STORY: Me and My Bike (32)
“Meditasi” ala Endot, Turing Ribuan Kilometer dengan Sepeda Lipat
by - July 19, 2019

Awas! Bersepeda bisa membuat adrenalin tertantang untuk lebih jauh dan lebih jauh lagi! Seperti yang dialami oleh Endy Anitiyarsa. Cyclist asal Jakarta Timur ini awalnya tidak ada niat bersepeda.

Karena mengantarkan orang tuanya membeli sepeda tahun 2010, Endy jadi tergiur salah satu sepeda lipat merek Dahon Speed P8. Setelah membelinya, Endy gowes bike to work (B2W) dan menemukan kenyamanan bisa menerobos macet parah khas Jakarta.

“Gowes pulang dari kantor, sampai rumah bisa lebih fresh. Beda apabila saya pulang dengan mobil, rasanya masih kepikiran kerjaan kantor,” tutur Endot, sapaan akrabnya. Buatnya, selain sebagai sarana transportasi, sepeda juga alat untuk refreshing dan hiburan. Endot kerap menyebut turing jarak jauh yang sering dilakoni itu sebagai “tamasya”.

“Biar kesannya tidak serius dan banyak fun-nya. Pada dasarnya saya suka keindahan alam jadi dengan bersepeda saya bisa mengeksplor lebih dekat,” bilangnya.

Selain itu, di atas sadel sepeda lipat-nya itu, Endot bisa “retret” karena sepi sendirian apalagi jika gowes malam. “Di saat-saat itu saya bisa introspeksi diri, merenung atas apa yang telah saya kerjakan dan merencanakan sesuatu untuk masa depan,” tukasnya.

Sebetulnya Endot tidak sengaja bertemu dengan teman-teman Surabaya saat bersepeda di Bali. Dari situ, Endot menjalani “tamasya” pertamanya dari Surabaya – Blitar – Malang – Surabaya di tahun 2012. “Saya kurang puas, sendirian saya melanjutkan perjalanan menuju kampung halaman, Klaten,” bilangnya.

Uniknya, Endot tidak pernah menggunakan road bike atau mountain bike. Perjalanan panjangnya selalu menggunakan sepeda lipat. Pilihannya, Dahon Speed P8, Brompton S-Type dengan 3 speed external dan mountain drive di depan, atau Bike Friday NWT.

Buat dirinya sepeda lipat itu simpel. Tinggal lipat, kempesin ban, dan bungkus plastic wrapping di bandara. Beres! “Sedikit susahnya terasa saat gowes menanjak, harus lebih sabar bila menggunakan sepeda lipat,” tuturnya.

Rute “tamasya” Endot termasuk spektakuler. Gowes Bekasi-Jogja 500 km dalam 3 hari di tahun 2018, gowes Jogja-Malang 330 km dalam 3 hari di akhir Juli 2019. Gowes Audax 200 km, 300 km, 400 km, dan 600 km semuanya sudah dijalani di tahun 2019 ini.

Seringnya, Endot menjalani “tamasya” ini bersama kawan-kawan dari Broder (Brompton Rider Bekasi). Rute Gorontalo-Manado 400 km dijalani juga selama empat hari di tahun 2016 dengan elevasi total 5.450 meter.

Jakarta – Lombok sejauh 1.300 km sudah pula dilakoni tahun 2016 dalam waktu 7 hari. Bahkan sejak 2013, mudik kala lebaran tidak lagi pakai kendaraan. Tapi gowes Jakarta – Klaten selama 3 hari dengan jarak 550 km!

“Saya pernah jalani jelajah 5 danau di Sumatera Barat yaitu Maninjau, Singkarak, Danau Atas, Danau Bawah, dan Kerinci di tahun 2018,” bangga Endot yang juga pernah gowes dari Kupang ke Atambua di tahun 2017.

Paling “gila” adalah “tamasya” Endot dari Jakarta ke Surabaya via jalur pantura. “Jakarta Klaten 3 hari 550 km. Istirahat dulu di Klaten selama dua hari. Lanjut Wonogiri, Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, finis Surabaya selama 2 hari sejauh 420 km,” jelas Endot.

Saat turing itu, Endot selalu merasa “dicintai dan dibenci”. Dicintai karena banyak pengendara mobil atau motor yang berbagi bekal makanan kepadanya. “Waktu gowes Jakarta – Surabaya saya pernah dapat bir dari sopir truk. Lalu di Pacitan dapat snack dan minuman dari pengendara motor,” bangganya.

Tapi di satu sisi, kadang Endot merasa miris karena keberadaannya sebagai cyclist kurang dihargai. Kerap dipepet kendaraan dan pernah hingga harus turun keluar dari aspal agar tidak bertabrakan.

Endot masih punya angan-angan yaitu gowes dari Manali ke Khardung La di India. “itu sekitar 500 km dengan elevasi dari 2.000 meter naik hingga 5.313 meter!” tutupnya. (mainsepeda)


COMMENTS