Kolom Sehat: ACI, Aku Cinta Indonesia

Membahas cinta adalah hal yang seru dan menyenangkan. Kecuali bagi yang belum move on. Lihat saja, 90 persen lagu di Top 50 Billboard selalu membahas soal ini. Tapi mohon maaf, kali ini saya tidak ingin membahas cinta asmara, karena sudah banyak dibahas di radio dari pagi sampai malam, sampai pagi lagi. Kali ini saya membahas cinta ke negeri sendiri, Indonesia.

Sejak 91 tahun lalu, tepatnya 28 Oktober 1928, pemuda-pemuda Indonesia yang mencintai negeri ini telah berjanji, yang dituangkan dalam Sumpah Pemuda. Semestinya kita semua hafal isinya. Bukankah kita semestinya mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari?

Paling tidak, kali ini saya mengajak untuk tidak terlalu “luar negeri minded.” Ada banyak hal baik dari luar negeri, tapi tidak kalah banyak hal baik yang ada di Indonesia.

Misal soal bepergian. Kalau pergi ke Singapura, Eropa, atau Amerika, rasanya seperti hal yang wow. Postingan sosmed bisa sampai 3-7 postingan sehari. Sejak mendarat, jalan-jalan, makanan, sampai tempat menginap semua terliput.

Tentu ini bukan hal yang salah. Asal diimbangi dengan mengunjungi tempat-tempat wisata dalam negeri.

Sejak menekuni hobi sepeda, saya jadi sering diajak teman mengikuti even bersepeda di luar negeri. Tapi juga sering di dalam negeri, di luar kota atau pulau tempat saya tinggali.

Pemandangan di negeri kita ini luar binasa lengkap. Di Bali, yang saya anggap sebagai pulau “hore,” keindahan dan keeksotisannya begitu terkenal di luar negeri. Banyak seleb Hongkong menikah di Bali.

Di Sulawesi saya pernah berkesempatan gowes dari Makassar ke Toraja. Melihat negeri di atas awan. Pemandangan yang spektakuler. Jangan lupa, Chris Hemsworth yang asal Asgard pun menikahnya di Pulau Sumba.

Contoh lain adalah mengenai produk. Banyak produk yang berkualitas adalah brand ternama luar negeri. Beberapa memang pantas terkenal karena memiliki kualitas yang teruji dan sudah punya sejarah panjang.

Padahal gurauannya gampang. Yang membuat produk-produk itu sebenarnya adalah orang Bali bernama “Made.” Seperti terbaca di label-labelnya. Made in USA, Made in China, dan seterusnya.

Sekarang, anak bangsa Indonesia juga berusaha mengejar. Di bidang teknologi aplikasi ada Go-Jek, yang pendirinya sekarang jadi Menteri Penentu Masa Depan Anak-Anak Kita (Menteri Pendidikan).

Di bidang lain, khususnya di industri sepeda, banyak produk-produk lokal yang semestinya secara kualitas sudah bagus, tapi kurang mendapat kesempatan saja dari pasar.

Kembali ke urusan cinta. Sudah cukup cinta Indonesia-kah kita? Cinta selain memaafkan kan juga harus memberi kesempatan. Bisa jadi kesempatan untuk produk lokal berkembang, atau kesempatan liburan bersepeda mendatangi destinasi-destinasi di dalam negeri.

Jika cinta, sudah cukupkah perhatian kita dalam memperhatikan lingkungan? Agar tidak kotor contohnya. Membuang sampah pada tempatnya atau menjaga tempat-tempat wisata untuk tetap bersih.

Bukan cinta kalau tidak ada pengorbanan. Jadi rela lah mengeluarkan sedikit dari kocek untuk mencoba produk-produk lokal. Walau namanya belum setenar brand-brand kondang mancanegara.

Akhir kata, semoga cinta Indonesia tidak berhenti pada slogan. Tapi bisa kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak perlu muluk-muluk. Paling tidak kita jangan lupa makan makanan lokal kita. Bagi saya gethuk dan putu... (johnny ray)


COMMENTS