PERSAINGAN di kategori Men Elite Bromo KOM 2026 dipastikan berlangsung sengit. Sejumlah pembalap sepeda internasional ikut memanaskan pertarungan merebut podium kategori Men Elite pada Sabtu, 6 Juni 2026.
Abdul Soleh kembali turun di ajang Bromo KOM 2026. Ini menandai keikutsertaannya yang kelima, setelah debut di Bromo KOM pada 2022 dan langsung menjadi juara. Pesepeda yang tergabung di NIB Cycling Team itu finis tercepat dengan catatan waktu 1 jam 20 menit 15 detik.
Pada edisi berikutnya, Abdul Soleh selalu konsisten meraih podium. Tak pernah luput finis di lima besar kategori Men Elite. Pada 2025 lalu, Soleh finis posisi ketiga. Itu menjadikannya salah satu climber paling stabil Bromo KOM.
Namun, Abdul Soleh harus ekstra waspada. Di kategori Men Elite tahun ini, ia berhadapan dengan deretan cyclist hebat. Salah satunya Dimas Nur Fadhil, yang datang dengan reputasi sebagai juara umum di Tour de Algerie Cycliste 2026, yang berlangsung di Aljazari pada April 2026.
Selain itu, ada Muhammad Raihan Maulidan, peraih emas SEA Games tahun lalu di cabang balap sepeda. Ancaman lain datang dari Agung Ali Sahbana, yang juga pernah meraih medali emas SEA Games pada 2007 dan 2013. Tentu saja, keikutsertaan nama-nama besar itu di Bromo KOM 2026 membuat persaingan semakin seru.
Abdul Soleh memang menjadi salah seorang pembalap paling stabil di Bromo KOM 2026. Namun, tahun ini ia mendapat tantangan dari para pembalap berlevel internasional.
Abdul Soleh sadar podium tidak akan mudah diraih. Namun berbekal pengalaman dan konsistensinya itu, ia tetap optimistis bisa meraih podium. Baginya, Bromo KOM 2026 jadi ajang persiapan untuk ikut di ajang 2026 Indonesia Road National Championship yang berlangsung di Pangandaran, Jawa Barat, pada 18-21 Juni mendatang.
”Persaingan pasti berat. Apalagi performa anak-anak muda yang secara fisik lebih unggul. Tapi target saya tetap berusaha podium,” tegas pembalap berusia 33 tahun itu.
Agar targetnya tidak meleset, Soleh mengaku konsisten latihan di ketinggian. Tempat latihannya adalah di jalur menanjak menuju Kawah Tangkuban Perahu, Bandung, yang memiliki elevasi lebih dari 2.000 meter.
Pola latihannya tahun ini tidak banyak berubah. Hanya waktu latihannya yang lebih terbatas. "Karena umur bertambah, dan harus melawan anak-anak muda yang potensinya besar. Main di level Asia pula. Itu jadi PR buat saya," tuturnya.
Sementara itu, Muhammad Raihan Maulidan kembali turun di Bromo KOM 2026. Ini adalah partisipasinya yang keempat. Ia kali pertama debut pada 2022, dan hanya absen sekali pada 2023.
Tentu saja, Idan—sapaan akrabnya—datang dengan semangat menggebu-gebu. Apalagi ia baru saja meraih medali emas pada SEA Games 2025. Baginya, itu pencapaian yang menambah motivasi sekaligus kepercayaan diri untuk tampil di Bromo KOM 2026.
Muhammad Raihan Maulidan, peraih emas SEA Games 2025, penasaran mengejar podium perdananya di Bromo KOM 2026.
Meski belum pernah meraih podium di Bromo KOM dari tiga partisipasi sebelumnya, Idan mengakui sudah banyak belajar dari pengalaman. "Dulu persiapan kurang matang. Sekarang saya evaluasi dari segi pacing, cuaca, dan latihan. Semua lebih terstruktur," tutur atlet balap sepeda yang tergabung di komunitas Ponti Wijaya Racing (PWR) itu.
Motivasi terbesar Idan untuk kembali turun di Bromo KOM 2026 adalah rasa penasaran. Ia tidak pernah puas karena belum pernah merasakan podium di ajang ini. Apalagi, tahun ini semangatnya bertambah karena ada enam rider dari PWR yang siap bersaing di kategori Men Elite. "Saat balapan nanti, kami bisa saling support," ujarnya.
Ia sadar persaingan di Men Elite sangat ketat. Terlebih ada nama-nama besar seperti Abdul Soleh, Dimas Nur Fadhil, dan lainnya. Meski pesaingnya berat, semua punya peluang untuk jadi yang terdepan.
"Saya respek pada senior seperti Mas Abdul Soleh. Tapi saya tetap fokus pada tim sendiri. Besok kita lihat," kata pemuda berusia 25 tahun itu.
Dimas Nur Fadhil datang ke Bromo KOM 2026 setelah menjuarai Tour de Algerie Cycliste 2026 di Aljazair. Tentu saja, ia pasang target finis di podium.
Sementara itu, Dimas Nur Fadhil juga datang ke Bromo KOM 2026 dengan modal prestasi internasional. Atlet balap sepeda Jakarta Pro Cycling (JPC) itu baru saja menjadi juara umum di Tour de Algerie Cycliste 2026 edisi ke-26 di Aljazair.
Pesepeda berusia 20 tahun itu mengaku persiapan untuk Bromo KOM kali ini dilakukan bersama tim JPC dengan fokus pada kerja sama. "Latihan biasa saja, tapi strategi lebih matang. Kami main teamwork, saling bantu di lapangan," jelasnya.
Ya, ini adalah keikutsertaan keduanya di Bromo KOM setelah debut pada 2025. Tahun lalu Dimas harus puas finis di luar podium karena kondisi fisik belum pulih usai mengalami crash saat ikut balapan sepeda di Bali. "Itu cukup mengganggu, jadi performa di Bromo KOM tidak maksimal," kenangnya.
Tahun ini, Dimas kembali turun di kategori Men Elite untuk membuktikan diri. Ia sadar persaingan akan berjalan sengit. Namun, tahun ini ia percaya diri bisa menaklukkan para pesaingnya. "Tahun ini targetnya harus podium. Insya Allah juara," ujarnya.
Bagi Dimas, Bromo KOM adalah ajang bergengsi sekaligus tolok ukur bagi para climber di Indonesia. Soal strategi, Dimas memilih fleksibel. Bisa saja tampil agresif di awal, atau mengatur ritme dengan baik agar tidak kehabisan bensin di tanjakan. "Nanti kita lihat kondisi di lapangan," katanya.
Agung Ali Syahbana, peraih emas PON Jabar 2016, berpose di sela RPC di Surabaya Town Square, 5 Juni 2026. Ia ketagihan ikut Bromo KOM untuk menjaga kebugaran.
Di sisi lain, Agung Ali Sahbana sudah siap tampil di Bromo KOM 2026. Datang bersama tim NC Pro Cycling asal Jember, ia menegaskan kesiapan sudah 100 persen. "Insya Allah kami siap memberikan effort terbaik untuk tim," ujar Ali, yang tahun ini mengikuti Bromo KOM untuk kali keempat.
Peraih medali emas di PON Jabar 2016 itu mengakui bahwa persaingan sulit diprediksi. Ada banyak nama besar yang ikut. Termasuk para cyclist yang langganan podium.
Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, persaingan tahun ini memang lebih berat. Apalagi ada banyak climber Indonesia yang diketahui akan berpartisipasi di event signature Mainsepeda tersebut. "Tetap saja, kami harus all out. Ini jadi motivasi buat saya," ucapnya.
Dari tiga partisipasi sebelumnya, ia sudah beberapa kali naik podium. Termasuk podium ketiga di ajang Bromo KOM tahun lalu. Targetnya adalah selalu berusaha untuk tampil lebih baik dari tahun ke tahun. "Ini hobi saya. Kalau tidak ada event, rasanya loyo. Jadi saya selalu ikut (Bromo KOM), sambil tetap menjaga kebugaran," ia menuturkan.
Ia berharap, di tahun mendatang formatnya bisa dikembangkan menjadi one day race berlevel UCI. Karena Bromo KOM adalah ajang bergengsi sekaligus tolok ukur bagi climber Indonesia. "Kalau ada rute flat dulu baru nanjak ke Bromo, itu pasti lebih seru," harapnya. (Mainsepeda)