan view 100/10. Baginya, lintasan itu menghadirkan karakter true gravel race dengan kombinasi jalur cepat dan panorama yang kuat.

"Salah satu bagian favorit saya itu sekitar KM 70. Turunan panjang dengan latar pegunungan, terus lanjut ke jalanan aspal," ungkap Berry. Bagi dia, kombinasi karakter lintasan dan lanskap Glenmore benar-benar bikin ia ingin kembali berpartisipasi tahun depan. "Amazing!," kata cyclist 38 tahun itu dengan nada takjub.

Stephen Lane, cyclist asal Australia, punya pendapat berbeda. Menurutnya, rute Nggravel Glenmore menawarkan kombinasi karakter gravel yang cukup lengkap. Juara kategori Gravel Men 45 and Up itu menilai lintasan Glenmore memiliki variasi permukaan yang menarik.

Baca Juga: Cerita Peraih Lanterne Rouge Nggravel Glenmore 2026, Termotivasi Pacar dan Anak

Baca Juga: Crismonita Jadi Cyclist Perempuan Pertama yang Masuk Finis Nggravel Glenmore 2026, Maghfirotika Kedua


Peserta Nggrvel Glenmore memasuki kawasan hutan pinus yang menawarkan suasana tenang dan rindang. Udaranya sangat sejuk, pemandangannya indah. 

"Ada beberapa bagian yang berbatu, ada juga yang mulus, terutama setelah melewati perkebunan tebu. Jadi, lintasannya cukup lengkap dengan berbagai macam karakter,” ujar Stephen. Menurutnya, beberapa bagian lintasan terasa kasar. Namun, secara keseluruhan, ia sangat menikmatinya. Karena tidak hanya menawarkan satu jenis surface.

Cyclist asal Australia itu kemudian membandingkan lintasan gravel di negerinya yang memiliki permukaan yang lebih kasar. Tapi di sisi lain juga terdapat jalur gravel yang sangat cepat dan mulus. Dibandingkan pengalaman gravel sebelumnya di Indonesia, termasuk ketika mengikuti Dirtyland, Stephen menilai Glenmore memberikan pengalaman yang lebih menyenangkan.

Ia bahkan menyebut lintasan tersebut sebagai salah satu rute gravel yang relatif mulus untuk ukuran Indonesia. Meski demikian, Stephen berharap menggunakan ban yang sedikit lebih besar. "Aku merasa beberapa bagian lintasan akan lebih nyaman jika menggunakan ban dengan ukuran yang lebih besar," tuturnya, yang saat race menggunakan ban ukuran 40.

Francesco Bruno, sementara itu, menyoroti keunikan lintasan yang dilewati peserta. Pesepeda asal Italia yang telah tinggal di Indonesia selama sekitar 30 tahun itu menilai Glenmore sebagai salah satu rute gravel terbaik yang pernah dijajalnya di Indonesia.

Sebelumnya, Francesco terjun di Nggravel Blitar 2026. Menurutnya, Nggravel Glenmore terasa lebih merepresentasikan karakter gravel karena menawarkan kombinasi jalur yang cepat dengan sejumlah bagian berbatu. "Kalau kamu suka melaju cepat, ini (Glenmore) lebih menyenangkan. Sangat fun," ujar Francesco.

Baca Juga: Kejutan Besar, Bart Vreugdenhil Finis Terdepan di Nggravel Glenmore 2025

Baca Juga: Baru 2 Hari Latihan, Angga Dwi Wahyu Juara MTB Nggravel Blitar 2026


Para peserta melintasi kawasan perkebunan kelapa yang menawarkan sensasi berbeda. Panas, tapi cantik.

Ia awalnya memperkirakan rute Glenmore akan terasa monoton. Ia bahkan tidak punya ekspektasi soal panorama. Namun, pandangannya berubah setelah melihat jalur yang melewati perbukitan, persawahan, hingga perkebunan tebu.

"Ternyata sangat menyenangkan, karena hampir sepanjang rute kita bisa melihat pemandangan yang bagus," ujarnya riang.

Baginya, salah satu bagian paling menyenangkan berada setelah checkpoint pertama. Jalur gravel yang cepat membuatnya bisa melaju dengan kecepatan tinggi. Sementara itu, bagian yang paling menantang justru muncul ketika peserta memasuki jalur berbatu. "Di rock garden itu badan sampai terguncang seperti rock and roll," ujar Francesco, lantas tertawa.

Meski memiliki pengalaman bersepeda di berbagai wilayah Indonesia, Francesco menilai karakter Glenmore cukup unik. Menurutnya, kawasan perkebunan tebu memberikan ruang yang luas untuk membuat berbagai kemungkinan rute gravel. "Ini seperti playground. Di area perkebunan tebu yang indah ini, sebenarnya panitia bisa membuat rute sampai 200 kilometer."

Sementara itu, pengalaman peserta dari Indonesia menunjukkan sisi lain dari lintasan Glenmore. Ari Ersandi, peserta asal Glenmore yang mengikuti kategori 80 kilometer non-kompetitif, mengaku sudah familiar dengan kawasan sekitar Banyuwangi. Namun, ia belum pernah menjajal rute yang mencakup area seluas lintasan Nggravel Glenmore.

"Sebagai warlok, biasanya kalau main sepeda di daerah sini cuma di bagian selatan atau utara. Ini seperti mencakup seluruh area. Jadi area yang dipilih juga pemandangannya sangat bagus," ujar Ari.


Area persawahan juga menjadi tantangan tersendiri bagi peserta. Tanahnya lebih gembur, kadang ada genangan. Sulit melaju kencang di sini.

Baca Juga: Nggravel Glenmore 2026 Digeber, 400 Cyclist Taklukkan Unbound-nya Indonesia

Baca Juga: Adrian Ingin Ulang Sukses Blitar di Nggravel Glenmore 2026, Kadek Penantang Serius

Bagi Ari, salah satu bagian paling menantang berada di tanjakan panjang sebelum Beji Antaboga. Setelah melewati tanjakan, kawasan Antaboga justru menjadi bagian yang menarik karena suasana hutan yang rindang. Hijaunya pepohonan pinus berpadu cantik dengan tanaman andong merah di bawah. Sungguh memanjakan mata.

Sang kakak, Widi Lingga, memiliki pengalaman yang sedikit berbeda. Sebelumnya, ia memang sudah beberapa kali mengikuti event MTB lokal di Banyuwangi. Tapi jaraknya tidak pernah mencapai 80 kilometer. Karena itu, mereka sejak awal tidak memasang target untuk menyelesaikan seluruh rute. Hanya ingin menikmati perjalanan.

Strategi mereka pun sederhana. Karena kategori yang diikuti bukan perlombaan kompetitif, keduanya lebih memilih menjaga kecepatan agar tetap berada dalam batas waktu yang ditentukan. "COT-nya kurang lebih delapan jam. Jadi kami ukur rata-rata speed-nya. Jangan sampai di bawah 10 kilometer per jam," kata Widi.

Pengalaman para peserta Nggravel Glenmore 2026 menunjukkan bahwa karakter utama lintasan terletak pada keberagamannya. Stephen melihatnya sebagai kombinasi gravel cepat dan kasar. Francesco menikmati jalur cepat sekaligus lanskap perkebunan yang cantik. Ari dan Widi merasakan pengalaman baru menjelajahi wilayah yang selama ini mereka kenal dari perspektif berbeda.

"Kalau ada gravel race lagi, saya pasti akan kembali. Dari Bali juga mudah untuk datang ke sini," ujar Stephen Lane. (Mainsepeda)

Populer

Backpacker Belanda Gowes Jakarta-Bali, Berujung Ikut Nggravel Glenmore
Baru Dua Hari Latihan, Angga Dwi Wahyu Juara MTB Nggravel Glenmore 2026
Nggravel Glenmore 2026 Digeber, 400 Cyclist Taklukkan Unbound-nya Indonesia!
Kejutan Besar, Bart Vreugdenhil Finis Terdepan Nggravel Glenmore 2026
Remco Evenepoel Juara Eropa 2026 Usai Menang Photo Finish
Crismonita Jadi Cyclist Perempuan Pertama yang Finis di Nggravel Glenmore 2026
Ini Kalender Event Mainsepeda 2026 - Tantangan untuk Segala Jenis Sepeda!
Komunitas Goku Siap Jelajah Glenmore Lalu Berburu Rujak Soto
Azrul Ananda Bagi Tips buat Calon Peserta Nggravel Glenmore 2026
Rela Repot Demi Seru, 20 Cyclist Matador Siap Invasi KAI Ngebel KOM 2026