Tim balap sepeda profesional Israel-Premier Tech resmi menutup seluruh akun media sosial dan website mereka pada Sabtu, 15 November 2025, waktu setempat. Langkah drastis ini diambil setelah berbulan-bulan diterpa kontroversi dan rentetan aksi protes pro-Palestina yang mengganggu sejumlah balapan besar, termasuk Tour de France dan Vuelta a Espana.
Keputusan penutupan akun ini sekaligus mengindikasikan tim sedang bersiap untuk rebranding total. Sebelumnya, manajemen Israel-Premier Tech telah mengonfirmasi bahwa mereka akan berganti nama dan identitas pada musim 2026. Isu politik membuat tim ini diterpa tekanan publik yang sangat kuat.
Dampaknya sejumlah balapan yang diikuti oleh Israel-Premier Tech berakhir kacau, puncaknya terjadi di Vuelta a Espana. Beberapa etape terpaksa diwarnai keributan, bahkan garis finish dipindah di tengah balapan. Paling dramatis, etape terakhir dinyatakan batal, dan perayaan podium ditiadakan, diganti dengan seremoni singkat di lahan parkir hotel.
Baca Juga: Jadi Anomali, Aturan Budget Cap UCI Malah Ditolak Tim Medioker
Tekanan kian tak tertahankan setelah sponsor utama asal Kanada, Premier Tech, memutuskan mengakhiri kerja sama. Bahkan, supplier sepeda Factor menyatakan hanya akan melanjutkan kemitraan jika tim yang dimiliki Sylvan Adams ini benar-benar meninggalkan branding Israel.
Setelah sempat kukuh mempertahankan identitasnya, manajeman tim akhirnya menyerah. Mereka memastikan perubahan nama akan diumumkan dalam waktu dekat pada Oktober lalu, bahkan sang pemiliki juga ikut ditendang demi menghapus jejak Israel dalam tim.
Melalui unggahan terakhir di Instagram, Israel-Premier Tech mengumumkan akan rehat dari dunia maya seraya mengucapkan terima kasih kepada staf dan pembalap yang hengkang di akhir musim.
"Kami ingin berterima kasih kepada staf kami yang pergi atas kerja kerasnya, dan tentu saja para pembalap yang akan berpisah," tulis pernyataan tim di akun media sosial mereka.
"Terima kasih untuk memori hingga akhir tahun ini. Kami bersemangat untuk melihat kalian di peloton tahun depan atau dimanapun langkah baru yang kalian ambil."
Yang paling jadi sorotan utama ialah terdepaknya nama Chris Froome. Kepergian Froome membuatnya kini berstatus free agent di usia 40 tahun. Namun, sejauh ini belum ada pengumuman pensiun resmi.
Di masa jayanya, Froome adalah monster. Ia pemegang tujuh gelar GrandTour UCI, empat diantaranya merupakan titel juara umum Tour de France pada 2013, 2015, 2016, dan 2017. Total 46 kemenangan telah ia catatkan hingga saat ini.
Kepindahan Froome pada 2021 dari Ineos Grenadiers sejatinya digadang-gadang menjadi comeback spektakuler pasca kecelakaan parah pada Criterium du Dauphine 2019 lalu. Sayangnya, harapan itu tak pernah terwujud.
Baca Juga: Jonas Vingegaard Targetkan Juarai Giro d'Italia 2026
Sejak bergabung dengan Israel Premier-Tech, Froome gagal mencatatkan satu pun kemenangan. Froome bahkan lebih sering mengambil peran sebagai pembalap domestique. Usia dan dampak dari kecelakaan 2019 membuatnya gagal kembali ke performa yang konsisten. Selain posisi kedua di time trial tim Tour du Rwanda tahun lalu, satu-satunya hasil menonjol adalah tempat ketiga di puncak Alpe d’Huez yang ikonik pada etape 12 Tour de France 2022.
Balapan terakhir Froome adalah Tour of Poland, di mana ia finis ke-68 secara keseluruhan. Setelahnya ia kembali mengalami cedera saat latihan di Monaco. Insiden ini membuatnya mengalami patah tulang belakang, tulang rusuk, dan paru-paru kolaps.
Cedera ini semakin menguatkan spekulasi bahwa pembalap asal Inggris Raya itu akan pensiun di akhir 2025. Skenario paling memungkinkan, meski belum ada pernyataan resmi dari sang pembalap. (Mainsepeda)