Eddy Merckx Yakin Pogacar Bisa Menangkan Giro, Tour dan Vuelta Dalam Semusim

Tadej Pogacar (UAE Team Emirates-XRG) sudah masuk dalam daftar pembalap paling istimewa dalam sejarah balap sepeda. Namun, menurut Eddy Merckx, batas pencapaian pembalap Slovenia itu masih belum terlihat.

Legenda hidup balap sepeda asal Belgia tersebut percaya Pogacar memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya: memenangkan tiga Grand Tour dalam satu musim—Giro d’Italia, Tour de France, dan Vuelta a España.

Pernyataan tersebut muncul ketika Pogacar bersiap mengunci gelar kelima Tour de France, Minggu (26/7). Sebuah pencapaian yang membuatnya sejajar dengan empat nama terbesar dalam sejarah balap sepeda: Jacques Anquetil, Eddy Merckx, Bernard Hinault, dan Miguel Indurain.

Tetapi bagi Merckx, lima gelar Tour de France bukanlah akhir cerita Pogacar.

"Saya harus memberi pujian kepadanya. Namun, saya tidak berpikir dia hanya akan membatasi diri untuk menyamai saya dan para juara lainnya. Segera dia akan melampaui jumlah kemenangan Tour," ujar Merckx kepada La Gazzetta dello Sport.

Baca Juga: Tour de France 2026-Etape 21: Pogacar Raih Gelar Kelima, Van der Poel Menang di Paris

Baca Juga: Tour de France 2026-Etape 20: Carapaz Menang di Alpe d'Huez, Pogacar Selangkah Lagi Juara

Pogacar memang sudah melakukan sesuatu yang sebelumnya dianggap sangat sulit. Pada 2024, ia menjadi pembalap pertama yang mampu memenangkan Giro d’Italia dan Tour de France pada musim yang sama.

Kini, tantangan berikutnya adalah sesuatu yang bahkan belum pernah dicapai oleh legenda sebesar Merckx sekalipun: menguasai tiga Grand Tour dalam satu kalender balap.

Sejarah memang mencatat beberapa pembalap yang mampu memenangkan tiga Grand Tour dalam rentang waktu 12 bulan. Chris Froome melakukannya ketika menjuarai Tour de France dan Vuelta a España pada 2017, lalu Giro d’Italia pada 2018. Merckx juga pernah mencapai pencapaian serupa pada periode 1972-1973.

Namun, memenangkan Giro, Tour, dan Vuelta dalam satu musim yang sama? Belum ada satu pun yang berhasil.

Merckx melihat Pogacar sebagai satu-satunya pembalap yang saat ini memiliki peluang realistis untuk membuka pintu sejarah tersebut.

"Jika dia berada dalam kondisi yang tepat dan situasinya mendukung, dia bisa melakukannya," kata Merckx.

Menurut Merckx, tantangan terbesar bukan hanya kemampuan Pogacar di atas sepeda. Dukungan tim, strategi balapan, serta kemampuan mengatur energi sepanjang musim akan menjadi faktor penentu.

"Giro berlangsung pada Mei, lalu dia memiliki waktu dua bulan untuk Tour dan hampir waktu yang sama untuk bersiap menghadapi Vuelta. Dia membutuhkan tim yang sangat kuat, banyak pembantu, dan mereka harus mengontrol balapan agar dia tidak mengeluarkan terlalu banyak tenaga pada etape yang sebenarnya bisa dilewati dengan aman," jelasnya.

Baca Juga: Tour de France 2026-Etape 19: Pogacar Pecahkan Rekor Pantani di Alpe d’Huez

Baca Juga: Tour de France 2026-Etape 18: Carapaz Taklukkan Orcières-Merlette, Bidik Jersey Polkadot

Namun, Merckx mengakui bahwa Pogacar saat ini berada di level yang sangat berbeda.

Dominasi pembalap UAE Team Emirates-XRG itu dalam beberapa musim terakhir membuat banyak rival kesulitan mencari cara untuk menghentikannya. Serangan panjang di tanjakan, kemampuan time trial, hingga konsistensi sepanjang tiga pekan menjadi kombinasi yang sangat jarang ditemukan.

"Saya mungkin tidak menyangka dia bisa menjadi sekuat sekarang di tanjakan. Saya rasa hampir setiap tanjakan yang dia lalui, dia mampu mencatat waktu terbaik," ujar Merckx.

Meski namanya sering dibandingkan dengan Pogacar, Merckx tetap memilih berhati-hati. Menurutnya, setiap generasi memiliki bintangnya sendiri.

"Setiap era memiliki juaranya sendiri. Tetapi jelas bahwa ketika dia menjadi profesional, dia sudah tahu memiliki bakat istimewa," katanya.

Merckx juga menyoroti bagaimana dominasi Pogacar mengingatkannya pada masa ketika ia menghadapi Jacques Anquetil dan Raymond Poulidor. Dalam olahraga, selalu ada masa ketika satu pembalap berada beberapa langkah di depan para pesaingnya.

Tentang pembalap muda Prancis Paul Seixas yang disebut sebagai salah satu calon rival Pogacar di masa depan, Merckx meminta publik bersabar.

"Dia berbakat, tetapi jangan lupa Pogacar bahkan belum berusia 28 tahun dan setiap tahun dia terlihat semakin baik dan semakin kuat. Untuk mencapai levelnya sekarang, menurut saya hampir mustahil," kata Merckx. (mainsepeda)


COMMENTS