Kolom Sehat: Ketika Pembalap Tour de France Kalah dari Mbolanger
by - July 16, 2021

Tour de France memasuki minggu terakhirnya. Menurut saya, perlombaan sepeda terakbar tahun ini kurang seru, lebih seru tahun lalu.

Ada yang bilang orang ganteng kalah dengan orang yang beruntung. Kalimat itu sepertinya cocok dengan Tadej Pogacar (UAE Team Emirates).

Lawan-lawan tangguh Pogacar kena apes. Terlibat musibah di etape-etape awal. Padahal, saat itu etape belum ada apa-apanya. Masih landai, belum ada alasan untung saling break, adu taktik, dan mempertahankan power monster pada gradien di atas 10 persen.
Nah, musibah-musibah itu melibatkan lebih dari satu pembalap dari tiap tim. Akibatnya, banyak dari mereka keluar dari Tour de France karena mengalami cedera yang cukup parah. Tidak memungkinkan lagi meneruskan perlombaan. Yang terjadi, tim kuat dan climber kuat, belum cukup untuk menjadi modal mengenakan kaus kuning sampai Paris.

Di bagian lain, Mark Cavendish menunjukkan comeback yang luar biasa. Pecinta balap sepeda lawas, pasti tahu sepak terjang sprinter berjulu "Manx Missile" ini. Kekuatan dan tehnik sprint-nya luar biasa.

Sayang karirnya sempat memudar. Pada Tour de France 2018, Cavendish terkena cut-off time dan tidak bisa meneruskan mengikuti Grand Tour paling bergengsi tersebut.
Raihannya sudah menyamai Eddy Merckx, 34 kali menang etape Le Tour. Minggu lalu, teman kami yang dari Belgia mengirim emoticon menangis. Waktu itu dia sedih kalau rekor Cannibal, julukan Merckx, akan disamai atau bahkan dilebihi oleh Cavendish.

Padahal, sebenarnya yang berhasil disaingi Cavendish hanya sebagian dari rekor Merckx. Cavendish tidak akan bisa menyaingi rekor Merckx yang pernah menjuarai sebelas kali Grand Tour dan banyak gelar lain.

Kisah lain dari Tour de France tahun ini adalah ketika seorang bernama Lachlan Morton (EF Education Nippo). Ia membuat "tour tandingan" bernama Alt Tour de France.

Menurut saya ini tour yang epic. Itu menjadi inspirasi para mbolanger dan pesepeda minggat. Karena itu, Morton layak disebut mbahnya pesepeda minggat di era modern ini.

Rutenya bagaimana? Kok bisa tandingan Tour de France?

Jadi begini, pembalap berusia 29 tahun dari Australia itu punya misi mengalahkan peloton peserta Tour de France. Ia pun membuata cara bersepeda menyusuri rute Tour de France. Semua etape yang berjumlah 21, ia sikat.

Bedanya, Morton mbolang. Tidak tidur di hotel, tidak ada support team, tidak ada pula mekanik.

Morton tidur senemunya. Makan juga memasak atau membeli di jalan. Bekal, peralatan masak dan tidur juga dibawa. Bersepeda siang dan malam.

Menurut saya, ia ini gila! Dan gilanya akan ditiru banyak orang, wkwkwkwk.

Kenapa gila? Lihat statistik ini…

Total jarak yang ditempuh peserta resmi Tour de France adalah 3.383 kilometer. Itu angka yang gila. Namun Morton melahap lebih jauh, 5.510 kilometer.

Elevasi yang dilunasi Morton mencapai 65.500 meter. Sedangkan peserta TdF ”hanya” 42.200 meter. Dan Morton melakukannya tanpa istirahat. Seperti kali pertama lomba ini digelar pada 1903.
Semua ini ia lakukan bukan karena ada masalah di rumahnya. Tetapi, ia punya misi, menggalang dana untuk World Bicycle Relief. Terakhir saya baca sudah terkumpul 500.000 poundsterling. Dan hebatnya, sekarang Morton sudah finis. Menyelesaikan rute maut itu hanya dalam 18 hari. Jauh lebih cepat dari pembalap Le Tour yang baru akan mengakhiri lomba Minggu nanti.

Morton menyebut, Tour de France adalah lomba yang tidak bisa diikuti 99,9 persen atlet. Tapi Anda bisa membeli sepeda, naik di atasnya,dan pergi mengelilingi Prancis.

Saya tahu,habis ini pasti banyak ajakan meniru si "om gila". Akan banyak tantangan untuk mbolang,ternyata atletnya "kalah" sama orang mbolang.

Mungkin para pembaca bisa mencoba secara bertahap, tapi yang pasti Anda tidak harus mengajak atau menantang penulis kolom ini, wkwkwkwk. Sekian (johnny ray)

Podcast Main Sepeda Bareng AZA x Johnny Ray Episode 50

Foto: Getty Images, ASO, EF Education Nippo


COMMENTS