Kolom Sehat: Gravel Tahun Kedua

 

Kejuaraan Dunia Gravel di bawah naungan UCI memasuki tahun kedua. Dalam perlombaan yang diselenggarakan di Italia Sabtu dan Minggu lalu (7-8 Oktober), Matej Mohoric (Slovenia) menjadi juara kategori putra. Juara kategori wanita adalah Kasia Niewiadoma(Polandia).

Perlu dicatat, di tengah pentas kejuaraan dunia balap sepeda yang identik dengan Eropa, gravel sebenarnya punya akar di Amerika Serikat. Popularitas bersepeda di lintasan tak beraspal, gravel, berawal dari negeri Lance Armstrong itu. Puncaknya adalah event Unbound Gravel di Emporia Kansas yang setiap tahun diikuti ribuan orang.

Unbound Gravel bukan event yang ada di bawah naungan UCI. Jadi perlombaannya pun dibagi menjadi dua kelas, ada yang amatir ada yang profesional. Dan yang di Emporia lebih rock ‘n roll, lebih hippie, pesertanya dari banyak kalangan dan hore-hore orangnya. Paling tidak, itu kesan saya selama mengikutinya pada tahun 2021 dan 2022. 

Lalu bagaimana gravel di Indonesia sekarang?

Sudah lebih satu dasawarsa saya bersepeda, mulai dari sepeda ban kecil, ban tebal, sampai ban 700c. Rute yang pernah saya lalui juga cukup banyak. Sering orang bertanya apa nggak bosan? Jawabannya nggak. Saya nggak bosan. Saya bosan sekaliiiiiiii.

Salah satu sebab saya masih bersepeda adalah adanya event-event baru yang unik, atau event-event yang nggakpernah saya ikuti baik rutenya, kontur jalannya, atapun jaraknya yang menantang. Hal itu salah satunya bisa ditemukan dalam event gravel.

Kini, salah satu event bersepeda yang berkembang pesat di tanah air adalah event gravel. Mungkin tidak bisa dikategorikan gravel seperti di sono, di negara asalnya. Tapi di Indonesia juga masih banyak jalan setapak keras yang tidak beraspal tapi tidak terlalu berkerikil (gravel). Istilah yang mungkin lebih tepat all road atau all terrain atau light gravel. Jangan sampai istilah-istilah ini membuat perpecahan intinya sepedaan tidak melulu di aspal rata itu menyenangkan.

Kenapa begitu? Karena ada beberapa seni bersepeda yang tidak didapat di jalan aspal rata. Berikut beberapa hal seru bersepeda gravel:

1. Pengetahuan medan

Namanya saja jalan nggak beraspal, tentu aja jarang ada rambunya, juga sering kali di tengah jalan ada batu besar,bolongan, ranting, dan lainnya. Hal itu membuat kita tidak boleh meleng sedikit pun, melatih handling, menguatkan tangan, dan titik berat tubuh.

2. Rute yang nggak lazim dan cenderung sepi

Sebagus-bagusnya rute aspal, pasti kita akan ketemu kendaraan bermotor kan ya. Lain halnya dengan kebanyakan rute all road ini. Sebagian pelaksana event berlomba-lomba menghadirkan rute asyik yang tidak lazim, yang fun. Seperti bersepeda menyusuri pinggir kali atau bahkan melewati kali kecil. Basah dikit fun, kalau kebanyakan basahnya jadi nggakfun juga.

3. Seni memilih ban

Di medan all road, pilihan ban akan semakin luassss. Terima kasih pada teknologi disc brake, kini lebar ban bisa semau-mau gue. Dari lebarnya, dari kembangannya, dari bahannya, dari jenis berban dalam atau tidak, atau bahkan dari warnanya. Semuanya sangat fun untuk dicoba, dengan harus rela merogoh kocek tentunya.

Dalam waktu dekat akan ada event all road. Tahun depan mungkin event-event seperti ini lebih banyak lagi. Kalau anda menolak bosan bersepeda cobalah varian baru ini,dan semoga anda menikmatinya. Terima kasih. (*)


COMMENTS