UNTUK kali pertama, event Mainsepeda membuka kategori baru. Yakni U-21. Dan ternyata, antusiasmenya sangat tinggi. Sekitar 50 peserta dari kelompok usia tersebut, putri dan putra, tercatat sebagai peserta.
Di antara mereka, sebagian besar masih sekolah. Banyak yang SMA. Ada juga yang SMP. Ada yang baru mulai menapaki dunia balap sepeda. Ada juga yang lumayan berpengalaman mengikuti event balap di berbagai kota di Indonesia. Ada yang masuk tim Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) daerahnya.
Lumayan beragam latar belakangnya. Namun, mereka datang dengan satu tekad yang sama: membuktikan kemampuan di salah satu ajang King of the Mountain bergengsi di Indonesia.
Salah seorang peserta U-21 yang terlihat di race pack collection di Kantor KAI DAOP 7 Madiun, 31 Juli 2026, ada Ilham Prakas. Pembalap Team Drezel asal Bogor. Kesempatan tampil di KAI Ngebel KOM 2026 menjadi pengalaman yang tak ingin disia-siakan.
Meski mulai menyukai sepeda sejak 2016, pemuda berusia 18 tahun itu baru benar-benar fokus menekuni balap sepeda pada pertengahan 2024.
Baca Juga: IRCC Terjunkan 12 Anggota ke KAI Ngebel KOM 2026, Manfaatkan Layanan Gerbong Khusus Sepeda
Baca Juga: Cerita Peserta KAI Ngebel KOM 2026 Naik Kereta ke Madiun, Gerbong Khusus Sepeda Praktis dan Hemat
Ilham Prakas (dua dari kanan) bersama rekan-rekannya dari Komunitas Drezel Bogor optimistis menyongsong event KOM perdana mereka.
"Saya mengikuti Ngebel KOM karena mendapat kesempatan dari tim," ungkap Ilham. "Ini menjadi pengalaman yang sangat berharga, apalagi ada kategori Under-21 sehingga saya bisa mengukur kemampuan," paparnya.
Di balik kesempatannya tampil, ada rutinitas yang harus dijalani hampir setiap hari. Sepulang sekolah, Ilham langsung menjalani latihan hingga menjelang Magrib. Saat malam, ia menyiapkan keperluan sekolah. Lalu tidur lebih awal, agar tubuh tetap bugar untuk latihan berikutnya.
Baginya, tantangan terbesar bukan sekadar menaklukkan tanjakan. "Tantangan terbesar sebagai pembalap muda adalah bersaing dengan pembalap yang lebih berpengalaman," kata Ilham. "Karena itu saya harus terus berlatih, menambah pengalaman, dan terus belajar," kata Ilham.
Dukungan keluarga menjadi bahan bakar utama perjalanan Ilham. Ia mengaku orang tuanya selalu memberikan kepercayaan penuh untuk menekuni balap sepeda.
Hal serupa dirasakan Altamis Haidar Trumon, atlet muda triathlon asal Gresik. Meski baru pertama kali mengikuti KAI Ngebel KOM, dunia sepeda bukanlah hal baru bagi pemuda yang baru berusia 15 tahun itu.
Baca Juga: Jajal Rute Duluan, Peserta KAI Ngebel KOM Mantapkan Persiapan Jelang Race Day
Baca Juga: Persaingan Men Elite KAI Ngebel KOM 2026 Sengit, Cyclist Muda Tantang Juara Bromo KOM
Altamis Haidar Trumon yakin bisa naik podium di Ngebel KOM 2026 berbekal pengalaman Tour de Linggarjati dan Sindoro Sumbing Triathlon.
Kecintaannya pada olahraga ini tumbuh sejak kecil. Berbeda dengan banyak pesepeda yang menghindari tanjakan, Altamis justru mengaku menikmati medan menanjak sebagai tantangan. "Saya sudah suka bersepeda sejak kecil karena memang suka bersepeda nanjak," ujarnya.
Informasi mengenai KAI Ngebel KOM ia peroleh dari orang tuanya. Rasa penasaran untuk mencoba kemampuan di lintasan Ngebel akhirnya membuatnya memutuskan ikut ambil bagian pada edisi tahun ini. "Siapa tahu bisa juara di Ngebel KOM," katanya.
Meski baru menjalani debut di KAI Ngebel KOM, Altamis bukan wajah baru di dunia kompetisi. Sebelumnya, ia pernah tampil pada Tour de Linggarjati pada 11-12 Juli 2026 lalu.
Kemudian Sindoro Sumbing Triathlon pada tahun lalu, tepatnya 13-14 September 2025.
Berbekal pengalaman tersebut, ia datang dengan target yang jelas. "Target saya di Ngebel KOM menjadi juara," ucapnya optimistis.
Semangat yang sama juga datang dari sektor putri. Nyra Arviana Prameswari (15) asal Mojokerto dan Arrohma Khanza Salsabila (16) asal Ponorogo sama-sama berstatus debutan event Mainsepeda. Bahkan belum pernah mengikuti event menanjak.
Nyra Arviana Prameswari (kanan) dan Arrohma Kanzha Salsabila memilih melatih mental jelang event KOM perdana mereka.
Meski baru pertama kali tampil, keduanya tak datang sekadar meramaikan lomba. "Targetnya podium. Tiga besar juga tidak apa-apa," ujar Khanza.
Untuk mewujudkan target tersebut, latihan menjadi bagian dari keseharian mereka. Khanza memilih memperbanyak waktu di atas sepeda dengan latihan jarak jauh. Sementara Nyra menekankan pentingnya menjaga konsistensi latihan sekaligus pola makan.
"Sama yang paling penting nguatin mental, sih. Soalnya kalau mental sudah oke, pasti bisa nge-push," kata Nyra, siswi kelas 10 salah satu SMK di Sidoarjo tersebut.
Tiga cowok anggota West Wilis Road Bike (W2RB) Ponorogo, tak mau kalah. Billy Aprilio Renato, Hasan Mazidu, dan Rizky H datang bertiga di race pack collection, lalu mengutarakan antusiasme. Sebab, jalur Madiun-Ponorogo yang jadi rute KAI Ngebel KOM 2026 adalah jalur latihan mereka sehari-hari.
"Oh kalau rute ke Ngebel sih sudah sering naik. Kan kita dari Ponorogo sendiri," ungkap Billy, yang berusia 14 tahun. Adakah di antara mereka yang memasang target khusus untuk event KOM perdana mereka ini?
"Itu tuh yang target podium," kata Hasan, menunjuk Rizky. Yang ditunjuk hanya senyum-senyum riang. "Enggak, enggak. Bohong," ucapnya penuh canda.
Seru, bukan? Bagi para pembalap muda itu, KAI Ngebel KOM bukan sekadar lomba menuju finis. Setiap kayuhan menjadi ruang belajar dan ujian mental. (Mainsepeda)