L-Twoo RX full hydraulic layak disebut sebagai disruptor dan game changer.

Saya rasa saya tidak sendirian. Walau tergolong mampu, tetap geleng-geleng kepala melihat semakin mahalnya harga komponen sepeda. Khususnya grupset, yang selama ini praktis didominasi Shimano, lalu praktis hanya punya opsi alternatif SRAM dan Campagnolo.

Ketika harga Dura-Ace mendekati angka Rp 50 juta, lalu 105 mendekati Rp 20 juta. Walau ada teknologi elektronik dan wireless, rasanya tetap ada yang "tidak pas." Apakah hobi sepeda ini hanya menjadi hobinya orang mampu? Dan apakah jurang pemisah harus dibuat sejauh itu antara yang mampu dan tidak?

Kangen rasanya dengan komunitas era sebelum pandemi, ketika yang kumpul itu dari segala kalangan. Mulai dari direktur perusahaan sampai tukang tambal ban, semua gowes bareng tanpa pemisah.

Beberapa brand kondang lain mencoba bikin grupset. Seperti Rotor dan FSA. Tapi belum ada yang mampu mengganggu dominasi tiga besar di atas.

Memang, dalam beberapa tahun terakhir mulai muncul produk-produk dari Tiongkok. Khususnya Sensah dan L-Twoo, yang pendiri atau personelnya dulu mantan orang-orang SRAM sebelum perusahaan itu hengkang dari Tiongkok. Kualitasnya terus dibenahi. Tapi, seperti halnya banyak produk lain dari sana, butuh waktu bagi orang untuk percaya. Dan mungkin, membuang gengsi.

BACA JUGA: Menjajal L-Twoo RX 12-Speed, seperti Apa Lawan Sensah?

Dalam setahun terakhir, teman-teman di industri sepeda sudah mulai memberi tahu. Kalau akan ada gebrakan terus dari Tiongkok. Bahkan, dalam beberapa bulan terakhir, saya sudah berkomunikasi langsung dengan produsen-produsen itu, dan sudah mendapatkan informasi tentang grupset disc brake full hydraulic. Yang pertama dari L-Twoo. Dan saya --serta Om Johnny Ray dari Mainsepeda-- akan mendapat kesempatan menjajalnya.

Sambil menunggu datangnya komponen baru itu, sekarang grupset L-Twoo RX full hydraulic itu sudah ramai di dunia maya. Terus terang, buat saya, ini adalah pendobrak pertama yang signifikan. Bersiaplah pula, karena 2023 kabarnya akan jadi tahun penting bagi merek-merek Tiongkok itu. Akan ada produk-produk susulan, termasuk --kabarnya-- yang elektronik!

Kenapa L-Twoo RX full hydraulic ini layak disebut sebagai disruptor dan game changer?

Pertama, karena mengisi kekosongan high performance grupset mekanikal dengan harga terjangkau. Siap mengisi kebutuhan pasar "groupset for the people," yang seolah ditinggalkan oleh Shimano 105 (kini elektronik).

RX 2x12 Carbon Hydraulic Shifter.

Kedua, tentu harganya!

Harga resmi belum dirilis beneran. Dan kenyataan di pasar nanti masih belum kelihatan. Mungkin, awalnya masih akan melonjak agak tinggi, karena demand masih mengalahkan supply. Tapi, perlahan akan menjadi normal dan harga semestinya akan muncul.

Catatan khusus: L-Twoo (seperti Sensah) tidak merilis seluruh komponen grupset. Yang mereka jual adalah shifter kanan dan kiri, front derailleur (FD), serta rear derailleur. Untuk L-Twoo RX terbaru, sekarang termasuk brake caliper full hydraulic, yang menggunakan mineral oil (ala Shimano).


Posisi thumb shifter.


Posisi saluran mineral oil.

Bocoran harga sementara L-Twoo RX untuk kelompok itu ("mini grupset") cukup menggemparkan. Juga mungkin membahagiakan.

Untuk yang 2 x 11 alloy (shifter dan RD-nya aluminium), harganya di bawah USD 200. Yang 2 x 11 karbon, di kisaran USD 250. Sementara yang 2 x 12 karbon, tak sampai USD 325. Lalu ada versi 1 x 12 gravel, yang RD-nya dilengkapi mekanisme kopling, harganya di kisaran angka-angka tersebut.

Itu berarti, versi termahalnya, yang 12-speed karbon, kalau dirupiahkan masih di kisaran Rp 5 juta! Kalau ditambah sproket, crank, dan rantai, totalnya sangat mudah di bawah Rp 10 juta. Tinggal mau semahal apa komponen tambahannya.

Sekarang saja, Shimano 105 Disc yang 11-speed mekanikal saja masih di atas Rp 10 juta. Dan L-Twoo RX ini mengejar pasar tersebut, tapi dengan sistem 12-speed. Yang 11-speed, sekali lagi, lebih muraaaah.


RX 2x12 Rear Derailleur.

Karena kami belum menerima barang, dan belum menjajalnya, tentu kami belum bisa bicara menyampaikan seperti apa rasa pemakaian dan kesan kualitasnya.

Tapi dari foto-foto dan video yang sudah beredar, jelas kalau RX baru ini sudah belajar dari generasi RX sebelumnya. Seperti yang pernah kami review di video di channel Mainsepeda di YouTube (klik di sini), "kekurangan" utama dalam pemakaian mungkin ada di tuas pemindah gigi sisi dalam shifter. Dengan sistem ala Campagnolo, tuas kecilnya berada di ujung depan, tidak mungkin dicapai menggunakan jempol saat posisi pegang bawah handlebar.

Di RX terbaru ini, tuasnya sudah disempurnakan, lebih besar dan dengan mudah bisa diakses dengan ibu jari dari bawah handlebar.

Mereka yang skeptis tentu bertanya, kenapa bisa murah. Bagaimana dengan pelanggaran paten. Bagaimana dengan kualitas. L-Twoo (dan Sensah) pasti tidak sembarangan. Apalagi kabarnya bos L-Twoo itu pernah bekerja di perusahaan paten sebelum mendirikan perusahaannya di kota Zhuhai.

Markas L-Twoo di Kota Zhuhai, Privinsi Guangdong, Tiongkok.

Jangan lupa pula, paten itu ada umurnya. Jadi mungkin saja merek-merek dominan sekarang ini berpindah ke elektronik karena paten mekanikal mereka mulai habis satu per satu.

Terus terang, saya makin tak sabar mencoba update terbaru dari L-Twoo ini. Pasti akan saya sharing dengan teman-teman semua sebisa mungkin, karena impian saya tetap sama: Sepeda ini harus jadi hobi untuk semua. Harus inklusif, tidak boleh makin eksklusif.

Makin tidak sabar juga menunggu 2023. Apalagi kalau benar Sensah akan menyusul dengan produk terbaru. Plus ketika produk Tiongkok nanti juga merilis versi elektronik untuk terus mengganggu dominasi tiga besar dunia.

Semakin banyak pemain, pemenangnya adalah kita sebagai penghobi! (azrul ananda)

Podcast Mainsepeda Bareng AZA x Johnny Ray Episode 113

Foto: L-Twoo.com


COMMENTS