Etape pembuka Giro d’Italia 2019 di Bologna, Sabtu, 11 Mei, memang unik. Etape time trial (TT) sepanjang 8 km itu diawali dengan rute relatif datar sejauh 6 km, disambung tanjakan curam sepanjang 2 km. Tim dan pembalap pun harus bereksperimen dalam menemukan setelan yang pas.

Sebenarnya, dalam rute TT seperti ini, ada opsi ganti sepeda sebelum tanjakan. Berarti, memakai sepeda TT yang supercepat di bagian datar, lalu cepat-cepat ganti sepeda road normal untuk climbing.

Beberapa pembalap melakukan itu. Seperti sejumlah pasukan Trek-Segafredo. Andalan mereka, Bauke Mollema, sukses melakukannya untuk masuk sepuluh besar. Rekannya, Giulio Ciccone, bahkan sukses mencatatkan waktu terbaik di bagian tanjakan dan meraih jersey biru sebagai King of the Mountain.

Sepeda Merida Time Warp Vincenzo Nibali.

Namun, kebanyakan memilih tetap menggunakan sepeda TT dari awal sampai akhir. Dan tetap memakai ban disc belakang yang sebenarnya berat. Termasuk para unggulan utama, dan bintang etape ini seperti Primoz Roglic (Jumbo-Visma), Vincenzo Nibali (Bahrain-Merida), Simon Yates (Mitchelton-Scott), dan Tom Dumoulin (Team Sunweb).

Untuk memastikan tidak kehilangan banyak waktu dengan sepeda TT yang relatif berat (kisaran 9 kg), pilihan gir jadi sangat krusial. Setiap pembalap punya selera sendiri-sendiri, tapi pada akhirnya ada kemiripan.

Vincenzo Nibali misalnya. Sepeda Merida Time Warp-nya menggunakan kombinasi chainring depan 54-39. Di belakang adalah cassette/sproket 11-32. Hasilnya lumayan, dia finis ketiga!

Sproket 11-32 Vincenzo Nibali.

Chainring 54-39 Vincenzo Nibali.

Pilihan sproket 11-32 memang tergolong umum di Bologna Sabtu lalu. Pilihan chainring depan yang macam-macam. Tim EF Education First termasuk paling unik. Pada bagian depan sepeda TT Cannondale, mereka memilih kombinasi ekstrem. Yaitu 56-38!

Yang agak beda adalah Katusha-Alpecin dan Trek-Segafredo. Karena mereka memakai grupset 12-speed dari SRAM, yang memiliki kombinasi gir beda dengan yang lain.

Misalnya sepeda Canyon Speedmax milik Katusha-Alpecin. Mereka memakai sistem 1x, yaitu hanya satu chainring besar di depan. Tidak tanggung-tanggung, ukurannya 52T.

Single chainring 52T Katusha.

Pada bagian belakang, mereka memakai sproket 10-33. Dengan demikian, top speed di datar masih sangat tinggi, dan di tanjakan masih lumayan. Karena kombinasi 52T depan dengan 33 belakang itu kurang lebih sama dengan 39T depan dan 26 belakang.

Sproket 10-33 Katusha.

Ada yang bilang, kombinasi milik SRAM ini termasuk paling kurang ideal di Bologna. Mungkin itu sebabnya skuad Trek-Segafredo memilih ganti sepeda sebelum tanjakan.

LAIN-LAIN

Tentu saja, bukan hanya pilihan kombinasi gir yang menarik di Bologna. Pilihan ban ternyata juga menarik. Normalnya, tim-tim profesional lebih suka memakai ban tubular. Walau ribet dalam memasang, ban jenis ini tergolong lebih aman saat pecah di tengah peloton.

Untuk TT, tim-tim dan produsen sudah mengakui kalau ban clincher bisa lebih cepat. Rolling resistance-nya (tahanan gesekan) lebih baik dari tubular. Banyak pembalap pun memakai opsi clincher di Bologna. Termasuk Nibali dan pasukan Katusha-Alpecin. Khususnya untuk ban depan.

Ban depan clincher pilihan Bahrain-Merida.

Ban depan clincher Katusha-Alpecin.

Soal pemakaian disc brake, di arena TT masih belum jadi opsi utama. Mayoritas masih pakai rim brake. Yang paling menonjol memakai disc brake adalah Tom Dumoulin pada Cervelo P5 terbarunya.

Tom Dumoulin memakai disc brake, walau mayoritas masih rim brake.

Dasar para profesional kelas dunia, sangat banyak pembalap memakai kokpit 3D printed. Diukur dan dicetak sesuai dengan panjang dan bentuk lengan masing-masing. Opsi ini sangat tidak murah, kabarnya harga setiap kokpit (handlebar dan extension) bisa lebih dari 3.000 Euro!

3D printed kokpit milik Nibali.

Oh ya, di Bologna, Tim Bahrain-Merida juga memamerkan mobil support paling keren. Sebuah McLaren 570S Coupe! Maklum, tim ini secara kepemilikan memang terkait dengan McLaren, dengan pemodal sama dari Bahrain.

Mclaren 570S Coupe Bahrain-Merida.

Rak sepedanya tentu dibuat agar tidak merusak bodi. Yaitu memakai rak custom dari Sea Sucker yang dicat emas. Rak ini memakai sistem vakum untuk menempel ke permukaan atap McLaren tersebut. (mainsepeda)

Roof rack custom dari Sea Sucker.         

 


COMMENTS