Minggu lalu Om Aza, Om John Boemihardjo, Ko Hay, dan beberapa teman lain bersepeda dari Surabaya ke Bali. Setelah itu Om John memutari Bali. Saya, Om Faisol, dan Ko Hay memilih rute yang lebih "sopan", hanya 230an kilometer saja.

Ternyata perjalanan ke timur ini membuat beberapa teman lain ingin meniru langkah kami. Baik meniru yang sama persis, lebih pendek, atau lebih jauh. Ada yang ingin mulai dari Surabaya. Ada yang gowes dari Surabaya ke Pasir Putih. Bahkan ada yang bersepeda dari Solo ke Bali. Intinya mereka ingin bersepeda jauh ke Pulau Bali. Tentunya ini menurunkan omzet perusahaan otobus, tetapi menaikkan jumlah penumpang kapal feri Dharma Lautan.

Saya mengetahui hal ini karena beberapa dari merek menanyakan ke saya bagaimana rute dan persiapan perjalanan ke sana. Sebagai jawaban, maka saya tulis di kolom sehat hari ini. Semoga bisa menjelaskan kepada para cyclist yang sedang semangat serta membuat mereka lebih aware di perjalanan.

Saya bagi persiapan perjalanan kami menjadi tiga bagian, yaitu persiapan sepeda, fisik, dan mental.

Pertama persiapan sepeda. Apa saja yang perlu dipersiapakan di atas sepeda? Ini tergantung dari jenis gowes Anda. Awalnya, perjalanan kami tidak di-support mobil. Jadi persiapan sepeda harus didukung bawaan sehari-hari saat sedang tidak bersepeda. Tetapi akhirnya, dan beruntungnya, ada mobil yang menemani. Sehingga kami tidak perlu membawa bawaan banyak barang di atas sepeda. Meski demikian bukan berarti sepeda saya ringan. Karena apa pun itu saya berusaha sesiap mungkin menghadapi hal-hal yang tidak diinginkan.

Untuk lampu depan, saya membawa lampu saya dengan kapasitas baterai terpisahnya. Yang harus ditaruh di bag frame. Kemudian lampu belakang dengan ketahanan nyalanya bisa lebih dari 12 jam lebih. Kedua lampu ini membuat kendaraan lain lebih perhatian ke kita, terutama saat hujan. Jangan lupa membawa jaket atau rompi agar tubuh merasa hangat. Untuk jenis dan ukuran ban, saya pakai yang lebar 28c.

Mengingat jalan luar kota sebagian besar jalannya tidak rata. Bukan berlubang, tapi tidak rata. Membuat bahu dan lengan lelah menahan getaran. Saya menggunakan sepeda yang sudah teruji. Dengan rem, gear, dan perlengkapan lain yang sudah siap jalan. Bawalah sedikit oli, cadangan ban dalam, pompa portable, serta tool untuk antisipasi ban bocor dan kerusakan kecil. Sadel yang nyaman juga jangan lupa, ya.

Sekarang persiapan fisik. Jarak Surabaya ke Banyuwangi sekitar 275 kilometer. Kalau dalam seminggu perolehan kilometer bersepeda Anda sekitar 400 hingga 500 kilometer, semestinya jarak ini yang bisa bukan masalah. Perhatikan juga bahwa jarak ini ditempuh dalam waktu sehari. Jadi sebelumnya biasakan diri Anda untuk gowes minimal 200 kilometer.

Jangan lupa bahwa keesokan harinya Anda masih harus bersepeda dari Banyuwangi ke Bali. Jaraknya sekitar 150 kilometer dengan kontur Pulau Bali yang eksotis (baca: berlekuk-lekuk tidak rata). Berlatilah makan dan minum di atas sepeda. Badan Anda akan bersepeda di tengah panas, menabrak angin, dan sangat mungkin kehujanan.

Juga bila waktunya ditempuh dengan kecepatan sekitar 30 km/jam. Dengan istirahat dan foto-foto, maka bisa jadi Anda akan sampai ketika matahari mulai terbenam. Biasakan peralihan dari bersepeda terang ke situasi gelap. Sebab Anda melewati  jalan raya yang dilewati banyak bus dan truk.

Persiapan mental. Menurut saya ini yang terpenting. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Apakah bakal hujan atau panas, apakah speed-nya bisa terjaga atau tidak, ada teman atau tidak sepanjang jalan. Semua itu misteri. Sebaik apa pun perencanaan Anda, kenyataan bisa berkata lain.

Untuk membuat gowes Anda tetap indah, ada baiknya Anda siap untuk gowes sendiri. Serangan psikis sangat berpengaruh ke kekuatan otot. Bila Anda sudah grogi, mudah sekali untuk menyerah. Jadi kuatkan tekad Anda sejak awal. Prioritaskan keamanan. Bersepeda lah di lajur kiri, sebab ini bukan gowes di perumahan yang sepi. Anda akan sering menemui kendaraan besar ngebut dan tiba-tiba mendahului dengan kencang.

Kenali tubuh Anda. Jika lelah, komunikasikan dengan teman Anda agar bisa berhenti sejenak di warung atau depot untuk sekadar mengistirahatkan badan dan mengembalikan kosentrasi.

Inilah yang bisa saya sampaikan. Selamat bersepeda jauh. Kalau berkenan, jangan lupa tag saya di unggahan media sosial Anda. Karena melihat pesepeda lain senang di jalan adalah motivasi saya juga. Salam gowes. Utamakan keselamatan. Sekian. (johnny ray)

Foto: @chaidar26


COMMENTS