Sama seperti cyclist lainnya, saya berkesempatan gowes pada Sabtu lalu. Rute kami rute muter-muter antarkota dalam pulau. Pulau Madura. Jauhnya sekitar 300 kilometer. Saya dan teman-teman sering menyebutnya Madura Trihandret.

Jaraknya cukup jauh. Elevasinya juga lumayan. Lebih dari 1.000 meter. Makin ke timur, semakin berat medannya. Karena hari sudah siang. Panas dan dan angin menjadi teman perjalanan. Seingat saya, sudah tiga kali ini gowes keliling Pulau Madura.

Saya tahu betul kalau ini bukan hal yang mudah. Medannya berat. Cyclist harus benar-benar fit agar mampu menuntaskannya. Apalagi jumlah pit stop di Madura Trihandret dibuat minim. Kami baru isitrahat ketika kilometer sudah lebih dari 100. Saat cyclist lain sudah selesai makan, kami masih belum berhenti untuk makan. Salah sendiri.

Seperti yang sudah diduga, tiga cyclist terlihat gontai ketika baru tiba di pit stop pertama di Pantai Slopeng, Sumenep. Salah satunya Om Yohan Hoki yang terkenal dengan slogannya, Terima Kasih Tuhan, Hidupku Asyik. Bukan pemandangan yang biasa. Sebab Om Yohan sudah terbiasa rute jauh dan menanjak. Apalagi baru di pit stop pertama. Ia terpaksa loading karena benar-benar tidak fit untuk meneruskkan perjalanan. Om Yohan memilih untuk naik mobil.

Kami sempat makan nasi di Pantai Slopeng. Juga meluruskan kaki dan berteduh dari teriknya matahari. Setelah cukup istirahat, kami pun melanjutkan perjalanan. Nah, kisah utamanya dimulai dari sini. Perjalanan dari Slopeng menuju garis finis benar-benar penuh cerita.

Secara otomatis rombongan sudah terpisah-pisah. Seperti halnya partai, saya dan beberapa teman membangun koalisi: koalisi bertahan sampai akhir. Anggotanya ada David, Steven, Tatang, Okta, dan saya. Kami masih harus menempuh jarakl 160 kilometer. Panas dan berangin. Membuat tiap kilometer begitu berharga. Jangan tanya rombongan terdepan. Mereka sudah menghilang entah di mana.

Walau pernah melalui rute ini, bukan berarti saya hafal betul. Sebab saya kali terakhir ke sini sekitar dua tahun lalu. Jadi lupa-lupa ingat saat memasuki kota atau berhadapan dengan persimpangan jalan. Rasa lelah juga menjadi faktor. Membuat otak menjadi lambat berpikir.

Ketika bingung dan panas bersatu, Om Yohan menjadi sang penyelamat. Ia yang lebih hafal jalan, menuntun kelompok saya ke arah yang benar. Sehingga perjalanan kami bisa dilanjutkan tanpa berhenti bertanya atau tersesat dahulu.

Walau berusaha untuk tetap bergerak, kami tidak bisa menghindari rasa lelah. Kami pun berhenti di minimarket. Di sini Om Yohan pun ikut turun dari kendaraan dan men-support dengan minuman dan makanan yang ada di mobil. Ia memberi informasi tentang keadaan kami, di mana posisi kami, seberapa jauh jarak yang ditempuh, dan berapa lama kami tiba di finis. Hasilnya kami berhasil melanjutkan perjalanan hingga tuntas. Kecuali Okta, sebab konon bannya terkena santet. Sehingga mblendung.

Tidak setiap ride kita bisa dibimbing oleh orang yang paham jalan seperti Om Yohan. Walau memiliki opsi untuk langsung pulang, ia memilih menemani dan memandu temannya di perjalanan. Kiranya kelompok saya tidak akan finis tanpa Om Yohan. Saya berterima kasih atas bantuannya. 

Moral dari cerita ini adalah, setiap perjalanan akan selalu punya cerita. Cerita yang tidak akan pernah sama. Semakin panjang dan menderita, maka kian banyak cerita yang bisa diperoleh. Apa pun itu, kita harus tetap berhati-hati di jalan. Seperti lagunya Tulus. Terima kasih, selamat mengalami cerita dan semoga aman selalu. Sekian. (johnny ray)

Podcast Main Sepeda Bareng AZA x Johnny Ray Episode 80

Foto: @chaidar26


COMMENTS