PERSAINGAN Yusuf Kibar dan Ethan Batara Njotoprawiro kembali tersaji di Nggravel Glenmore, Minggu, 4 Oktober 2026. Keduanya turun di kategori yang sama, Gravel Bike Men 34 and Under. Duel itu bukan yang pertama. Kibar dan Ethan sebelumnya juga bertemu di Nggravel Blitar 2026.
Saat itu, Kibar finis pertama kategori Gravel Bike Men 34 and Under dengan catatan waktu 3 jam 30 menit 14 detik. Sementara itu, Ethan harus puas finis di posisi kedua dengan catatan waktu 3 jam 23 menit 57 detik. Selisih waktu keduanya memang cukup jauh, yakni 6 menit 17 detik.
Namun, persaingan antara keduanya kembali menjadi perhatian. Di Nggravel Glenmore, Ethan punya kesempatan untuk balas dendam dan mematahkan dominasi Kibar di gravel-nya Mainsepeda. Ethan mengakui dirinya masih relatif baru di gravel dibandingkan Kibar. Namun, hasil di sejumlah ajang Mainsepeda membuat kepercayaan dirinya meningkat.
Di Bromo KOM 2026, Ethan finis pertama di kategori Men Age Under 29 dengan catatan waktu 1 jam 22 menit 40 detik. Kemudian ia kembali menjadi juara di KAI Ngebel KOM 2026 kategori Men Age 22-29 dengan waktu 32 menit 26 detik.
Kini, Ethan lebih siap menghadapi Kibar di lintasan kerikil, pasir, dan bebatuan Glenmore. "Saya sudah mengambil banyak pelajaran dari Nggravel Blitar. Salah satunya soal pentingnya setup sepeda," ujar Ethan.
Baca Juga: 3 Bestie Pencinta Gravel Ingin Nikmati Unbound-nya Indonesia Sambil Ngonten
Baca Juga: Dari RD Hang Sampai Ganti Ban, Bike Check Jadi Penyelamat Sebelum Start Nggravel Glenmore
Di Blitar, cyclist berusia 26 tahun itu masih menggunakan setup road bike. Masalah muncul saat race. Misalnya rantai sepedanya beberapa kali copot. Juga rear derailleur (RD) yang dipakai kurang kuat menghadapi karakter trek gravel. "Pendekatan itu saya ubah. Makanya lebih siap untuk race Nggravel Glenmore Minggu besok," kata Ethan, Sabtu, 3 Oktober 2026.
Setting sepeda yang dipakai Ethan untuk Nggravel Glenmore banyak berubah. Ethan menggunakan sistem one-by dengan single chainring di depan. RD-nya memakai Shimano Deore XT dari MTB. Ia juga tetap menggunakan ban 40 mm dengan jenis ban semi slick. Menurutnya, perubahan itu penting karena karakter trek Glenmore berbeda dari Blitar.

Ethan Batara Njotoprawiro ketika berlomba di Nggravel Blitar 2026. Ia membidik hasil yang lebih bagus di Nggravel Glenmore, yakni juara.
Bukan hanya setup sepeda yang dibenahi. Ethan juga memperkuat teknik balapnya. Baginya, gravel bukan sekadar soal ketahanan fisik. Seberapa kuat seorang rider, kemampuan mengendalikan sepeda tetap penting. Utamanya saat menghadapi turunan dan medan teknikal.
Di bagian itulah, Ethan masih ingin banyak belajar. "Karena yang lebih penting adalah pengalaman dan teknik," katanya.
Di Nggravel Glenmore 2026, Ethan ingin finis dengan hasil memuaskan. Jika di Nggravel Blitar finis di posisi kedua, kali ini ia membidik hasil yang lebih baik. Berarti: juara. Namun, ia tetap realistis dengan persaingan yang akan dihadapi dengan Kibar dan cyclist lainnya. "Keinginan untuk menang tentu ada. Tetapi saya juga realistis. Kita lihat besok," kata Ethan.
Ada satu bagian trek yang paling ia tunggu. Yakni tanjakan panjang sekitar kilometer 60 hingga 70. Menurutnya, karakter tersebut sesuai dengan gaya balapnya. "Kalau posisi saya ada di depan. Saya bisa gas pol di KM 60-70. Saya senang dengan tanjakan panjang," kata cyclist asal Surabaya tersebut.
Untuk balapan sejauh 100 kilometer, Ethan tidak ingin terburu-buru. Ia akan membaca situasi sejak awal. Melihat siapa yang agresif dan siapa yang memilih bertahan. Selain Kibar, Ethan juga mewaspadai Rachmad Noka Wibisono dari Der Radrennen Junkie (DRJ) Cycling Team.
Baca Juga: Komunitas GOKU Siap Jelajahi Glenmore Sambil Berburu Rujak Soto
Baca Juga: Stephen Lane dan Kai Besser Siap Debut Gravel di Indonesia Lewat Nggravel Glenmore 2026
Menurutnya, kualitas Noka akan membuat persaingan semakin kompetitif. Namun, Ethan tidak ingin hanya terpaku pada rival-rivalnya. Fokus utamanya adalah memberikan performa terbaik saat race nanti. "Targetnya menang jika memungkinkan. Atau finis di podium tiga besar. Itu sudah hasil yang membanggakan," katanya.
Sementara itu, Yusuf Kibar percaya diri bisa mempertahankan dominasinya di Nggravel Glenmore 2026. Kibar mengakui, Ethan bukan lawan yang bisa dianggap enteng. Bahkan, Kibar menilai karakter trek Glenmore justru cocok untuk gaya balapan Ethan. "Karena Glenmore enggak terlalu banyak teknikal, harusnya Ethan lebih unggul," kata Kibar.
Alasannya sederhana. Ethan punya latar belakang road bike. Sementara Glenmore menawarkan jalur yang lebih lebar, dengan kerikil dan batu-batu kecil. Berbeda dengan Blitar yang banyak menghadirkan single track dan medan teknikal. "Kalau di Glenmore kayaknya lebih pure full tenaga masing-masing," imbuhnya.
Kibar sendiri datang dengan modal pengalaman panjang di gravel. Ia pernah finis kelima kategori usia 19-29 tahun di Unbound Gravel 2025, Amerika Serikat. Ia juga meraih posisi keempat UCI Gravel World Series Dustman 2025 di Thailand dan podium ketiga HYSK Gravel Classic Yakurai 2026 di Jepang.

Yusuf Kibar tampil di Nggravel Blitar 2026, di mana ia menjadi juara kategori Gravel Bike Men 34 and Under. Ia akan berusaha mempertahankan dominasinya.
Terakhir, Kibar menjadi juara Nggravel Blitar 2026. Namun, hasil itu tidak membuatnya menyepelekan lawan-lawannya. Apalagi, Ethan datang dengan misi membalas kekalahan dan menghentikan dominasi Kibar di ajang gravel. "Saya enggak ada beban. Kita di gravel itu asyik banget. Nikmatin aja," katanya.
Baca Juga: Curi Start, 2 Cyclist Gowes Antarpulau Menuju Nggravel Glenmore 2026
Baca Juga: Graveleur YK Bawa Pengalaman Off-Road Jogja ke Glenmore
Persiapan Kibar kali ini cukup berbeda. Ia sebenarnya sedang menyiapkan diri untuk tampil di Gravel World Championship di Australia pada November 2026. Latihannya pun banyak diisi tanjakan. Ia juga menurunkan berat badan sekitar enam kilogram.
Sayang, rencana itu batal karena visanya tidak lolos.
Karena itu, Kibar siap tampil maksimal di Nggravel Glenmore 2026. Ia juga menyesuaikan setup sepedanya untuk menghadapi karakter trek Glenmore. Ban semi-slick dipasang di belakang. Bagian depan menggunakan ban dengan knob lebih besar untuk menjaga handling.
Ukuran chainring juga dinaikkan dari 42 menjadi 44. Ban belakang berukuran 42 mm. Ban depan 45 mm. Kibar sengaja memilih tekanan ban yang lebih rendah. "Memang sepeda saya akan jadi berat. Tapi itu saya kesampingkan. Biar dapat kenyamanannya," tuturnya.
Strategi Kibar di Nggravel Glenmore cukup sederhana. Ia tidak menyiapkan rencana khusus untuk menghadapi balapan gravel 100 kilometer ini. Kibar akan melihat situasi di lintasan. Ia akan membaca ritme balapan sejak awal. Jika ada rombongan yang mencoba menjauh, ia akan melihat apakah perlu mengikutinya.
Begitu juga jika ada peluang untuk membuat jarak dengan pembalap lain. Kibar siap mengambil kesempatan tersebut. "Kalau bisa breakaway, ya breakaway. Kalau ada yang breakaway, saya ikut,” katanya.
Baca Juga: 3 Cyclist Senior Siap Taklukkan Nggravel Glenmore 2026, Usia Bukan Halangan
Baca Juga: Khusus Cewek! Ini Tips Taklukkan Glenmore 2026 buat Cyclist Perempuan
Yang menarik, Kibar mengaku dirinya dan Ethan sebenarnya berada dalam satu tim di DRJ Cycling Team. Karena itu, duel keduanya tidak selalu berarti saling menyerang. Di lintasan, Kibar tetap akan berdaing secara kompetitif. Namun, ada kemungkinan keduanya justru bisa salong bekerja sama untuk menghadapi pembalap lain.
Pada akhirnya, siapa yang finis di depan tetap akan menjadi cerita yang seru. "Mungkin kita aksi-aksi berdua untuk sama-sama berada di podium. Entah siapa yang dapat podium pertama," ucap Kibar lantas tertawa.
Kibar mengakui persaingan di Nggravel Glenmore 2026 akan lebih ketat dibandingkan Blitar. Menurutnya, peserta yang turun kali ini lebih kompetitif. Persaingan sejak awal juga diperkirakan akan berlangsung ketat.
Namun, Kibar tidak ingin terlalu memikirkan hal itu. Ia optimistis bisa menjadi yang terbaik. “Insya Allah masih bisa mempertahankan juara seperti yang di Blitar,” ujar Kibar. Siapa yang akan lebih dulu melewati garis finis? Menarik untuk ditunggu. (Mainsepeda)