NGGRAVEL GLENMORE 2026 resmi digeber pada Minggu pagi, 4 Oktober 2026. Sekitar 400 cyclist dari puluhan komunitas, sembilan provinsi, dan lima negara dilepas dari Hall Center Industri Gula Glenmore (IGG) untuk memulai perjalanan mengitari rute mengelilingi kawasan gravel Glenmore.
Ini adalah event gravel yang paling baru dari Mainsepeda. Sebelumnya, mereka sudah pernah menggelar Nggravel Blitar. Namun, yang kali ini sangat berbeda. Karakter jalurnya benar-benar mengingatkan kita pada Unbound Gravel di Kansas, ajang balap gravel paling prestisius di dunia.
Founder Mainsepeda Azrul Ananda menyebut Nggravel Glenmore sebagai event gravel yang sebenar-benarnya gravel. ”Orang indonesia akan mengenal apa itu gravel sebenarnya ya di Glenmore ini. Bukan jalan off-road yang dimodifikasi. Bukan jalur MTB yang dijadikan jalur balapan gravel,” katanya.
”Karena kalau lahirnya gravel, dulu pengalaman saya di luar negeri, itu bukan berarti harus single track dan lain-lain. Tapi jalan-jalan off-road yang bukan aspal, yang lebar-lebar, yang kita bisa main speed. Dan itu sejauh ini saya hanya menemukan di Glenmore, di Banyuwangi,” imbuhnya.
Founder Mainsepeda Azrul Ananda memberikan briefing kepada peserta Kategori Race 100 KM sebelum start di Hall Center IGG Glenmore, 4 Oktober 2026.
Semua orang adalah debutan di sini. Semua baru kali pertama menikmati sensasi melibas kawasan gravel di Banyuwangi, yang dijuluki The Sunrise of Java tersebut.
Peserta langsung membeludak. Jumlah yang mendaftar jauh melampaui perkiraan penyelenggara. Selain penasaran dengan jalur yang mirip di Kansas, para peserta rata-rata ingin sekalian jalan-jalan di Banyuwangi. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi juga menyambut baik gelaran Mainsepeda Nggravel Glenmore 2026.
Baca Juga: Kalah di Blitar, Ethan Siap Patahkan Dominasi Kibar di Nggravel Glenmore 2026
Baca Juga: Backpacker Belanda Gowes Jakarta-Bali, Berujung Ikut Nggravel Glenmore
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Daerah Kabupaten Banyuwangi Suratno mengatakan, Nggravel Glenmore menjadi bagian dari diversifikasi kegiatan olahraga sepeda di Banyuwangi. Sekaligus memperkuat promosi pariwisata di kabupaten paling ujung pulau Jawa tersebut.
"Semoga Nggravel Glenmore bisa menjadi event sepeda yang bisa digelar secara kontinyu di Banyuwangi," kata Suratno. "Bahkan mungkin nanti bisa kita gelar juga balapan gravel dengan rute gravel yang lebih panjang. Sampai 500 kilometer," lanjutnya.
"Saya bilang ke Mas Azrul, Tuhan, Allah menciptakan Glenmore ini mungkin sambil tersenyum. Sehingga semuanya komplet di sini. Udaranya segar, pemandangannya indah," ujar Suratno.
Suratno menyampaikan, kehadiran para cyclist dari berbagai daerah dan negara juga membawa dampak positif bagi pariwisata. Mereka tidak hanya datang untuk bersepeda. Para peserta juga bisa menikmati alam dan berbagai destinasi di Banyuwangi.
"Ini merupakan bagian dari cara kita untuk mempromosikan pariwisata di Banyuwangi. Terima kasih. Selamat berlomba," katanya.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Daerah Kabupaten Banyuwangi Suratno bersiap melakukan flag off di garis start.
Azrul mengaku baru menekuni gravel 2020-2021, meski sudah bersepeda sejak 2011. "Jadi, saya anak pandemi urusan gravel," kata Azrul. Ia kemudian banyak mengikuti event gravel di luar negeri. Dari pengalamannya, gravel memiliki karakter yang berbeda dengan lintasan MTB yang selama ini banyak digunakan di Indonesia.
Baca Juga: Komunitas Goku Siap Jelajah Glenmore Lalu Berburu Kuliner
Baca Juga: 3 Bestie Pencinta Gravel Ingin Nikmati Unbound-nya Indonesia Sambil Ngonten
Karakter itu, menurut Azrul, bisa ditemukan di Glenmore. Jalurnya lebar dan membentang di kawasan perkebunan. Peserta akan disuguhi pemandangan bukit dan pegunungan. Mereka juga akan melewati kawasan hutan dan perkebunan. "Pokoknya depan bukit, kanan bukit, kiri bukit, ada gunung, masuk hutan dan lain-lain," ujar Azrul.
Yang membuatnya berbeda, sebagian besar jalur merupakan jalan gravel. Bukan single track MTB. Bukan pula jalur sempit di bibir jurang atau lintasan yang mengharuskan peserta menyeberangi sungai. "Yang pertama kali jadi contohnya ini ya Glenmore kayak gini," katanya.
Dari Hall Center IGG, peserta akan diajak mengitari kawasan Glenmore yang terdiri dari perkebunan tebu, kopi, dan cokelat. Jalurnya sebagian besar terdiri dari kerikil kecil dan pasir, tapi lumayan lebar. Peserta kategori Race 100 KM bisa kebut-kebutan dan bahkan saling menyalip di sana.
Para cyclist juga diajak melintasi kawasan hutan, tepi sungai, kebun kelapa, hingga sawah. Dijamin cantik. Di KM 65, ada checkpoint 2 yang didesain di Pura Beji Antaboga. Sebuah kawasan yang menyajikan tempat ibadah untuk berbagai agama. Mulai dari Pura Beji Antaboga, Surau, Altar Dewi Kwan Im, hingga Bukit Patung Maria dan Yesus.
Azrul Ananda menyarankan menyinggahi lokasi itu karena keunikannya. Apalagi area Pura Beji Antaboga sangat asri karena dikelilingi hutan pinus yang luas. Cocok untuk sekadar melepas lelah setelah 65 km bersepeda gravel.
Suasana start Nggravel Glenmore 2026 di Hall Center IGG Glenmore, Minggu, 4 Oktober 2026. Sebanyak 400 cyclist berupaya menaklukkan jalur gravel Glenmore.
Baca Juga: Dari RD Hang Sampai Ganti Ban, Bike Check Jadi Penyelamat Sebelum Start Nggravel Glenmore
Baca Juga: Stephen Lane dan Kai Besser Siap Debut Gravel di Indonesia Lewat Nggravel Glenmore 2026
“Saya sarankan 5 menit saja mampir di situ. Karena dari CP 1 ke CP 2 berat, banyak merembet naiknya, mayoritas elevation gain-nya di situ. Batu-batunya kasar dan nanjak 5 persen,” katanya.
Sekitar 76 persen dari rute Nggravel Glenmore 2026 terdiri dari gravel. Lalu, ada 20 persen permukaan aspal, dan sisanya bebatuan (cobble). Hanya sedikit, tapi lumayan menyiksa. Total elevasinya mencapai 720 meter.
Meski baru kali pertama diselenggarakan, Nggravel Glenmore 2026 sudah menarik perhatian cyclist dari berbagai daerah. Komunitas-komunitas lokal, seperti dari Banyuwangi dan Jember, menerjunkan pasukan. Beberapa peserta tercatat berasal dari luar Jawa. Ada pula warga negara asing. Antara lain dari Australia, Kolombia, dan Belanda.
Sejumlah nama besar berpartisipasi. Di antaranya Yusuf Kibar, atlet sepeda nasional yang juga juara Nggravel Blitar 2026. Juga Stephen Lane, juara Bentang Jawa 2025 asal Australia. Ada pula pesepeda timnas Indonesia Crismonita Dwi Putri, serta juara Ngebel KOM 2026 Maghfirotika Marenda.
Di kategori Gravel Bike Men 34 and Under, Ethan Batara Njotoprawiro menantang Yusuf Kibar. Di Blitar, cyclist 26 tahun itu harus rela menjadi runner-up. Nah, kali ini, ia secara spesifik mengatakan ingin mengalahkan Yusuf dan mencetak sejarah. Yakni, menjadi juara perdana Nggravel Glenmore.
Sementara itu, di kategori MTB, juara Nggravel Blitar Adrian Kurniawan diprediksi akan mendapat persaingan keras dari anak muda I Kadek Dwi Artaguna. Keduanya sudah pernah berhadapan di Kejurnas MTB beberapa waktu lalu, dan catatan waktunya tidak terlalu jauh.
Tantangan baru, keunikan rute, dan keindahan panorama pedesaan Banyuwangi menjadi beberapa alasan mengapa Nggravel Glenmore 2026 menarik hati para cyclist. Meski baru sekali diselenggarakan, ia sudah menjanjikan experience luar biasa. Sekalipun buat yang sudah sering mengikuti event gravel. Inilah gravel yang sebenar-benarnya gravel. (Mainsepeda)