Kolom Sehat: Lima Hal tak Terduga saat Mbolang ke Pantai Selatan
by - September 24, 2021
Kolom Sehat: Lima Hal tak Terduga saat Mbolang ke Pantai Selatan
by Johnny Ray - September 24, 2021

Yang namanya perjalanan pasti punya cerita. Tentang apa yang terjadi di sepanjang perjalanan itu. Walau melewati rute yang sama dan dalam waktu yang kurang lebih bersamaan, tapi tiap pribadi pasti merasakan pengalaman yang berbeda di setiap perjalanan.

Menurut saya, sebuah perjalanan itu bisa dinikmati dan dikenang apabila dilalui dengan tidak terlalu terburu-buru. Serta tidak dalam keadaaan terlalu lelah.

Menurut saya, ada lima hal tidak terduga yang terjadi ketika mbolang ke pantai selatan di Malang beberapa waktu lalu:

1. Nikmatnya Speed Damai
Cepat atau lambat ketika bersepeda sering menjadi patokan kekuatan seseorang. Menurut saya, hal ini bisa dikesampingkan jika Anda melakukan perjalan sendiri.

Pada awal keberangkatan, saya masih diantar beberapa teman. Di antaranya Faisol, Mas Bro Tatang, Jambronk, dan Tyas yang hobi sepeda dan nge-bus. Wkwkwkwk.
Saya berangkat dengan pace bersepeda mingguan. Cukup cepat. Membuat tubuh cepat lelah. Saat jarak masih 75 kilometer, saya sudah merasa sangat lapar dan capai. Kemudian saya mengayuh sepeda dengan kecepatan saya sendiri. Toh saya tidak kejar setoran. Apalagi dikejar setan berpunggung bolong yang suka makan sate.

Rasanya beda sekali. Saya bisa melihat kiri dan kanan dengan leluasa. Sambil menikmati udara yang di alam sekitar. Membagi kekuatan napas dan kaki terasa begitu mudah apabila tak ada yang dikejar. Anda perlu mencobanya

2. Lampu Sepeda Bikin Pede
Bersepeda di jalan raya membuat keamanan diri sangat rentan. Sebab kendaraan bermotor yang besar dan cepat bisa mencelakai pesepeda dengan mudah. Jadi kita harus hati-hati.

Pada waktu mempersiapkan sepeda, saya memakai lampu buatan Lumi. Dengan baterai terpisah dari lampu. Dihubungkan sebuah kabel yang saya bawa di tas sepeda. Ketika memasuki daerah yang berbelok-belok, saya nyalakan lampunya. Ternyata lampu ini membuat kendaraan lain lebih aware ketika berpapasan dengan saya.

Mungkin bagi mereka, adanya lampu ini membuat pesepeda lebih "dianggap sama". Sehingga mereka mengurangi kecepatan dan memberi jalan.

Bersisipan dengan kendaraan-kendaraan itu, di medan berkelok-kelok di Malang Selatan, bukan hal menyenangkan. Sering kali jalur saya diambil mobil dari arah berlawanan, Untuk menyalip atau sekadar haluan belok mereka. Jadi ketika mereka mengurangi kecepatannya, itu sangat membantu saya melewati kelok demi kelok di hutan di Malang Selatan.

3. Makanan yang Tidak Sempat Dicoba
Isi tas saya salah satunya adalah makanan. Santapan praktis khas pesepeda. Seperti gel dan permen berbentuk jeli. Rutin makan sedikit dan berkala adalah kunci agar kita bisa bersepeda lama.

Ketika sudah melalui pusat kota, atau tempat yang jauh dari keramaian, ada begitu banyak depot atau warung di pinggir jalan yang menggiurkan.
Namanya saja orang bersepeda, pasti cenderung lapar karena gerak terus. Depot nasi campur, ayam goreng, es oyen, es degan, rawon, dan lainnya, banyak tersedia sepanjang jalan. Sayang perut saya satu dan bukan mesin giling yang bisa dinyalakan sewaktu-waktu.

Ketika sudah cukup kenyang, saya tidak bisa berhenti lagi di depot atau warung yang saya lewati berikutnya. Kadang, ketika belum lelah, ada banyak makanan menggiurkan. Tapi ketika sudah sangat haus, wwalau cuma menyediakan minuman dingin pun terasa begitu nikmat. Ingat, untuk bahagia itu perlu tenaga. Apalagi bersepeda. Maka jangan telat makan ya.

4. Perlengkapan yang Rusak
Untuk keperluan dokumentasi, saya memasang kamera di sepeda. Kamera ini disematkan dengan mount khusus di handlebar. Karena perjalanan ini melewati jalan khas Indonesia yang tidak rata, maka kamera saya ikut bergoyang-goyang di atas sepeda. Ternyata mount kamera saya putus ketika mendekati kawasan Pletes.

Saya harus menepi dan menggantinya. Kebetulan saya membawa cadangan mount. Tetapi keesokan harinya, mount baru itu juga patah. Sehingga sebagian besar perjalanan pulang saya tidak terdokumentasikan.

Begitulah sebuah perjalanan. Walau kadang sudah mempersiapkan cadangan, tetapi masih saja rusak. Untung itu hanya mount kamera. Bukan hal yang jauh lebih penting seperti ban.

5. Tujuan yang Membuat Ketagihan
Pergi ke luar negeri itu bergengsi. Kalau difoto dan dimasukkan media sosial, akan menimbulkan decak kagum dan ucapan wowww dari teman atau orang lain yang melihatnya.

Padahal sebenarnya keindahan alam di Indonesia ini terlalu banyak. Ketika sampai di sendang biru, ada pantai lain yang berada di dekatnya. Seperti Pantai Bajul Mati, Pantai Gua Cina, dan Pantai Balekambang. Tapi saya tidak sempat mendatanginya. Intinya, masih banyak tujuan mbolang di kemudian hari.

Mbolangnya tiap pesepeda pasti punya alasan masing-masing. Tetaplah bersepeda dan semoga kita semua aman di jalan. Sekian. (johnny ray)

Podcast Main Sepeda Bareng AZA x Johnny Ray Episode 57


COMMENTS