Dari RD Nge-Hang sampai Salah Ban, Bike Check Jadi Penyelamat Sebelum Start Nggravel Glenmore

LATIHAN berbulan-bulan bisa sia-sia karena satu masalah kecil pada sepeda. Ban bocor, rantai bermasalah, atau rear derailleur (RD) yang tiba-tiba ngadat dapat mengubur target cyclist sebelum mencapai garis finis.

Karena itu, bike check menjadi tahapan penting yang wajib dijalani peserta sebelum start Nggravel Glenmore pada Minggu, 4 Oktober 2026. Pemandangan itu terlihat saat pengambilan Race Pack Collection (RPC) Nggravel Glenmore di Hall Center Industri Gula Glenmore (IGG), Sabtu, 3 Oktober 2026.

Tiga peserta yang datang lebih awal sebelum pengambilan RPC dibuka langsung menggiring sepedanya ke area bike check. Mereka ingin memastikan tunggangannya benar-benar siap menghadapi lintasan kerikil, pasir, dan bebatuan Glenmore.

Dua peserta pertama yang mengambil race pack berasal dari Depok. Mereka adalah Marselus Pasha dan Jefri Sesunan. Tak lama kemudian, hadir pula Budi Harsoyo. Ia adalah pesepeda asal Malang yang aktif mengikuti event Mainsepeda di usia 70 tahun.

Bagi Marselus yang turun di kategori Gravel 100 Km, bike check bukan sekadar formalitas. Ia pernah merasakan bagaimana masalah mekanikal menggagalkan targetnya. "Kalau soal sepeda, kita tidak pernah tahu kapan masalah bisa muncul. Minggu lalu RD sempat nge-hang dan tidak bisa pindah gigi. Itu yang paling saya khawatirkan," ungkapnya.

Baca Juga: Ngaspal Sehat Racing Club, Komunitas Road Bike Gresik yang Terus Tumbuh

Baca Juga: Stephen Lane dan Kai Besser Siap Debut Gravel di Indonesia Lewat Nggravel Glenmore 2026

Pengalaman itu membuatnya tidak ingin mengambil risiko. Sebelum mengambil race pack, ia langsung menuju area bike check untuk memastikan seluruh komponen sepedanya dalam kondisi aman.


Marselus Pasha sengaja mengambil race pack paling pagi agar bisa bike check lebih leluasa.

Marselus bisa sedikit bernapas lega. Setelah memeriksa sepedanya, mekanik tidak menemukan catatan khusus. Semua komponen dinyatakan aman. Namun, pengalaman buruk di event balap seepda membuatnya tidak ingin lengah. Ia paham masalah kecil bisa berujung besar di lintasan gravel.

"Faktor mekanikal itu besar sekali. Bisa bocor, bisa ada komponen bermasalah. Dengan Bike Check, kalau ada yang kurang masih bisa diperbaiki sebelum race," katanya.

Karena itu, target utama Marselus bukan sekadar podium. Rider debutan di event Mainsepeda tersebut lebih mengutamakan race yang bersih tanpa kendala. "Target saya clean race. Tidak ada crash, tidak ada masalah mekanikal, dan bisa finis dengan lancar. Kalau soal podium, itu bonus," ujarnya.

Marselus menyambut positif layanan bike check yang menjadi bagian dari RPC Nggravel Glenmore. Menurutnya, fasilitas yang disediakan Mainsepeda tersebut membantu peserta mempersiapkan diri dengan lebih baik. Termasuk meningkatkan rasa aman sebelum race dimulai besok.

Pandangan serupa disampaikan Jefri Sasunan yang akan turun di kategori MTB 80 Km. Setibanya di lokasi RPC, peserta asal Depok itu juga langsung menuju area bike check.

Baginya, pemeriksaan sepeda menjadi semakin penting setelah melihat karakter lintasan Glenmore. Jalurnya cepat, tetapi banyak dipenuhi kerikil kecil yang berpotensi membuat ban kehilangan traksi.


Ada untungnya Jefri Sesunan melakukan bike check sejak pagi. Ia bisa mengganti ban sesuai yang disarankan mekanik di venue RPC. 

Baca Juga: Curi Start, 2 Cyclist Gowes Antarpulau Menuju Nggravel Glenmore 2026

Baca Juga: Graveleur YK Bawa Pengalaman Off-Road Jogja ke Glenmore

"Setelah lihat rute tadi, bike check itu wajib. Kerikil kecil bisa bikin ban kehilangan grip atau selip. Jadi kondisi sepeda harus benar-benar dipastikan aman," katanya.

Benar saja. Saat bike check, ia menemukan satu hal yang luput dari perhatiannya. Mekanik menyarankan Jefri mengganti ukuran ban. Saat ini ia memakai ban 35 mm. Menurut mekanik, ukuran tersebut kurang ideal untuk karakter gravel Glenmore. Ban 40 mm dinilai lebih cocok. "Setelah saya coba sebagian trek memang terasa agak slip," ujarnya.

Masukan itu langsung ia pertimbangkan. Sabtu masih panjang. Jefri segera mencari toko sepeda di Banyuwangi untuk mengganti ban sebelum race dimulai.

Menurutnya, bike check ini sangat membantu bagi para peserta. Juga menjadi pengingat bagi peserta agar tidak mengabaikan faktor keselamatan. "Kita jadi dapat warning lebih awal. Jangan sampai baru tahu ada masalah ketika sudah di lintasan. Bagi saya ini wajib dan sangat membantu," terangnya.

Sementara itu, peseepda senior asal Malang, Budi Harsoyo, juga sudah melakukan bike check. Tidak ada catatan berarti yang ditemukan mekanik saat mengecek sepedanya. Artinya, sepedanya sudah siap tempur.


Budi Harsoyo siap terjun di Nggravel Glenmore di usia 70 tahun. Setelah bike check, sepedanya dinyatakan aman.

"Sepeda sudah siap dan dinyatakan aman. Maka, badan juga harus siap. Kalau semua aman, tinggal menikmati perjalanan," ujarnya.

Baca Juga: 3 Cyclist Senior Siap Taklukkan Nggravel Glenmore 2026, Usia Bukan Halangan

Baca Juga: Khusus Cewek! Ini Tips Taklukkan Glenmore 2026 buat Cyclist Perempuan

Di Nggravel Glenmore, Budi memiliki pendekatan berbeda. Di usia 70 tahun, ia memilih turun di kategori MTB Non-Kompetitif 80 Km. Targetnya sederhana saja. Yang penting bisa finish strong. Plus menikmati perjalanan dengan pemandangan yang indah.

Meski tidak mengejar podium, ia tetap menganggap persiapan sepeda tidak boleh disepelekan. "Yang penting aman dan nyaman. Saya tidak mau memaksakan. Makanya saya pakai MTB dengan ban yang lebih besar," katanya.

Budi yang juga merupakan finisher Nggravel Blitar mengaku sengaja datang sehari lebih awal dan menginap di Jember agar bisa mengikuti seluruh tahapan persiapan dengan tenang. "Karena sudah ambil RPC, sudah bike check juga, sekarang lega. Besok tinggal bersepeda dengan tenang," ujarnya. 

Nggravel Glenmore 2026 sendiri merupakan event gravel terbaru yang digelar oleh Mainsepeda. Sebelumnya, Mainsepeda lebih dulu mengenalkan event gravel lain sejak tahun lalu: Nggravel Blitar.

Perhelatan Nggravel Glenmore semakin menyemarakkan animo gravelan yang semakin meninggi. Terlebih, rutenya punya karakteristik seperti Unbound Gravel, event gravel terkemuka di Amerika Serikat. Di Indonesia sangat jarang ditemui jalur gravel yang menjual kecepatan dengan segmen tanah padat dan kerikil. (Mainsepeda)


COMMENTS