Brompton Monas Cyclists, Bukan Komunitas Brompton Biasa
by Yudy Hananta - May 15, 2019

Sering Ahmad Muttaqin dan Ian SK berdua keliling area Menteng, Matraman, Salemba, Monas, Kota Tua, Setia Budi, kadang ke Ancol menggunakan sepeda lipat asal Inggris, Brompton.

Dua cyclist pengguna Brompton Raw Lacquer ini tidak sekedar bersepeda. Tapi latihan serius, ada jarak tertentu dengan kecepatan rata-rata tertentu yang harus diselesaikan.

“Kita ingin menaklukkan perbukitan di Bandung menggunakan sepeda ini. Jadi cyclistnya yang harus kuat,” tukas Ian. Konsistensinya ini diikuti pengguna Raw Lacquer lain seperti Ganjar Mulyadi, Buyung Kenek, dan Parjono.

“Kami adalah pengguna Brompton yang konsisten dan rutin latihan di Monas jadi langsung tercetus nama Brompton Monas Cyclists disingkat BMC,” tukas dr. Hendry Suhendra, penggagas nama BMC.

Berawal dari sekitar 10 cyclist Brompton, saat ini sudah berkembang hingga lebih dari 100 cyclist anggota BMC. “Karena temannya makin banyak. Latihannya jadi lebih semangat. Jarak makin jauh dan kecepatan rata-rata bertambah,” tutur Ganjar.

Selain dokter Hendry Suhendra, beberapa dokter lain ikut bergabung dengan BMC. Ada dokter Parintosa yang praktek di RSCM, juga ada dokter gigi Dedy.

Sejak Sandi Adila yang kerap disapa Asenk bergabung, bersama dokter gigi Dedy, mereka merubah pola latihan BMC jadi lebih terstruktur. “Kami latihan sistem peloton dan sepakat latihan setiap hari Selasa jam 5.45 pagi dengan target kecepatan rata-rata 28 kpj,” tutur Asenk yang kerap didaulat menjadi road captain bersama Muttaqin.

Berkumpul di parkiran IRTI (depan Balai Kota) jam 5.30 pagi setiap hari Selasa lalu gowes selama satu jam dengan kecepatan rata-rata 30-33 kpj sejauh 30 km. Lalu finis di Taman Ragam, Monas.    

Memang, komunitas BMC terkenal paling disiplin dalam latihan. “Misal saat mau ikut even gowes Bromo KOM Challenge. Waktu itu kita harus gowes dari Surabaya ke Pasuruan lalu disambung dari Pasuruan menanjak hingga Wonokitri Bromo. Maka latihan kita perhitungkan harus bisa mengcover endurance dengan average speed 30an kmh. Dan harus kombinasi latihan menanjak ke Rindu alam atau KM0 Sentul,” bilang Asenk.

Menurutnya, anggota BMC sudah sangat biasa gowes dengan pelotonan. Jadi tidak canggung kala harus gowes berpeloton bersama komunitas road bike. Saking seriusnya, beberapa anggota BMC sering berangkat gowes jarak jauh seperti Jakarta-Bandung.

“Latihan tidak memungkiri hasil” itulah pedoman yang dipegang oleh anggota BMC. Salah satu bukti nyata adalah Hendriyanto Wijaya. Dokter gigi ini sangat kesulitan mengikuti pace peloton BMC saat baru bergabung.

Tapi dengan latihan yang keras, Toto, sapaan akrabnya bisa melahap 600 km dalam seminggu, akhirnya tidak sampai satu tahun bisa menjadi salah satu anggota BMC yang terkuat dan tercepat.

Buah dari latihan serius ini adalah diraihnya predikat Super Randonneur untuk Toto dan Asenk. Yaitu peserta yang bisa menyelesaikan Audax 200 km, 300 km, 400 km, dan 600 km dalam setahun.

“Kedua orang ini rencananya akan berangkat ke Paris untuk mengikuti Audax BRM 1.200 km (Paris-Brest-Paris) di bulan Agustus 2019,” bilang Brigjen Irwanto, salah satu founder BMC. 

Bulan puasa seperti saat ini, BMC tidak kendor semangat bersepedanya. Mereka akan mengadakan acara night ride dengan nama BNRB alias Bukan Night Ride Biasa. Meskipun malam-malam, gowes harus sejauh 75 km.

“Pernah juga kita mengadakan even Century Ride semua peserta harus menggunakan Brompton dan gowes sejauh 100 km dengan kecepatan rata-rata 27 kpj,” bilang Irwanto.

Karena anggota BMC yang mempunyai latar belakang beragam ini, grup Whatsapp selalu mencairkan suasana. Juga setiap tahun, pasti diadakan gowes keluar kota.

“Tahun 2017 kita gowes di Bali, sedangkan tahun lalu gowes di pulau Samosir,” tukas Irwanto. Membuang kesan eksklusif, BMC aktif mengikuti even-even gowes.

Utamanya even gowes Brompton seperti B100K yang diadakan oleh BOGI, atau Tiny Wheel Race yang diadakan oleh SESAT. “Kita juga aktif di even gowes non khusus Brompton seperti Bromo KOM Challenge,” jelas Asenk.

Semangat “No one left behind” juga jadi pegangan seluruh anggota BMC. Saat mengikuti even Audax 200 km di Jakarta beberapa waktu lalu, 20 orang cyclist BMC saling support dan menunggu sehingga bisa mencapai finis bersamaan.

Meskipun merupakan komunitas gowes, tapi beragam kegiatan sosial juga dilaksanakan oleh BMC. Salah satunya adalah donor darah dan talk show kesehatan. Juga diundang oleh MRT Jakarta untuk melakukan uji coba MRT.

“Kita juga sering mengumpulkan dana sukarela dari anggota lalu dana tersebut dibelikan makanan dan dibagi-bagikan ke orang di sekitaran Monas misal polisi, driver ojol, tukang sampah, dan lainnya,” tutup Ahmad Muttaqin. (yudy hananta)

Asenk (kiri) dan Toto (kanan).

 


COMMENTS