Cerita Peraih Lanterne Rouge Nggravel Glenmore 2026, Termotivasi Pacar dan Anak

NGGRAVEL Glenmore 2026 bukan hanya soal siapa yang mampu finis paling cepat. Di barisan paling belakang, ada perjuangan para cyclist yang tak kalah menarik. 

Dalam ajang yang digeber Minggu, 4 Oktober 2026, mereka berjuang menaklukkan lintasan kerikil, pasir, dan bebatuan Glenmore. Juga melawan panas dan lelah, hingga akhirnya tiba di garis finis sebelum batas waktu atau cut off time (CoT).

Audy Pristikasari dan Raka Candra adalah dua cyclist yang berada di barisan paling belakang itu. Audy menjadi peraih Lanterne Rouge sektor putri, sedangkan Raka sektor putra. Keduanya sama-sama menuntaskan rute gravel non-kompetitif sekitar 80 kilometer.

Mereka sama-sama tidak mengejar podium. Targetnya sederhana: menyelesaikan perjalanan dan tiba di garis finis mendekati CoT pada pukul 16.00 WIB. 

Audy sebenarnya sudah beberapa kali mengikuti event gravel. Namun, Nggravel Glenmore 2026 menjadi event pertamanya bersama Mainsepeda. Cyclist 31 tahun itu juga baru kembali mengikuti event gravel setelah sekitar dua tahun vakum.

Baca Juga: Kejutan Besar, Bart Vreugdenhil Finis Terdepan di Nggravel Glenmore 2025

Baca Juga: Baru 2 Hari Latihan, Angga Dwi Wahyu Juara MTB Nggravel Blitar 2026

Sejak awal, perempuan asal Sidoarjo yang kini berdomisili di Jember itu memang tidak memasang target waktu. “Target awal finis saja,” kata Audy. Saat menerabas lintasan Glenmore, Audy merasakan tantangan yang jauh lebih berat dari perkiraannya. Sebab, dia terbiasa bersepeda di jalur gravel yang relatif datar.

Di Glenmore, Audy harus menghadapi bebatuan, pasir, hingga tanjakan. Kombinasi medan tersebut membuat tenaganya terkuras dan perjalanan menuju garis finis terasa semakin berat. "Rutenya seru, tapi mematikan. Yang buat rute mantap, sih. Edan!" ujarnya.


Audy Pristikasari ditunggui dan dijemput oleh sang pacar, Ilham, di sektor end gravel Nggravel Glenmore 2026. Audy bangga comeback dan raih Lanterne Rouge. 

Problem Audy makin terasa saat menjelajah rute menjelang checkpoint 2 hingga mendekati finis. Otot kakinya melemah. Detak jantungnya meningkat. Audy kemudian menjaga asupan nutrisi selama perjalanan. Snack bar, permen, dan minuman menjadi bekalnya untuk menjaga tenaga.

Namun, yang menjadi motivasi terbesar Audy adalah orang kesayangannya: Ilham Miftahul Fauzi. Sang pacar ikut bersepeda di kategori non-kompetitif. Keduanya sempat bersama hingga kilometer 65. Setelah itu, Ilham melanjutkan perjalanan lebih dulu untuk mengejar target finis sebelum CoT.

Audy pun harus melanjutkan perjalanan seorang diri. Sempat terlintas dalam pikirannya untuk finis melewati CoT. "Yang penting nyampek finis aja. Entah itu under CoT ataupun over CoT," katanya. "Eh, ternyata bisa under CoT dan dapat Lanterne Rouge," imbuhnya, lantas tersenyum.

Baca Juga: Nggravel Glenmore 2026 Digeber, 400 Cyclist Taklukkan Unbound-nya Indonesia

Baca Juga: Adrian Ingin Ulang Sukses Blitar di Nggravel Glenmore 2026, Kadek Penantang Serius

Apalagi, Ilham ternyata tidak sepenuhnya meninggalkan Audy. Setelah mencapai end gravel, ia tidak langsung ke race village. Ia menunggu Audy di kawasan yang sama sekali tidak didesain untuk kenyamanan itu.

Dan begitu sosok Audy terlihat menuntun sepeda dari kejauhan, Ilham langsung berlari menjemputnya. Lalu merangkul leher pacarnya sampai melewati garis finis. Audy terlihat sangat lega dan terharu.

Tentu, Audy senang menerima penghargaan tersebut. Sebab, sejak awal dia memang sama sekali tidak berekspektasi bisa finis under CoT. Pengalaman itu juga tidak membuatnya kapok. Sebaliknya, Audy ingin kembali mengikuti event gravel Mainsepeda tahun depan.

"Tapi tetap di kategori yang sama, non race. Sama mungkin mulai upgrade komponen sepeda. Termasuk nyoba pakai pedal clipless," kata karyawti Telkom tersebut.


Raka Candra, cyclist asal Bali, ngotot ingin finis sebelum CoT karena merasa disemangati oleh anak-anaknya di rumah. 

Di sektor putra, cerita serupa datang dari Raka Candra. Cyclist asal Tabanan, Bali, itu datang bersama rombongan cyclist dari Denpasar. Mereka memang tidak datang untuk mengejar catatan waktu terbaik. Mereka cuma ingin menikmati lintasan gravel yang rutenya  punya karakteristik seperti Unbound Gravel di Kansas, Amerika Serikat.

Start pukul 07.00 WIB, rombongan Raka berjalan santai. Mereka bahkan sempat menunggu teman yang tertinggal di water station kedua. "Memang niat awalnya enjoy perjalanan, enjoy race-nya," kata Raka.

Baca Juga: Kalah di Blitar, Ethan Siap Patahkan Dominasi Kibar di Nggravel Glenmore 2026

Baca Juga: Backpacker Belanda Gowes Jakarta-Bali, Berujung Ikut Nggravel Glenmore

Konsekuensinya, waktu tempuh menjadi panjang. Raka baru menyelesaikan rute sekitar pukul 15.30 WIB. Cuaca terik menjadi salah satu tantangan terbesar baginya. Apalagi beberapa bagian rute minim tempat berteduh. Raka juga harus berbagi jalan dengan truk besar yang membuat debu dan panas semakin terasa. "Ya sudah. Disabar-sabarin aja," katanya.

Di tengah cuaca terik, Raka dan rombongannya memilih strategi sederhana. Mereka memperbanyak minum untuk menjaga cairan tubuh dan mencari tempat berteduh saat matahari semakin menyengat.

Selain cuaca, kondisi lintasan juga menjadi tantangan. Raka menyebut ukuran kerikil yang berbeda-beda di sepanjang rute menjadi salah satu kendala teknis yang harus dihadapi. Dari kerikil kecil, Raka bisa langsung menghadapi bebatuan yang lebih besar di lintasan lain, terutama saat memasuki tikungan.

Meski berada di barisan paling belakang, cyclist 45 tahun itu tetap yakin bisa menyelesaikan balapan. Ia terus memantau sisa jarak dan kondisi tanjakan melalui cycling computer. Plus, ada satu hal yang bikin ia tidak menyerah. "Saya inget anak-anak aja sih. Sebab, selama ini, merekalah yang selalu menyemangati saya," ucapnya.

Raka akhirnya tiba di end gravel sekitar pukul 15.30 WIB. "Posisi terakhir bukan persoalan bagi saya. Karena niatnya memang nyantai ya. Eh, malah dapat Lanterne Rouge. Bersyukur ya," ujarnya. (Mainsepeda)


COMMENTS