TELAGA Ngebel di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, kini dikenal luas di kalangan cyclist alias pesepeda. Tentu, salah satunya berkat event KAI Ngebel KOM 2026 yang dihelat Sabtu lalu, 1 Agustus 2026.
Ya, event sepeda yang ramah bagi pemula itu membuka mata banyak cyclist bahwa Telaga Ngebel di Ponorogo ternyata sangat cantik. Dan jalurnya sangat enjoyable untuk dinikmati dengan sepeda.
Asyiknya gowes di Telaga Ngebel bukan hanya soal menaklukkan tanjakan sepanjang 15 kilometer dari Mlilir menuju PLTA Ngebel. Begitu tiba di finis, para peserta KAI Ngebel KOM 2026 langsung disambut udara sejuk khas pegunungan. Juga panorama telaga yang indah di ketinggian 800 MDPL. Rasa lelah pasca menanjak seketika terobati.
Itulah yang membuat Telaga Ngebel begitu istimewa. Hawanya sejuk. Teduh. Menenangkan. Dan berkat Ngebel KOM, banyak orang jadi tahu ada telaga indah yang layak disebut surga baru bagi pesepeda.
Peserta KAI Ngebel KOM 2026 melintasi Telaga Ngebel yang cantik. Jalurnya sangat nikmati dilintasi dengan bersepeda.
Ali Agung Sahbana, misalnya, menyebut rute Ngebel KOM sebagai salah satu tanjakan paling ikonik di Jawa Timur. Cyclist berusia 38 tahun yang pernah meraih tiga medali emas SEA Games itu takjub dengan karakter jalur yang menantang dengan pemandangannya yang indah.
Baca Juga: Terpikat Telaga Ngebel, Cyclist Sebut Race Village KAI Ngebel KOM 2026 Salah Satu yang Terbaik
Baca Juga: VP PT KAI Daop 7 Madiun Ali Afandi Terjun di Ngebel KOM, Antusias Kolaborasi dengan Mainsepeda Lagi
Dari kilometer awal, ritme balapan sudah terasa cepat. Lalu berlanjut ke tanjakan panjang dengan gradien yang terus meningkat. Baginya, titik paling berat ada di kilometer 4-5. Di jalur tersebut, angin terasa mulai kencang. Juga tanjakannya: semakin curam.
"Di sana, kami dituntut bisa menjaga ritme. Artinya, menahan diri agar tidak terburu-buru mengeluarkan tenaga," ungkap Ali. Menurutnya, rute Ngebel KOM tidak hanya menuntut kekuatan fisik, tapi juga mental baja. ”Kalau kaki sudah capek, yang menyelamatkan cuma kepala,” ujarnya.
Tapi, semua rasa lelah itu langsung terbayar lunas ketika tiba di garis finis. Udara sejuk Telaga Ngebel langsung datang menyergap. Panorama telaganya indah. Suasana race village-nya juara.
Pemandangan yang membentang luas itu membuat pengalaman bersepeda terasa lebih memikat. Setiap mata dimanjakan oleh permukaan danau yang tenang. Berkilau memantulkan langit biru. Airnya beriak ringan, sesekali terpecah oleh speedboat mungil yang mengangkut dua tiga penumpang.
Dua peserta Men Category Age 30-34 memasuki kawasan Telaga Ngebel sambil ngobrol. Panorama indah dan udara sejuk begitu menenangkan.
"Saya baru pertama kali main ke sini, dan langsung terkesan dengan suasananya. Mungkin nanti akan kita agendakan untuk latihan bersepeda ke sini," ujar cyclist yang turun di kategori Men Elite itu.
Baca Juga: Ayip Rizal dan Dian Erliyani Rebut Lanterne Rouge, Tetap Bangga
Baca Juga: Baru 13 Tahun, Nadira Jadi Peraih Podium Termuda KAI Ngebel KOM 2026
Ali menilai race village Telaga Ngebel layak disebut salah satu yang terbaik. Rute ekstrem berpadu dengan suasana alam yang menenangkan menjadikan event itu istimewa. Bagi banyak cyclist, termasuk Ali, Ngebel KOM seperti traveling ke destinasi wisata baru sambil bersepeda.
"Selain pemandangannya yang bagus, Ngebel juga ngajarin saya kalau proses itu lebih berharga dari hasilnya," tegasnya.
Kesan serupa juga dirasakan Ilham Prakasa. Kebetulan, cyclist muda yang tampil di kategori Men 21 and Under itu baru kali pertama menjajal event Mainsepeda. Remaja kelahiran Banyumas, 10 April 2008 itu, langsung terkesan dengan rute Ngebel KOM.
Sayang rasanya jika lewat Telaga Ngebel tapi tidak mengabadikannya. Seorang peserta KAI Ngebel KOM terlihat merekam panorama danau dengan gawai.
Menurut Ilham, rute Ngebel KOM terasa sangat cepat, full speed sejak start. Karena start kategori Men 21 and Under digabung dengan Men Elite, ritme balapan benar-benar kencang. "Menurut saya, kunci saat race bukan hanya soal kuat di tanjakan. Kita juga harus pintar mengatur tenaga dan menjaga posisi sejak awal," ungkapnya.
Bagian paling menantang baginya adalah di letter S setelah turunan. Kondisi jalan berpasir dengan gradien tinggi membuat peluang terlepas dari peloton sangat besar. Spalagi jika terjadi serangan di titik itu.
Meski begitu, jalannya race sesuai dengan persiapan dan ekspektasinya. Karena sebelumnya ia sudah mempelajari rute tersebut lewat channel YouTube Mainsepeda. Namun, momentum paling berkesan bagi Ilham adalah ketika start KOM dimulai.
Baca Juga: Muda Berbahaya! Fariz dan Kamila Jadi Prince dan Princess of the Mountain Ngebel KOM 2026
Baca Juga: Kategori Men Elite Superseru, Imam Arifin Kalahkan Noufal Setengah Roda
"Sangat seru, apalagi ini event pertama Mainsepeda yang saya ikuti," ungkapnya. "Jalannya clear, suasananya meriah, dan terasa kompetitif,” ujarnya. Ia pun mengaku tertarik untuk kembali ikut jika event itu digelar lagi.
Race village yang menanti para cyclist setelah finis. Pemandangan indah dan udara yang sejuk membuat lelahnya nanjak 15km terlupakan.
Alasannya sederhana: Ngebel KOM adalah event besar, seru, dan bergengsi. Dukungan masyarakat juga luar biasa. Persaingannya apalagi. Sangat ketat. "Ngebel KOM buat saya spesial. Rutenya bagus. Favorit digunakan bersepeda," kata pemuda berusia 18 tahun itu.
Sri Yuyumsari, peserta kategori Women 45 and Up, datang jauh dari Batam hanya untuk merasakan keseruan KAI Ngebel KOM 2026. Perjalanan panjang itu terbayar lunas ketika ia berhasil menuntaskan rute tanjakan dan merasakan garis finis di Telaga Ngebel.
Bagi dia, rute dari Madiun menuju Telaga Ngebel menghadirkan kombinasi unik. Rutenya menantang. Suasana telaganya menenangkan. Para peserta jadi punya kesempatan untuk berbagi cerita dengan orang-orang terdekat.
"Nggak sia-sia sudah terbang dari Batam buat ikut Ngebel KOM," kata Yuyum, sapaan akrabnya. "Apalagi bisa finis bareng anak tercinta. Tahun depan kalau ada lagi, akan ajak banyak temen-temen dari Batam," lanjut dia. (Mainsepeda)