Tak banyak lomba sepeda yang menarik. Jujur saja, meski sangat bergengsi dan dipenuhi para bintang, biasanya malah bikin gantuk. Apalagi, karena kita di Indonesia, balapan sering kali dimulai malam hari. Durasinya panjang. Bisa lebih dari lima jam. Sering kali pemenangnya sudah bisa ditebak jauh sebelum garis finis. Kalau pun ada yang lomba yang seru, biasanya pembalapnya kurang terkenal.

Namun balapan pada 3 April lalu di Tour of Flanders adalah pengecualian. Balapan ini juga dikenal dengan nama Ronde van Vlaanderen. Satu dari lima balapan Monumen. Diadakan di Belgia ketika musim semi. Tour of Flanders adalah salah satu dari dua lomba Monumen dengan permukaan jalan cobblestone yang menantang.

Pesertanya adalah pembalap dengan nama besar. Seperti Mads Pedersen (Trek-Segafredo), juara musim 2021 Kasper Asgreen (QuickStep Alpha Vinyl), Tom Pidcock (Ineos Grenadiers), Tadej Pogacar (UAE Team Emirates), serta Mathieu van der Poel (Alpecin-Fenix).

Salah satu bintang yang absen adalah Wout van Aert. Pembalap termahal tim Jumbo-Visma itu sedang berkutat dengan Covid-19 ketika balapan ini diadakan. 

Tour of Flanders menembuh jarak sejauh 272,5 kilometer. Sebuah jarak yang luar biasa jauh. Di mana pembalap harus melewati beberapa segmen cobblestone. Serta tanjakan-tanjakan yang membuat para atlet tangguh pun rontok karena medan yang berat.

Jalannya pertandingan ini sungguh luar biasa. Banyak pengamat menyamakan ketegangan balapan ini seperti film thriller yang mencekam sepanjang durasinya. Kita harus menunggu sampai tuntas untuk mengetahui ending ceritanya seperti apa. Seperti itu pula pertandingan ini. Balapan yang seru sekali.

Kalau ditanya siapa yang terkuat, saya menjagokan Pogacar. Ia telah mencoba melepaskan musuh-musuhnya ketika lomba masih harus menembuh jarak ratusan kilometer. Sesuatu hal yang luar biasa. Taktik Pogacar memang sukses untuk sebagian peserta. Tapi tidak untuk Van der Poel.

Pogacar luar biasa di segmen Koppenberg yang panjangnya 'hanya' 600 meter, tapi maximum gradien 22 persen. Pogacar attack juga terjadi di segmen Oude Kwaremont sepanjang 2.200 meter dengan gradien maksimal 11 persen. Tapi masih ada satu pembalap yang dengan ngiler-ngiler dan ngotot masih bisa mengikutinya. Ia adalah Van der Poel.

Setelah itu, dua pembalap hebat ini begitu mendominasi lomba. Saya kira hanya probabilitas yang menentukan siapa pemenangnya. Serta hanya masalah mekanikal yang bisa membatalakan podium dari mereka. Juara satu dan dua sepertinya sudah termeterai.

Tapi kenyataan yang terjadi tidak demikian adanya. Jauh dari dugaan saya, Dylan van Barlee (Ineos Grenadiers) dan Valentin Madouas (Groupama-FDJ)  mulai mendekati Pogacar dan Van der Poel.

Normalnya, Pogacar dan Van der Poel akan tancap gas menuju finis. Tapi kali ini tidak. Van der Poel melihat ke belakang. Seakan menunggu kedatangan Van Baarle dan Madouas. Menunggu dan menunggu. Sampai kedua pembalap itu mendekat, lalu diajak sprint di sisa 300 meter.

Hasilnya, Van der Poel juara. Van Baarle dan Madouas finis kedua dan ketiga. Sementara Pogacar harus puas di tempat keempat. Ya, pemenang dua edisi terakhir Tour de France itu terlempar dari podium. Usahanya seakan pupus dan musnah di sisa 300 meter. Sebuah ironi, sekaligus akhir yang luar biasa.

Sebuah akhir yang tidak bisa ditebak. Akhir yang sesuai kemauan Van der Poel. Ia rela menunggu dua pembalap untuk mengejar sekaligus mengunci Pogacar. Luar biasa. Saya pun berpikir, apa ini yang dirasakan Primoz Roglic (Jumbo-Visma) ketika gagal juara di Tour de France 2020? Meski pada saat itu Roglic berhasil naik podium.

Apapun itu, ini adalah lomba yang diperbincangkan dan diingat penggemar sepeda. Bila Anda belum melihatnya , banyak tayangan ulang dan rekap rekaman yang tidak terlalu panjang. Yang masih menyuguhkan detail-detail  yang diperlukan. Semoga lomba lomba ke depan akan menyuguhkan thriller seperti Tour of Flanders 2022. (johnny ray)

Podcast Main Sepeda Bareng AZA x Johnny Ray Episode 80

Foto: Chris Auld, Getty Images


COMMENTS