Setiap kali ada teman sepeda jatuh atau kecelakaan, biasanya pertanyaan utama adalah ini: Apakah sepedanya tidak apa-apa?

Waktu saya diseruduk motor, Minggu pagi, 23 September lalu, pertanyaan itu tentu juga muncul. Jawabannya: Sepeda saya tidak apa-apa. Hanya perlu setel ulang pelek belakang dan ganti “anting” alias gantungan derailleur belakang. Biaya hanya beberapa ratus ribu rupiah.

Frame-nya aman, mulus.

Kok bisa sepedanya aman? Saya juga sempat heran.

Saya berpikir, itu motor akurat sekali saat menabrak. Ada tiga lajur jalan, dia menyeruduk saya lurus ban belakang. Ini sekaligus mementahkan anggapan bahwa saya sedang akan putar balik. Kalau posisi sepeda saya agak miring sedikit saja, maka yang dihantam pasti frame.

Anyway, sementara frame-nya tetap mulus, hasil X-Ray di rumah sakit mengkonfirmasikan bahwa kondisi bahu saya tidak seberuntung sepeda saya.

Minggu pagi itu, dr Theri Effendi menyampaikan kalau bahu saya ada patah/retak pada lima bagian. Patah clavicula, scapula, serta retak pada tiga rusuk.

Untung saat di instalasi rawat darurat itu pain killer sudah dimasukkan ke badan. Untung di ruangan itu penuh dengan teman-teman sepeda yang lucu-lucu dan bertingkah seperti penghuni kebun binatang. Jadi masa-masa menunggu operasi berasa cepat dan ceria.

Saking banyaknya anak sepeda di situ masih berpakaian sepeda lengkap, bagian belakang rumah sakit terkesan seperti area start atau finis sebuah even gran fondo.

Pukul 10.30 pagi, saya akhirnya dibawa ke ruang operasi.

Gelap.

Bangun. Saya melihat jam menunjukkan pukul 12.45. Kontan saya berpikir, wah, cepat sekali! Saya menoleh ke dokter bius yang jaga. Lalu saya nyeletuk: “Dok, kok cepat sekali bangunnya. Saya pikir siang ini saya bisa istirahat lebih panjang…”

Keluar ruang operasi, sudah banyak keluarga dan teman menunggu. Dan dalam dua hari ke depannya, praktis saya terus berbincang dan mendapat kunjungan dari pukul 07.00 pagi hingga 22.00 malam.

Saya benar-benar terima kasih atas perhatian begitu banyak pihak. Dari berbagai kalangan, kantor, dan macam dunia. Tapi maaf, saya benar-benar butuh istirahat. Dan kalau terus bicara, tenggorokan selalu kering, dan batuk. Mereka yang pernah retak/patah rusuk pasti pernah merasakan: Kalau batuk rasanya seperti dibogem Mike Tyson.

Karena itu hari ketiga saya pulang. Supaya benar-benar bisa merasakan tidur.

***

Begitu pulang, saya sudah menghitung hari. Kapan bisa gowes lagi. Menggunakan pengalaman akhir 2014, saat juga operasi bahu kanan. Target saya: Tiga minggu sudah gowes lagi di jalan.

Saya baca-baca, bisa butuh sampai 12 pekan sebelum seorang cyclist bisa kembali gowes setelah cedera serupa. Tapi pembalap profesional bisa kembali gowes dalam tiga pekan, walau belum balapan.

Jadi kalau dulu bisa tiga pekan, sekarang seharusnya juga bisa. Toh usia tidak beda terlalu banyak.

Pertama, kondisi saya tergolong fit. Hasil tes kesehatan hanya tiga pekan sebelum kecelakaan sangatlah baik. Dan saya kalau luka atau sakit biasanya juga cepat sembuh (mungkin genetik, karena ayah saya juga survivor berbagai situasi medis).

Kedua, saya selalu niat dan serius dalam segala hal.

Ketiga, saya tidak takut menjalani proses rehab/fisioterapi.

Yang ketiga itu menurut saya kunci. Saya selalu bilang, saya tidak takut operasi. Yang perlu diwas-wasi itu proses pasca-operasi. Saya pernah operasi lutut kanan (putus ACL total), dan 12 tahun lalu itu saya butuh waktu enam pekan untuk kembali jalan.

Waktu operasi bahu kanan pada akhir 2014, saya juga teratur rehab. Jadi sekarang pun saya siap menjalani proses yang sama.

Menurut saya, banyak orang proses sembuhnya lama karena dianya sendiri tidak serius, atau tidak cukup kuat hati, untuk menjalani proses rehab.

Prosesnya memang bisa menyakitkan. Dua jam rehab/fisio rasanya bisa lebih menyakitkan daripada dipaksa menanjak gunung naik sepeda. Keringatnya bisa sama!

Seminggu setelah operasi, saya rehab dua hari sekali. Jadi rehab dan kesakitan, recovery, lalu rehab kesakitan lagi. Bahu disetrum, diputar-putar, diangkat ke depan, ke belakang, ke samping, diberi beban, dan seterusnya sesuai proses dan progres pemulihan.

Tapi kalau mau pulih ya harus dijalani.

Syukurlah, badan dan bahu saya bereaksi positif dari proses rehab. Sehari setelah rehab tangan bisa lemas atau kaku, tapi besoknya tiba-tiba bisa gerak lebih.

Perban di bahu saya dilepas dua pekan setelah operasi, dan ternyata bekas lukanya cepat sekali bersih. Saya sering bercanda ke teman, saya ini agak-agak X-Men. Kalau luka agak cepat sembuh. Paling tidak, kali ini pun masih menunjukkan tanda-tanda agak-agak X-Men itu. He he he…

Tapi saat perban dilepas itu, saya sebenarnya sudah memulai proses kembali gowes di jalan…

***

Delapan hari setelah operasi, saya sudah lepas penahan bahu. Saya izin dulu ke dr Theri Effendi, dengan alasan jauh lebih nyaman tanpa “sling.” Dia oke, dan saya tidak menemui masalah setelah itu.

Sepuluh hari setelah operasi, saya sudah duduk di atas sadel, dan kaki saya sudah mulai berputar cepat.

Walau latihan indoor dan hanya satu tangan, pakaian tetap harus matching!

Ya, saya sudah mulai indoor training. Saya beli smart trainer baru, saya download beberapa aplikasi indoor training untuk variasi. Dan saya mulai pilih-pilih program latihan untuk memastikan kaki dan jantung saya “jos” saat waktunya kembali ke jalan.

Ruang hobi saya pun jadi training room. Sepeda menancap di smart trainer, menghadap televisi. Hape atau iPad saya sambungkan ke layar TV, jadi programnya/videonya bisa melihat ke layar TV.

Awalnya simple spin 30 menit. Lalu 45 menit. Lalu 60 menit.

Tidak lagi simple, mulai program dengan intensitas lebih tinggi.

Tidak jarang Ivo, istri saya, ikut menemani, ikut latihan “ngeroll” dengan trainer miliknya di sebelah saya.

Awalnya lengan kanan menggantung, hari ketiga latihan sudah memegang dua tangan di handlebar. Kata dr Theri tidak apa-apa kalau tidak sakit. Karena tidak sakit, ya saya teruskan.

Karena rajin training indoor di pagi hari, lalu rajin rehab, saya yakin bisa kembali lagi gowes di jalan dalam tiga pekan.

Ajak istri, Ivo Ananda, ikut sengsara latihan indoor.

Usai pekan ketiga, saya periksa. Clavicula aman karena di-pen, tapi scapula masih ada retaknya. Tidak apa-apa, karena tidak sakit mengganggu dan otot tebal melindungi scapula. Rusuk aman.

Sedikit masalah, ternyata tendon saya yang dulu pernah dioperasi ada sobeknya lagi. Sekitar 1,5 cm. Saya khawatir harus operasi lagi. Ternyata tidak (atau belum?). Akan dilihat lagi setelah tiga pekan. Sambil jalan akan ada program-program penguatan di sekitarnya.

Yang jelas, setelah tiga pekan, lengan kanan saya sudah bisa berputar penuh, bergerak penuh ke semua arah. Belum sekuat sebelumnya, tapi sudah bisa diputar-putar.

Kata dr Theri ini agak gak normal, karena biasanya 3-4 pekan itu masih ada sakitnya. Saya sih merasa tidak sakit, hanya merasa sedikit tidak nyaman.

Maunya, Selasa, 16 Oktober, saya ingin mulai gowes. Di jalan tertutup, untuk mencicipi rasanya kembali di aspal. Ingin tahu, apakah bahu sakit ketika kena getaran.

Karena Selasa banyak meeting, akhirnya geser ke Rabu pagi, 17 Oktober.

Dan itu jadi salah satu Happiest Wednesday dalam hidup saya. Naik mobil ke sebuah jalan panjang mulus di Tlocor, Sidoarjo, saya berniat “nge-lap” di sana. Sekali bolak-balik 30 km, dan itu target minimal. Beberapa teman dekat ikut menemani dan mengawal.

Bersama kawan-kawan saat gowes di Tlocor, Sidoarjo.

Awalnya, sempat agak was-was. Agak merinding setiap mendengar ada motor atau mobil mendekat. Tapi itu hanya beberapa menit. Setelah aman, tancap gas.

Satu lap 30 km itu saya jalani tanpa berhenti. Walau melawan angin, speed saya bisa konstan 32-38 km/jam. Kisaran 200-250 watt konstan. Masuk zona 2 atau zona 3 konstan.

Berhenti sejenak di sebuah warung, saya dan teman-teman lantas memutuskan kembali lagi satu putaran.

Betapa hepinya saya waktu itu. Tangan tidak sakit. Bahu tidak sakit. Kena getaran tidak sakit. Hanya sedikit kesemutan pada lengan kanan, mungkin karena lama tidak gowes. Atau mungkin saya lupa apa itu sakit?

Salah satu sahabat, Edo Bawono, bilang kalau saya harus periksa juga software saya. Tapi saya bilang, dia juga sudah error software-nya. Kan sama-sama gilanya. Wkwkwkwk

Bahkan, di lap kedua itu, saya sudah berani bermain pace line dengan teman-teman. Bergantian menarik di depan dengan kecepatan konstan di atas 40 km/jam.

Bahkan lagi, saya berani melakukan sprint walau belum all out.

Total saya gowes 60 km kebanyakan di zona 3. Alangkah hepinya saya pagi itu… Kembali gowes di jalan hanya 24 hari setelah diseruduk motor dan operasi. Dan bukan gowes tipis-tipis, melainkan cukup serius.

Saya pun laporan ke dr Theri, bahwa tangan aman. Malah dia yang merasa khawatir. Satu, kok saya bisa sembuh begitu cepat. Dua, batal rencana dia untuk bisa mengalahkan saya saat saya kembali gowes. Wkwkwkwk, dokter yang satu ini memang termasuk jago nanjak. Suer!

Tidak mau memaksa. Keesokan harinya saya hanya indoor 30 menit, lalu melanjutkan rehab.

Konfirmasi tangan saya aman, dan bisa kembali gowes normal, adalah Jumat, 19 Oktober. Pagi itu saya ikut rombongan Pangdam V Brawijaya Bapak Mayjen TNI Arif Rahman, gowes 50 km menuju Finna Golf di Pandaan, Pasuruan. Kebetulan Pangdam ini juga cyclist, dan ketangguhan dan ketekunannya maut!

Bersama Pangdam V Brawijaya Bapak Mayjen TNI Arif Rahman (lima dari kanan) di Finna Golf, Pandaan.

Rute hari itu ada menanjaknya, dan saya tidak kesakitan. Hidup saya kembali normal. Horeee! Bisa menantang lagi teman-teman sepeda adu cepat di tanjakan!

***

Catatan khusus: Saya punya motivasi ekstra untuk segera kembali gowes di jalan. Saya ingin menunjukkan kepada sesama cyclist/penghobi olahraga untuk tidak takut apabila mengalami cedera atau kecelakaan.

Jangan sampai takut, kendur, atau bahkan menakut-nakuti yang lain apabila ada yang mengalami kejadian seperti saya. Jangankan gowes, kita duduk atau berdiri diam saja bisa diseruduk kendaraan kok!

Intinya, jangan sampai gara-gara ini lalu hidup tanggung atau setengah-setengah! (habis)

 


COMMENTS