Sebelum kita membahas lebih lanjut terkait judul di atas, saya mengajak Anda memahami arti kata transparan dan telanjang terlebih dahulu. Pertama, transparan. Transparan bisa diartikan bening, tembus cahaya, tembus pandang. Bila dikaitkan dengan organisasi, biasanya berarti jelas, datanya mudah diakses oleh siapa saja, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sedangkan telanjang, para pembaca yang umumnya pria, jangan berpikir terlalu jauh dulu ya. Telanjang dapat artinya tidak berpakaian. Kalau digandengkan dengan bulat, maka artinya jauh lebih vulgar. Tidak berpakaian sama sekali. Kalau dalam Bahasa Jawa disebut blejet.

Apa hubungan tembus pandang dan tidak berpakaian dengan dunia sepeda? Ada. Khususnya menyangkut dunia komunitas sepeda. Dunia komunitas sepeda itu sebenarnya sederhana. Sebagian besar kalau ditanya kenapa bergabung dengan komunitas, pasti menjawab ingin bersepeda bersama ke tujuan tertentu. Sesederhana itu sebenarnya.

Makin besar komunitasnya, maka makin kompleks komunitas itu. Yang besar pasti ada susunan organisasinya. Bahkan ada yang sudah berbadan hukum. Dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dijelaskan soal posisi ketua, sekretaris, bendahara, dan sebagainya. Tapi sering kali peran seseorang begitu besar. Hingga merangkap peran ketua, bendahara, hingga pelaksana lapangan.

Seiring bertambah kompleksnya organisasi komunitas ini, anggotanya pun makin beragam. Baik secara gender, tingkat pendidikan, profesi, dan tujuan ikut ke komunitas. Sering kali yang paling seru untuk dibahas adalah masalah uang. Uang menjadi pemersatu. Di mana ada dana dikucurkan, maka di situ ada kegiatan yang bisa terselenggara. Tapi uang juga sering menjadi penyebab perpecahan.

Jadi pemakaian dana pasti menjadi sorotan. Misalkan sejumlah dana tersedia, maka aktivitas bersepeda apa yang akan dilakukan. Lalu di daerah mana akan dilakukan. Kapan dilakukan. Bagaimana rutenya. Serta diadakan dalam kurun waktu berapa lama. Setiap elemen sangat seru untuk dibahas. Bagaimana tiap Rupiah itu mengalir ke tiap-tiap pos, pasti menjadi seni tersendiri. Apa pun hasilnya, akan timbul pro dan kontra.

Kemudian muncul permintaan keterbukaan soal pemakaian dana. Diminta transparan. Walaupun awalnya alasan permintaan transparansi adalah untuk kebaikan bersama, tapi tidak semua data dibuka. Sensitif jika dibuka begitu saja. Sehingga menjadi telanjang. Sama seperti orang yang tidak berbusana. Menyenangkan untuk dilihat orang lain. Tapi menimbulkan aib atau malu bagi pelaku.

Seni bagaimana mengelola transparansi dalam sebuah organisasi agar tidak menjadi telanjang, diperlukan seorang pemimpin yang bisa disegani. Apa pun keputusan yang diambil, pasti ada kasak kusuk. Hanya sikap segan dan besar hati yang bisa membuat komunitas itu tetap kuat. Bila komunitas itu larut kepada rasa penasaran akan 'ketelanjangan' organisasinya, maka friksi- friksi akan makin panas. Serta dapat membakar kebencian dari dalam.

Apa pun itu, berbahagialah bila Anda punya komunitas. Karena masih ada orang lain yang memiliki hobi sepeda. Kalau Anda merasa tidak cocok, ya dicocok-cocokan saja. Sampai bertemu yang lebih cocok. Toh tujuan kita bersepeda adalah menjadi sehat.

Bila Anda berharap cover kolom sehat ini ada foto telanjangnya, Anda harus puas kalau yang tidak berbusana hanya sepedanya saja, wkwkwkwk. Sekian. (johnny ray)

Podcast Mainsepeda Bareng AZA x Johnny Ray Episode 110

Foto: @chaidar26


COMMENTS