Unbound Gravel (Dirty Kanza) 2021
Pagi Jajal Sedikit Medan, Sore Ambil Race Pack
by - June 04, 2021

Trio asal Indonesia bersama Mat Stephens (tiga dari kanan) juara 2017 dan tim Tibco Silicon Valley usai mengikuti group ride.

Ajang gowes gravel terbesar dunia, Unbound Gravel (Dirty Kanza) 2021 diselenggarakan Sabtu ini, 5 Juni. Mulai Kamisnya, rangkaian acara resmi sudah dimulai di Emporia, Kansas. Trio asal Indonesia pun memaksimalkan hari pertama itu untuk melakukan penyesuaian. Azrul Ananda, John Boemihardjo, dan Johnny Ray mengikuti group ride resmi di pagi hari, lalu sorenya menikmati pameran dan mengambil race pack.

Penyelenggara Unbound Gravel memang menyelenggarakan sejumlah group ride resmi untuk peserta. Selain untuk memperkenalkan barisan sponsor dan organisasi pendukung, acara itu juga baik untuk peserta baru. Mereka bisa menjajal langsung sebagian medan yang akan dilewati. Walau tidak banyak.

Group ride itu jaraknya antara 25 hingga 35 km. Sifatnya pun "no drop." Artinya, tidak ada yang ditinggal. Kalau ada yang mengalami masalah atau tertinggal akan ditunggu.

"Ini baru group ride bersahabat. Di Indonesia sulit disuruh seperti ini," kata Johnny Ray.

Group ride yang diikuti trio Indonesia ini adalah yang pertama. Yaitu start pukul 10 pagi di tengah kawasan pameran, di pusat kota. Sponsor yang ditampilkan Shimano, dengan tema "All Bodies on Bikes Ride."

Dua pemandunya, Marley Blonsky dan Crystal Kovacs, merupakan aktivis kampanye bersepeda untuk orang segala ukuran badan. Keduanya --maaf-- berbadan sangat besar. Tapi mereka mampu menjalankan tugas dengan sangat baik, selalu menarik peloton di depan atau mengawal yang paling belakang.

Banyak pembalap profesional ikut pula di acara ini. Antara lain skuad tim profesional perempuan, TIBCO Silicon Valley Bank. Juga ada Mat Stephens, juara Dirty Kanza 200 mil pada 2017. Tahun ini, Stephens memilih ikut kelas lebih "minggat." Yaitu kelas XL alias 350 mil alias 560 km.

Bosan ikut yang 200? "Sudah pernah merasakan dan sudah pernah merebutnya. Waktunya menjajal sesuatu yang berbeda," ucap Stephens, yang menarget menuntaskan rute 560 km itu dalam waktu 21 jam.

Setelah acara gowes santai 25 km ini selesai (hanya sekitar satu jam), Azrul dan Johnny Ray kembali ke penginapan. John Boemihardjo menambah porsi sendiri, menambah lagi gowes sekitar 40 km.

Setelah jam makan siang, ketiganya kembali kumpul di kawasan All Things Gravel Expo. Lihat-lihat stan yang mulai disiapkan (pameran mulai buka pukul 15.00), sambil ngopi di kafe sekitar acara.

Baru pada pukul 15.00 itu, mereka ke gedung pemerintah kota di tengah jalan utama, mengambil race pack. Total lebih dari 2.800 peserta ikut, mereka dibagi sesuai kategori lomba dan abjad nama belakang. Proses berlangsung sangat cepat dan lancar.

Setelah jalan-jalan lagi melihat pameran, trio ini makan malam sekaligus bertemu dengan Bryce Gordon. Ia adalah mekanik profesional yang akan bertugas merawat sepeda dan menjadi support crew selama Unbound Gravel berlangsung. Pria asal Aspen, Colorado, itu adalah mantan pembalap MTB dan punya pengalaman 18 tahun menjadi mekanik sepeda di ajang-ajang besar Amerika.

"Walau saat menjalani rute tidak boleh mendapat bantuan, peserta boleh mendapatkan support saat berada di dua kawasan pit stop resmi. Di situ Bryce Gordon akan stand by, mengecek kondisi sepeda, melakukan segala perbaikan atau penyetelan. Sekaligus menyiapkan makanan dan segala kebutuhan kami," jelas John Boemihardjo.

Pada Jumat sebelum lomba, rencananya trio Indonesia ini akan ikut lagi group ride ringan di pagi hari. Siangnya, mereka menuntaskan mengikuti pameran sekaligus merekamnya untuk Podcast Main Sepeda Azrul dan Johnny Ray. Sorenya ditutup dengan acara briefing pembalap, sebelum istirahat bersiap menghadapi acara Sabtunya. (mainsepeda)

Foto-foto: Emka Satya / DBL Indonesia


COMMENTS