Baru di tahun kedua Ariwandi Hamid bisa bergabung di East Java Journey (EJJ). Cyclist asal Jakarta tersebut turun di kategori 600 Km non competitive. Memang, sejak digelar pada 2023, event ultra cycling milik Mainsepeda itu menjadi salah satu ajang gowes yang didambakannya.

Ariwandi absen di EJJ 2023 karena alasan serius. Ketika itu istrinya mengidap kanker stadium 3. Lantaran perlu perawatan khusus, cyclist berusia 68 tahun itu harus menjaga sang istri purnawaktu. Yang tentu berpengaruh pada seluruh aktivitas sekundernya. Termasuk urusan bersepeda. 

Namun, karena sekarang kondisi istrinya sudah membaik, Ariwandi pun comeback. Ketika ada EJJ 2024, ia langsung mendaftar. 

"Saya memberanikan diri mendaftar. Walaupun dengan persiapan yang kurang," kata Ariwandi. 

Di usia yang tak lagi muda, Ariwandi menyadari kalau EJJ 2024 cukup menantang baginya. Namun karena sudah diimpikan sejak lama, ia tetap tancap gas. Beragam masalah di jalan satu persatu ia lalui. 

Baca Juga: Finis Penuh Drama di EJJ 1500, Budi "Master Roshi" Suyanto Ingin Rute Baru Tahun Depan

Mulai dari Surabaya menuju Bendungan Lahor (Km 135) dua device pentingnya tak berfungsi. Gawai dan garminnya mati.

Saat tiba di checkpoint 1, Istana Gebang Blitar, Ariwandi pun terlambat. Dengan cut off time (COT) pukul 23.59 WIB, ia baru tiba di CP 1 pada 2 Maret 2024 pukul 01.00 WIB. Lebih satu jam. 

"Ada HP backup, tapi saya hanya bisa ikuti peta jalan dan Alhamdulillahnya dapat kawan jalan. Sayangnya, kita terpisah di Kota Blitar, akhirnya saya nyasar, baru sampai CP dini hari," katanya. 

Perjalanannya menuju CP 2 pun penuh sial. Ariwandi kembali nyasar hampir 10 Km. Ia baru sadar ketika memantau live tracking. Dalam perjalanan gowes ke titik awal, ia pun mendapat musibah.  Terpeleset ketika menanjak. 

"Di Km 262 itu saya terpeleset. Saya coba gowes lagi 1 km, namun kaki saya sakit. Akhirnya saya ambil keputusan untuk minta dievakuasi ke Madiun dan mendapatkan treatment, Alhamdulillah kaki membaik, tapi risikonya harus DNF," lanjutnya.

Baca Juga: Sempat Lumpuh Total karena GBS di 2020, Dwi Trijono Sukses Taklukan East Java Journey 2024

Meskipun begitu, Ariwandi senang dapat berpartisipasi. EJJ 2024 tentunya menjadi ajang gowes penuh ceritanya. "Terima kasih untuk semuanya," kata Ariwandi. 

EJJ 2024 telah tuntas. Event ini sukses diselenggarakan selama sepekan. Dari start Senin, 26 Februari 2024 sampai finis Minggu, 3 Maret 2024. Ada lebih dari 100 cyclist dari seluruh Indonesia berpartisipasi. Mereka ditantang menaklukkan rute, sekaligus menikmati keindahan alam Jawa Timur. 

EJJ 2024 dibagi dalam dua kategori. Kategori pertama biasa disebut full journey. Kategori ini mengajak peserta bersepeda sejauh 1.500 km, mengelilingi Jawa Timur.

Kategori full journey bersifat kompetitif dengan dibagi kelompok umur Men 40 and up, Men 39 and under, Woman, dan Men Pair. Sementara kategori lainnya adalah half journey, 600 km. Kategori ini sifatnya non kompetitif. (Mainsepeda)

Populer

Kolom Sehat: X , Sepuluh
Giro d'Italia 2024, Etape 12: Breakaway 126 Km, Alaphilippe Finis Solo
SRAM Red AXS 2024: Rem Game Changer, Dapat Bike Computer, Tak Perlu Upgrade Pulley
Cyclist Asal Kalimantan Ramai-Ramai Ambil Race Pack Antangin Bromo KOM X di Hari Pertama
Kalender Event Mainsepeda 2024: East Java Journey Pertama, Bromo KOM X 18 Mei
Maribeth Ikut Antangin Bromo KOM X karena Ada Kelas Women Under 29, Narendra Surprise Race Pack
TC di Sidoarjo Dua Bulan, Tiga Pembalap Muda Manado Siap Bersaing di Antangin Bromo KOM X
Datang Sebelum Race Pack Collection Dibuka, Alumni EJJ 2024 Bersyukur Start Bromo KOM X Lebih Awal
Dua Opsi Recovery Antangin Bromo KOM X: Datar atau Easy Climb
Antangin Bromo KOM X: Peserta dari 17 Negara, 31 Provinsi, 428 Komunitas