Longsor Tunda Kesuksesan Everesting di Manado
by Yudy Hananta - February 06, 2019

Everesting Challenge, alias upaya menanjak naik-turun setara Gunung Everest dalam 24 jam, merupakan salah satu tantangan bagi seorang cyclist. “Orang-orang gila” di Manado mencoba melakukannya pada Sabtu, 2 Februari lalu.

Segala persiapan telah dilakukan matang, mulai dari rute, kecepatan yang harus dilakukan, hingga kawasan istirahat dan menu makanan terbaik.

Segalanya pun berjalan lancar, beberapa cyclist sudah on pace untuk menaklukkan tantangan menanjak lebih dari 8.800 meter dalam 24 jam tersebut.

Sayangnya, alam berkata lain. Force majeur memaksa upaya ini dibatalkan setelah lebih dari separo perjalanan! Hujan lebat tanpa henti, plus bencana tanah longsor, membuat “orang-orang gila” ini untuk berpikir lebih sehat dulu.

Sukses menaklukkan Everesting Challenge harus tertunda dulu. Padahal, Royke Hendra, dedengkot Manado Cycling Mania (MCM), sudah menempuh jarak hampir 200 km, menanjak lebih dari 5.000 meter!

Rencana Everesting ini sudah disiapkan oleh MCM sejak dua bulan lalu. Selain 15 orang anggota MCM, mereka mengajak cyclist dari kota lain, seperti Yohanes Tekno Wijoyo dari Solo dan John Boemihardjo dari Surabaya.

“Sayang Yohanes yang sudah tiba di Manado sejak Rabu harus pulang ke Solo hari Jumat karena ada kabar kedukaan,” sesal Royke.

Rute yang dipilih pun ideal, lokasinya adalah jalur Pineleng ke Tinoor. Panjang rute yang harus dinaikturuni selama tantangan adalah 16,3 km, menanjak sejauh 402 meter. Jadi, untuk mencapai ketinggian Everest, mereka harus naik-turun sebanyak 22 kali.

“Rute yang biasa disebut Komforta B ini tidak terlalu berat dan sering kita lalui. Jadi bisa banyak teman yang ikut. Supporter yang menemani kamipun tidak jenuh. Juga tersedia toilet yang bersih,” bilang Royke.

Berbeda dengan everesting rute Mahawu yang sudah dilakukan oleh Royke tahun lalu. “Mahawu di hutan lindung jadi akan gelap jika malam. Dan supporter akan jenuh menemani kita karena jauh dari kota. Selain itu tidak ada toilet yang bersih,” tukasnya.

Start dari Pineleng tepat jam 4 pagi, kecepatan dijaga minimal 9 km/jam dan maksimal 11 km/jam dengan heart rate 130 bpm. “Ternyata dalam everesting selain strategi menanjak, strategi untuk turunan juga perlu diperhatikan. Turunan perlu konsentrasi dan menahan dingin. Ini sangat berpengaruh ke performa kita,” bilang Ferry Palar, ketua harian MCM.

“Sejak jam enam pagi turun hujan. Dan semakin lebat. Kira-kira jam 12 siang, terjadi longsor di kilometer enam. Tapi kita tetap melanjutkan tantangan kita ini,” tutur Royke.

Setiap naik dan turun, cyclist harus berhenti kira-kira lima menit untuk bisa melewati daerah yang longsor itu. Harus jalan kaki dan perlu angkat sepeda.

Setelah makan siang di Fireball Café, curah hujan makin tinggi. Para cyclist ini masih semangat untuk menyelesaikan tantangan.

Sayang, setelah makan siang ini, Ferry Palar hanya mampu menyelesaikan tiga kali naik turun karena tidak tahan dengan hawa dinginnya.

“Total saya hanya bisa delapan kali. Sedangkan Novan Adrian, Jonathan Loma, Felix juga menyerah setelah total melakukan sepuluh kali naik turun,” tutur Ferry.

Yang bertahan hanya, Royke dan John. Tapi akhirnya, kedua cyclist inipun menyerah setelah menyelesaikan 12 kali naik turun. “Sudah jam tujuh malam dan hujan tidak juga berhenti. Kamipun berhenti dengan pertimbangan keamanan,” sesal John.

Fireball café yang berada di Tinoor jadi basecamp atas. Di sinilah, makanan melimpah ruah untuk menjaga asupan makanan cyclist. “Menu pagi ada kolak kacang hijau, jagung rebus, nasi kuning. Menu siang ada ayam rica, tinoransak, sate dan kuah brenebon. Menu sore ada kolak kacang hijau durian. Pamungkasnya menu malam, babi guling!” tutur Hanny Lumesar, salah satu anggota MCM.

Memang, pada akhirnya, upaya Everesting ini belum berhasil. Bukan karena tidak mampu, bukan karena tidak mau. Melainkan karena halangan alam yang tak bisa direncanakan.

Royke dan cyclist lain berjanji akan mencobanya lagi di lain kesempatan! “Kami rencanakan hari Sabtu, 9 Februari akan kami ulangi. Rute yang sama tapi dibuat lebih pendek. Kami sebutnya rute FTP Test. Jaraknya 7 km sehingga harus 24 kali naik turun,” tutup Royke. (yudy hananta)

Dari kiri : Jonathan Loma, Royke Hendra, dan John Boemihardjo.

 


COMMENTS