Eksplorasi Banyuwangi Naik Brompton
by - January 12, 2020
Eksplorasi Banyuwangi Naik Brompton
by Johnny Ray - January 12, 2020

Indonesia adalah negeri yang indah. Banyak yang sudah melihat, merasakan, dan mengakuinya. Namun, ada begitu banyak tempat yang bisa dilihat dan dinikmati di Indonesia, dan cara menikmatinya pun bisa dengan berbagai cara. Misalnya, dengan bersepeda.

Bagi penghobi sepeda serius, gowes menikmati suasana baru adalah hal yang selalu diidamkan. Mereka selalu ingin merasakan suasana baru untuk membunuh rasa jenuh. Kali ini, saya dan beberapa rekan pergi ke Banyuwangi. Bersama founder Bogi (Brompton Owners Group Indonesia), yang populer dipanggil Bre Baron Martanegara.

Naik Brompton, kami menjajal rute di kota yang berkembang begitu pesat di ujung timur Pulau Jawa tersebut. Dengan jarak yang cukup jauh untuk sepeda dengan roda mungil: 100 kilometer.

Kami menjajal rute ini sebagai persiapan untuk event dari Bogi, yang detailnya bisa didapat dengan mengikuti akun-akun media sosial komunitas tersebut.

Kenapa Bogi memilih Banyuwangi? Ya karena kota ini memang sedang jadi buah bibir. Saya yang dari Surabaya saja takjub dengan perkembangan kota tersebut, apalagi mereka yang dari Jakarta atau kota-kota lain lebih jauh. Percaya deh, untuk wisata, kota yang dipimpin Bupati Azwar Anas ini bakal membuat Anda takjub.

Sambil berkembang, Banyuwangi juga ramah buat pesepeda. Ada begitu banyak rute menarik untuk berbagai jenis sepeda. Mulai datar panjang, rute rolling, hingga gunung tinggi. Dan ada dua event gowes besar di sini, misalnya lomba UCI Tour de Banyuwangi Ijen dan Blue Fire Ijen.

Untuk kepentingan event Brompton, tempat dan finis kami memilih Pendopo Sabha Swagata Blambangan. Sebuah pendopo yang sangat asri, indah, dan ikonik. Sabtu pagi itu (11 Januari), kami mulai gowes pukul 06.30 menuju Pasar Wit-Witan Singojuruh. Perjalanan menuju pit stop pertama itu memakan waktu sekitar satu jam, dengan jarak 20 km dari Pendopo.

Pasar Wit-Witan ini adalah pasar di alam terbuka. Menyajikan macam-macam kuliner. Namun bukanya hanya hari Minggu. Jadi, ketika kami sampai tempat itu masih tutup (mungkin ini teguran supaya penulis jadi lebih kurus).

Untungnya, di depan tampat ini masih ada beberapa penjaja makanan yang buka. Selagi teman-teman foto-foto di dalam pasar, saya mencoba melihat makanan apa saja yang ditawarkan seorang ibu. Setelah dibuka jualannya, ternyata ada Nasi Pecel, Kuah Sayur, Ikan Asin, dan Nasi Jagung. Makan pagi adalah makan terpenting dalam sehari, jadi saya pun mencoba Nasi Pecel, Nasi Jagung, dan sedikit Ikan Asin.

Saya makan dengan pemandangan sawah membentang, berlatar belakang gunung. Indah sekali. Apalagi ketika waktunya membayar, lebih indah lagi, karena total biaya hanya Rp 5 ribu! Murah sekali. Lebih murah dari biaya parkir di mal-mal di Surabaya, apalagi di Jakarta.

Saat menulis naskah ini, jam sudah menunjukkan pukul 18.47. Maaf, supaya tidak sakit, saya harus segera makan malam. Saya tidak ingin menjelaskan lebih detail pit stop-pit stop selanjutnya. Karena akan mengurangi segala keseruan, serta saya harus menjaga "misteri" keseruan rute ini ketika beberapa waktu lagi dilewati event resmi Bogi.

Yang pasti, tempatnya seru-seru. Lain dari yang lain. Kalau tak sabar menunggu, silakan datang sendiri ke Banyuwangi. Ada banyak pesawat dari berbagai kota. Atau, tunggu tanggal mainnya dari Bogi, dan mendaftar ikut event tersebut. Dijamin, pengalaman main sepeda di Banyuwangi sulit tertandingi! (johnny ray)


COMMENTS