Perhelatan Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang berlangsung seru. Air mata, keringat dan kerja keras atlet Indonesia bertarung melawan atlet dari negara Asia berbuah prestasi sangat manis. 31 medali emas, 24 medali perak dan 43 medali perunggu berhasil diraup atlet Indonesia.

Nun jauh dari Indonesia, tepatnya di kota Varese, Italia, saya, Edo Bawono juga berjuang di atas sadel sepeda Wdnsdy AJ1 atas nama Indonesia. Tepatnya di even UCI 2018 Gran Fondo World Championship.

Edo Bawono mengikuti UCI 2018 Gran Fondo World Championship di Varese, Italia. 

Tidak mudah untuk bisa mengikuti even ini. Tidak bisa langsung daftar tapi harus melewati seleksi dahulu. Cyclist harus bisa menempati posisi top finisher 25 persen dari setiap kelompok umur di even yang terdaftar di UCI. Tour de Bintan yang diadakan di pulau Bintan, Indonesia bulan Maret lalu adalah salah satunya.

Kebetulan, saya berhasil menempati peringkat 13 (atau peringkat 1 dari Indonesia) di grup usia 40-44 tahun even Tour de Bintan itu.

Di Varese, Italia ini, saya mengikuti balapan kategori road race yang digelar tanggal 2 September. Kategori ini harus menyelesaikan rute sejauh 135 km dan menanjak setinggi 2.000 meter di atas permukaan laut.

Rute yang disediakan adalah rolling dengan menanjak tiga perbukitan di sekitar Varese. Semua tanjakan ini diselesaikan di setengah awal rute. Sisa rutenya, pembalap akan melewati danau Ceresio, Lago Maggiore dan danau Varese. Diakhiri finis di puncak bukit Varese town center.

Saya selesaikan rute ini dalam waktu 3 jam 52 menit. Juara di kelompok umur saya, 40-44 tahun, diraih oleh orang Italia bernama Alfonso D’Errico dengan waktu tempuh 3 jam 27 menit. Level balapan Asia dengan Eropa memang berbeda.

Sebagai pembanding, juara satu kelompok umur 40-44 tahun di Tour de Bintan Maret lalu disabet oleh Andreas Ostern. Saat berlaga di Varese ini, Andreas membutuhkan waktu 3 jam 40 menit untuk menuntaskan rute sejauh 135 km itu.

Jadi sang juara satu kelompok umur saya ‘lulusan’ Tour de Bintan-pun copot juga setelah saya copot duluan. Memang pemenang juara 1 UCI Gran Fondo ini beda kelas. Hehehe…

Menurut saya bersepeda ini unik sekaligus indah! “Pembalap yang usianya 20 tahun lebih tua daripada saya tapi bisa menyelesaikan lomba lebih cepat 15 menit daripada saya. Hahah...

Iseng-iseng, melihat hasil juara 1 kelompok umur tertua UCI 2018 Gran Fondo World Championship, yaitu 55-59 tahun. Mereka mencatatkan waktu 3 jam 37 menit! Artinya, juara 1 kelompok usia 55-59 tahun itu finis 15 menit di depan saya padahal usia kita terpaut 20 tahun!

Untung mereka startnya 21 menit setelah kelompok umur saya. andai lebih cepat, maka sayapun akan tersalip oleh kelompok umur ini. Haha…

Tahun 2017 lalu, saya terinspirasi oleh juara 1 kelompok umur 70-74 yang bisa finis duluan di depan saya. Tahun ini, saya terinspirasi kelompok umur 50-54 yang bisa finis dalam waktu 3 jam 29 menit. Itu artinya hanya dua menit lebih lambat daripada juara satu kelompok umur saya, 40-44 tahun yang menempuh 3 jam 27 menit!

Meskipun saya tidak meraih prestasi atau podium di even yang digelar mulai 29 Agustus hingga 2 September ini, saya tidak bersedih hati. Buat saya, olahraga sepeda adalah olahraga melatih untuk melawan diri sendiri. Bersepeda juga memotivasi saya untuk memecahkan personal best time.

Edo Bawono dengan atribut full Indonesia. Sepeda Wdnsdy AJ1 warna merah putih lambang bendera Indonesia dan jersey motif batik Toraja bikinan SUB Jersey.

Dan terbukti, dua tahun lalu, saya mempunyai catatan FTP (Functional Threshold Power) sebesar 260 watt dalam waktu 20 menit. Tapi saat balapan di Varese kemarin, saya sanggup mencatatkan power rata-rata sebesar 260 watt dalam waktu 4 jam!

Selain urusan prestasi waktu, banyak hal menarik lain dari perhelatan even tahunan ini. Salah satunya adalah panitia mengharuskan setiap peserta menggunakan atribut kebangsaannya sendiri. Saya sangat bangga dengan negeri saya, Indonesia.

Sepeda Wdnsdy AJ1 saya cat spesial warna merah putih mencerminkan bendera Indonesia. Lengkap dengan tulisan INA di fork kiri dan kanan. Tak hanya itu, saya gunakan jersey warna merah darah berdesain batik Toraja dan bertuliskan Indonesia bikinan SUB Jersey di Surabaya.

Rasanya bangga sekali bisa membawa nama Indonesia, menggunakan produk Indonesia dan merek asal Indonesia di perhelatan kelas dunia. *

 

 

           


COMMENTS