GARIS finis event balap sepeda menanjak (KOM) biasanya menjanjikan dua hal: betis yang mau copot dan napas yang terengah-engah.

Tapi, bagi peserta KAI Ngebel KOM 2026 pada 1 Agustus nanti, ada bonus yang jauh lebih asyik. Begitu berhasil lolos dari siksaan tanjakan, para cyclist bakal langsung disambut oleh pemandangan super adem dari Telaga Ngebel, Ponorogo.

Tahun ini, destinasi wisata andalan masyarakat Ponorogo tersebut resmi ditunjuk sebagai lokasi race village sekaligus jadi saksi terkurasnya stamina para cyclist. Setelah dipaksa bertarung habis-habisan menaklukkan elevasi, para peserta akan langsung disambut oleh kesejukan air dan ketenangan udara di telaga alami seluas 150 hektare tersebut.

Akan tetapi, di balik keindahannya yang berada di ketinggian sekitar 734 meter di atas permukaan laut (mdpl), Telaga Ngebel menyimpan kisah melankolis yang mengakar kuat di memori masyarakat setempat.

Baca Juga: Ketagihan Nanjak, Bunda Ajak Si Anak Lelaki Debut di KAI Ngebel KOM 2026

Baca Juga: Rela Repot Demi Seru, 20 Cyclist Matador Siap Invasi Ngebel KAI KOM 2026

Legenda Naga Turun Temurun

Bagi masyarakat Ponorogo, Telaga Ngebel bukan sekadar cekungan air raksasa. Tempat itu dipercaya lahir dari sebuah legenda rakyat tentang seekor naga sakti bernama Baru Klinting.

Konon, Baru Klinting sedang menjalani pertapaan panjang di dalam hutan. Tubuh raksasanya secara tidak sengaja ditemukan oleh warga desa setempat. Tanpa mengetahui bahwa naga tersebut adalah makhluk sakti yang sedang bertapa, warga memotong-motong sebagian tubuhnya untuk dibawa pulang. Lalu dijadikan hidangan pesta desa.

Merasa terusik dan murka, Baru Klinting kemudian mengubah wujudnya menjadi seorang anak manusia biasa. Ia mendatangi pesta tersebut dengan pakaian compang-camping demi meminta sedikit makanan.

Telaga Ngebel di Ponorogo.

Bukannya belas kasih yang didapat, ia justru diusir secara kasar dan dihina oleh penduduk desa yang angkuh. Sebagai bentuk pembalasan atas keserakahan dan kesombongan warga, anak jelmaan Baru Klinting itu menantang penduduk desa untuk mencabut sebatang lidi yang ia tancapkan ke permukaan tanah.

Tak satu pun warga yang mampu mencabutnya. Ketika Baru Klinting sendiri yang menarik lidi tersebut, dari lubang bekas tancapan lidi memancar air yang sangat deras tanpa henti.

Seketika, banjir bandang menenggelamkan seluruh desa beserta penduduknya yang serakah. Genangan air raksasa itulah yang kini kita kenal sebagai Telaga Ngebel. Sebuah nama yang diambil dari frasa bahasa Jawa karena airnya yang berbau menyengat saat pertama kali memancar.

Baca Juga: Belum Puas di Bromo KOM, 3 Cyclist Bidik Penebusan di Ngebel KOM 2026

Baca Juga: Para Debutan Siap Terjun di Ngebel KOM 2026, View Menawan Hingga Terpapar Video Teman

Populer

Vuelta a Espana 2026-Etape 6: Pogacar Menang Lagi Meski Sempat Keluar Jalur
Vuelta a Espana 2026-Etape 5: Brennan Menang Lagi, Pogacar Pertahankan Jersey Merah
Zidan Nouval Juara Bentang Jawa 2026, Kawinkan Gelar Ultra-Cycling 1.500 Km
Tour de Surakarta Digelar 10 Oktober 2026, Siap-Siap Nikmati Keindahan dan Kenyamanan Solo
Dari Nanjak ke Off-Road, 2 Langganan Event KOM Ikut Nggravel Glenmore 2026
Sensasi Speed Gravel yang Memikat Cyclist Menjajal Nggravel Glenmore 2026
Bentang Jawa 2025: Stephen Lane Juara! Pecah Rekor Finish Under 78 Jam
Citra-Tasha Cetak Sejarah, Jadi Pasangan Perempuan Pertama Juara Bentang Jawa Kategori Pair
Race Around Java: Keliling Jawa 3.000 Km, Total Nanjak 30.000 Meter
Tips Memilih Lebar Handlebar yang Ideal