Diseruduk Motor, Patah/Retak Lima Tulang, Gowes Lagi dalam Tiga Pekan (1)
Ada Ambulans Berhenti tapi Tidak Ada Gunanya
by - October 20, 2018

Hukum probabilitas menimpa saya pada 23 September 2018. Gowes sendirian, berpisah dengan teman-teman karena harus menghadiri acara Minggu pagi itu, saya diseruduk motor saat di Jalan Raya Porong, Sidoarjo.

Saya mengalami patah tulang pada beberapa bagian di sekitar bahu kanan. Tepatnya patah clavicula, scapula, plus retak tiga rusuk.

Pak Khoiri Soetomo (jersey kuning) dan dr. Theri Effendi (kaos putih).

Saya sebut ini hukum probabilitas, karena waktu ikut ujian SIM di Amerika dulu, disampaikan statistik yang menyatakan bahwa setiap orang akan mengalami kecelakaan, besar maupun kecil, rata-rata setiap enam tahun. Nah, anggap saja secara probabilitas, ini memang giliran saya (he he).

Ada yang bilang, cedera seperti itu butuh waktu hingga tiga bulan untuk bisa kembali ke jalan. Tapi saya selalu mengingatkan pada diri saya sendiri, bahwa yang “rusak” hanya “hardware.” Bagian-bagian yang “software” untuk fungsi sehari-hari tidak ada yang error.

Dengan semangat itu, plus penanganan dan disiplin pribadi, syukur alhamdulillah, saya sudah gowes lagi di jalan pada Rabu, 17 Oktober. Itu berarti 24 hari setelah jatuh dan operasi (tiga pekan lebih sedikit).

Tidak sampai satu bulan. Tidak sampai tiga bulan.

Dan gowesnya tidak tipis-tipis. Gowes beneran 60 km. Walau datar, saya sudah bisa melaju bareng teman-teman, bahkan sanggup sprint.

Teman-teman pun banyak yang heran dan bertanya, bagaimana bisa secepat itu?

***

Saya ingat betul kejadiannya.

Minggu pagi itu seharusnya saya join teman-teman di Wdnsdy Café, Surabaya, untuk gowes rute Gresik. Tapi malam sebelumnya saya bilang harus pisah rute karena harus menghadiri acara pukul 08.00.

Biasanya, kalau mau ke bandara atau ada acara sepagi itu, saya gowes sendirian dari Surabaya ke Tanggulangin atau Porong, Sidoarjo, lalu putar balik. Jarak pas 50 km sampai rumah, dalam waktu tak sampai 1,5 jam.

Pagi itu saya rute yang sama, berangkat pukul 05.00 dari rumah. Pukul 05.37 (saya lihat Garmin waktu itu), saya melintasi rel kereta api Tanggulangin. Hanya sekitar 1 km kemudian saya akan putar balik.

Sebelum putaran balik, di jalan lebar tiga lajur Raya Porong, saya menoleh dulu ke belakang. Itu sudah normal rutinitas. Kalau clear baru merembet ke kanan untuk putar balik.

Saya melihat ada motor itu. Karena itu saya urung ke kanan, masih dalam posisi lurus perlahan. Menunggu motor lewat, baru ke kanan dan putar balik.

Sepeda saya selalu ada lampu merah di belakang, kelap-kelip. Untuk keamanan. Juga selalu ada lampu di depan, putih, kadang terang kadang kelap-kelip tergantung seberapa terang suasana pagi.

Seharusnya aman.

Braaakkk! Saya terlempar. Saya selalu sadar sepanjang kejadian. Saya ingat badan saya menghantam aspal pada bahu kanan dan kepala bagian kanan.

Saya pakai helm, kepala saya tidak apa-apa (helmnya pecah). Tapi bahu saya sakit sekali. Juga bagian belakang bahu. Saat itu saya sadar, ini pasti patah.

Karena terlempar, relatif tidak ada luka gesekan aspal pada kulit. Hanya hantaman keras di ujung bahu kanan.

Sambil mengerang kesakitan, saya mencoba bergeser ke pinggir jalan. Tidak lama kemudian, ada orang yang membantu menggeser saya ke sisi jalan (maaf, saya tidak ingat siapa).

Saya juga sadar orang yang menabrak saya (anak muda) juga jatuh. Tapi saya tidak melihatnya, karena saya tidak mau bergerak terlalu banyak. Berdasarkan pengalaman di dunia olahraga dan manajemennya, saya tidak ingin ada cedera/masalah tambahan karena gerakan-gerakan yang tidak seharusnya.

Saya sempat mengambil telepon dari kantong belakang sebelah kiri. Nomor yang paling mudah saya tekan adalah nomor adik saya, Isna. Karena istri saya pun waktu itu sedang ada acara, tidak mungkin angkat telepon. Saya hanya ucapkan empat kata: “Diseruduk motor. Jembatan Buntung.”

Setelah itu telepon saya tutup.

Beruntung, jalur itu adalah rute favorit sepeda. Banyak orang sepeda, kebanyakan kenal saya, berhenti. Kayaknya lebih banyak yang memotret atau merekam video daripada menolong, tapi banyak yang berhenti.

Untung ada beberapa teman dekat lewat dan berhenti. Lalu dengan cepat mencoba menolong. Beberapa tampak panik, tapi saya sampaikan untuk tidak panik. Bahkan saya bercanda untuk membuat mereka tidak panik. “Tenang bro, saya aman,” kata saya kira-kira.

Haryadi Imanu, teman sepeda, saya minta tolong jadi pintu komunikasi saya. Jadi saya hanya bilang ke dia, tidak perlu ke orang banyak. Dia pun bukan tipe panik, jadi enak.

Haryadi menghubungi dr Theri Effendi, SpOT, sahabat sepeda yang juga dokter urusan tulang-menulang. Untung, walau pagi itu sedang ikut rombongan gowes ke Gresik, dr Theri menerima telepon. Dia meminta Haryadi mengecek kaki dan jari-jemari saya, apakah masih bisa digerakkan. Aman, semua bisa gerak.

Katanya saya seharusnya bisa duduk. Tapi saya menolak, karena yang sakit di bahu bagian belakang. Saya tidak mau duduk sebelum ada pengamanan di leher dan bahu. Takutnya ada yang lain.

Ada ambulans lewat, dan teman-teman menghentikannya. Ambulans sebuah rumah sakit di Sidoarjo.

Saya minta tolong ambilkan neck brace (pelindung leher) di ambulans itu. Ternyata mereka tidak punya! Cilakanya lagi, saat membawa tandu, mereka menjatuhkan tandu itu mengenai lengan kanan saya. Sakitnyaaaa…

Saya dan Haryadi menyatakan tidak percaya pada ambulans itu. Toh mereka juga tidak tahu harus berbuat apa.

Dan, kami hanya perlu sabar sebentar, karena ipar saya Tatang sedang menuju tempat kejadian.

Untung lagi, ada rombongan Surabaya Road Bike Community lewat. Salah satu pesertanya adalah dr Dhany Prasetyanto SpBTKV. Dia dokter bedah jantung, tapi dia tentu punya pengetahuan pertolongan pertama yang top.

dr Dhany Prasetyanto (kiri) dan Anton Rachmansjah (kanan) membantu saya masuk ke dalam mobil.

Dia lantas mengambil dua jaket, lalu mengikatkan kedua jaket itu sedemikian rupa untuk menstabilkan kedua bahu saya. Waaah, legaaa rasanya dan nyamaaan. Baru kemudian saya mau duduk, dan berjalan ke mobil ipar saya yang sudah datang.

Tatang nyetir, dr Dhany duduk di bangku depan. Saya duduk di bangku tengah sebelah kiri. Pak Khoiri Soetomo, sahabat sepeda lama dan mentor kesabaran saya selama ini, duduk merapat ke saya dan terus memegangi/menahan posisi bahu saya.

Cussss, kami pun menuju RS Orthopedi dan Traumatologi.

Dr Theri sudah menunggu di sana (juga ternyata puluhan teman-teman sepeda lain yang sudah mendengar kabar saya jatuh.

***

Selama terbaring 45 menit di sisi jalan plus perjalanan ke rumah sakit, saya sama sekali tidak panik. Saya mencoba untuk tetap sadar dan dingin. Kalau ada apa-apa saya nyeletuk bercanda.

Misalnya waktu terbaring terus melihat langit. Saya melihat teman saya Syaifullah Toha membungkuk melihat saya. Rupanya dia sekarang memelihara janggut. Spontan saya nyeletuk: “Brewokmu elek c*k,” dengan gaya Suroboyoan.

Pak Khoiri sempat menawari kacamata gelap, karena khawatir mata saya sakit karena terus menatap langit. Saya menolak. Saya membalas dengan celetukan: “Tidak apa-apa kok Pak, dari tadi saya menghitung berapa pesawat yang lewat. Sudah ada empat yang lewat.”

He he he…

Saat di mobil pun saya diskusi dengan dr Dhany. Seharusnya, saya menjalani operasi lutut (masalah cedera sepak bola lama) dalam beberapa hari kemudian. Saya pikir, bisa dipaketkan sekalian. Operasi bahu plus lutut.

Tapi ternyata tidak bisa. Karena kalau operasi lutut kanan, saya harus pakai kruk beberapa pekan. Nah ini bahu kanannya juga sedang masalah. Jadi kayaknya harus bahu dulu, baru lutut dijadwalkan di kemudian hari…

Waktu itu saya juga bilang, kalau saya seharusnya bisa balik lagi sepedaan dalam tiga pekan. Pada akhir 2014 lalu, saya juga pernah operasi bahu (rotator cuff). Bukan karena sepedaan, karena masalah lama di mana ujung tulang bahu itu terus menggerus tendon.

Waktu itu, dalam tiga pekan, saya sudah gowes di jalan. Bahkan, pada pekan kelima, saya sudah ikut balapan criterium di Pekan Raya Jakarta.

Jadi ini seharusnya sama. Semoga saja tidak jauh beda. Tinggal nanti bagaimana hasil pemeriksaan di rumah sakit. Dan waktu itu, begitu tiba, sudah ada banyak teman sepeda menunggu.

Ruang gawat darurat pun terasa seperti kombinasi taman kanak-kanak dan kebun binatang. Ada pengusaha main dokter-dokteran. Ada notaris asyik bermain-main dengan stetoskop… (bersambung)

 

 


COMMENTS