Lima Gelar Tour de France, Pogacar Kini Lebih Bahagia dan Makin Tenang

Setahun lalu, Tadej Pogacar (UAE Team Emirates-XRG) meninggalkan Tour de France 2024 dengan perasaan yang sangat berbeda.

Ia baru saja memenangkan gelar Tour keempatnya. Akan tetapi, senyumnya tidak seperti seorang juara yang baru menaklukkan balapan terbesar di dunia. Tubuhnya lelah. Pikirannya terkuras. Belakangan diketahui, ia juga harus berjuang dengan cedera.

Saat itu Pogacar bahkan mengakui ada risiko mengalami burnout. Balap sepeda yang selama bertahun-tahun menjadi dunianya mulai terasa seperti pekerjaan yang harus dijalani, bukan sesuatu yang selalu ia nikmati.

Namun, 12 bulan kemudian, cerita itu berubah total.

Pogacar kembali ke puncak dengan energi baru. Pembalap asal Slovenia itu tidak hanya memenangkan Tour de France kelima sepanjang kariernya, tetapi juga kembali menjadi sosok yang membuat balapan hidup.

Ia menyerang di etape terakhir Tour de France 2026 di Paris ketika sebagian besar pembalap klasemen umum (GC) memilih bermain aman.

Pogacar terus menang hingga etape ke-19. Bahkan, ia mulai membuka kemungkinan untuk mencoba tantangan baru: memenangkan Vuelta a España, satu-satunya Grand Tour yang belum pernah masuk koleksinya.

Baca Juga: Eddy Merckx Yakin Pogacar Bisa Menangkan Giro, Tour dan Vuelta Dalam Semusim

Baca Juga: Lima Gelar Tour de France! Pogacar Masuk Klub Elite Balap Sepeda Dunia

Tetapi Pogacar kini lebih berhati-hati. Ia tidak ingin mengulangi kondisi yang membuatnya kehilangan kenikmatan bersepeda tahun lalu.

"Saya tidak mengatakan tahun lalu saya mengalami burnout, tetapi saya sadar hal itu bisa terjadi," ujar Pogacar dalam konferensi pers setelah memenangkan Tour de France 2026, Minggu (26/7).

"Burnout bukan berarti suatu hari Anda merasa sedih atau suatu hari tidak punya tenaga di atas sepeda. Burnout berarti kelelahan kronis dan Anda tidak merasa bahagia ketika bersepeda. Semuanya terasa seperti pekerjaan."

Menurut Pogacar, kesadaran terhadap kondisi mental dan fisiknya menjadi hal penting dalam menjaga karier panjang.

"Saya sadar hal itu bisa terjadi jika Anda terlalu memaksakan diri. Karena itu saya tidak ingin mengatakan saya akan pergi ke Vuelta atau balapan tertentu. Saya harus memikirkannya. Tetap membumi," katanya.

Kini Pogacar resmi masuk dalam kelompok paling elite sepanjang sejarah Tour de France. Lima gelar juara umum membuatnya sejajar dengan Jacques Anquetil, Eddy Merckx, Bernard Hinault, dan Miguel Indurain.

Namun, menariknya, sejarah bukan hal utama yang ada di pikirannya.

Pogacar bukan tipe pembalap yang terlalu sibuk menghitung rekor. Ia lebih memilih menikmati momen kemenangan.

"Saat ini saya hanya ingin menikmati momen memenangkan Tour. Apakah ini kemenangan kelima atau pertama, itu tidak masalah," kata Pogacar.

"Memakai jersey kuning dan melewati garis finis di Paris sebagai pemenang adalah sesuatu yang luar biasa. Saya hanya ingin menikmati momen ini, tidak memikirkan sejarah, tidak memikirkan klub atau apa pun. Saya ingin pulang, menikmati hal-hal kecil dalam hidup. Saya sangat bahagia dan bangga memenangkan Tour kelima."

Baca Juga: Tour de France 2026-Etape 21: Pogacar Raih Gelar Kelima, Van der Poel Menang di Paris

Baca Juga: Datang Tanpa Ekspektasi, Carapaz Pulang sebagai Raja Tanjakan di Tour de France 2026

Bagi Pogacar, setiap gelar Tour de France memiliki cerita sendiri.

"Setiap kemenangan memiliki cerita berbeda, makna berbeda, dan emosi berbeda. Setiap satunya terasa luar biasa dan sangat emosional bagi saya," ujarnya.

Tentang kemungkinan turun di Vuelta a España, Pogacar tidak menutup peluang. Namun, ia juga tidak ingin terburu-buru mengejar satu-satunya gelar Grand Tour yang belum ia miliki.

"Kalau dimulai besok, saya akan mengatakan tidak. Dalam dua minggu saya masih bisa memutuskan," katanya.

Dengan usia baru 27 tahun, Pogacar masih memiliki banyak waktu. Ia bisa mengejar Vuelta tahun ini, musim depan, atau bahkan beberapa tahun lagi. (mainsepeda)


COMMENTS