DI LOKASI Race Pack Collection (RPC) Nggravel Glenmore 2026, tampak tiga perempuan ceria yang datang berbarengan. Nampak lelah, tapi hebohnya tak berkurang. Mereka menjalani prosedur bike check, lalu ngobrol seru tentang sepeda dengan CEO Mainsepeda Azrul Ananda.

Ketiga ibu cantik itu, Eka Sophiani, Wijayanti Wulandari, dan Nuy Kurnia, bersahabat karib. Padahal, yang satu berasal dari Bandung, dua dari Jakarta. Kedekatan terjalin dari seringnya bertemu saat event sepeda. Awalnya saat ada gobar (gowes bareng) di Bandung pada 2024, mereka berkenalan. Eh, persahabatannya lanjut sampai sekarang.

”Kalau event sepeda tuh kan biasanya dikit ya ceweknya. Pas saya lihat ada peserta cewek, langsung, ’Eh, ada cewek tuh.’ Kenalan deh,” cerita Nuy Kurnia, yang berasal dari Bandung. ”Akhirnya tukeran nomor, jadinya bestie sampai sekarang,” lanjutnya.

Dari situ, mereka saling berbagi info event sepeda. Lalu saling mengompori agar sama-sama ikut. ”Kalau ada temennya kan lebih semangat. Bisa berangkat bareng, merencanakan perjalanan bareng. Mau naik apa, nginep di mana. Bisa berbagi biaya juga,” kata Eka, lantas tertawa.


Eka Sophiani sudah jatuh cinta dengan gravel bike sejak bertahun-tahun yang lalu. Dia sering berburu event gravel bersama dua bestie-nya.

”Pokoknya berangkat aja dulu, pusing belakangan,” sahut Wulan. Mereka terbahak lagi. Untuk Nggravel Glenmore ini, mereka bertiga berangkat naik bus. Perjalanan Nuy paling panjang. Sebab, dia ke Jakarta dulu. Lalu mereka naik bus bersama dari terminal Kampung Rambutan ke Banyuwangi. Tiba di Glenmore Sabtu, pukul 05.00 WIB.

Baca Juga: Dari RD Nge-hang Sampai Salah Ban, Bike Check Jadi Penyelamat Sebelum Nggravel Glenmore

Baca Juga: Stephen Lane dan Kai Besser Siap Debut Gravel di Indonesia Lewat Nggravel Glenmore 2026

Dari saling berbagi info, lama-lama, saling mengunjungi. Jika Nuy ke Jakarta, dia bakal disambut oleh Eka dan Wulan. Demikian juga sebaliknya, kalau Eka atau Wulan bepergian ke Bandung, pasti ada agenda bersepeda dengan Nuy.

Bahkan, Nuy dan Wulan pernah gowes berdua ke Lampung. Berangkat tengah malam ke Bakaheuni. Agar pas saat waktu sunrise, bisa menikmatinya dari kapal penyeberangan. Dari pelabuhan, mereka bersepeda ke Way Kambas. ”Ketemu Anisa, Kartijah, Mama Pleno,” kata Nuy, mengabsen gajah-gajah lucu yang tinggal di Taman Nasional Way Kambas.

”Pulangnya juga gitu. Sengaja balik dari Lampung siang-siang bolong supaya waktu sunset pas banget lagi di kapal,” kata Eka. Padahal dia tidak ikut. ”Gua bantu ceritain nih. Soalnya gua nggak diajak,” imbuhnya, pura-pura cemberut. Kedua temannya tertawa riang.

Yang unik dari ketiga bestie itu, mereka sama-sama penyuka medan gravel. Eka sudah bersepeda lebih dari 15 tahun yang lalu, awalnya menggunakan MTB dan seli (sepeda lipat). Namun, beberapa tahun terakhir dia terpikat dengan sepeda gravel.

Baca Juga: Curi Start, 2 Cyclist Gowes Antarpulau Menuju Nggravel Glenmore 2026

Baca Juga: Graveleur YK Bawa Pengalaman Off-Road Jogja ke Glenmore


Meski hidungnya pernah patah gara-gara bersepeda, Nuy Kurnia tidak kapok. Dia malah semakin mantap pindah ke sepeda gravel. 

”Jiwaku asruk-asruk gitu soalnya. Sukanya masuk daerah-daerah geronjalan. Kalau jalannya licin, aku bosen,” ucap perempuan asal Jakarta tersebut. Dia dulu sempat mencoba road bike. Tapi, hanya gowes di jalan aspal yang mulus kurang menantang baginya. Waktu bertemu jalur gravel, ternyata dia jatuh cinta. 

Menurut dia, sepeda gravel memungkinkan dirinya menemukan jalan-jalan yang tak terbayangkan sama kita jika dia tidak naik sepeda. Dia bisa tiba-tiba melewati berbagai spot yang dia tidak pernah tahu tempat itu ada.

”Sering kali kita nemu spot bagus di titik yang hanya terjangkau dengan sepeda gravel. Karena kadang road bike terkendala wheelset dan sebagainya ” jelasnya. ”Kalau sepeda gavel kan semua medan bisa dilibas,” lanjut perempuan karier tersebut.

Demikian juga Nuy dan Wulan. Sebagai cyclist angkatan Covid-19, mereka awalnya memakai sepeda lipat. Lalu sempat mencoba road bike. Namun, dua tahun kemudian pindah ke gravel bike.

Baca Juga: 3 Cyclist Senior Siap Taklukkan Nggravel Glenmore 2026, Usia Bukan Halangan

Baca Juga: Khusus Cewek! Ini Tips Taklukkan Glenmore 2026 buat Cyclist Perempuan

Khusus Nuy, ada momentum yang bikin dia berpindah dari road bike ke gravel bike. Yakni ketika mengalami kecelakaan saat bersepeda pada 2023. Bukan hanya sepeda karbonnya yang  patah jadi dua. Hidungnya juga patah.


Wijayanti Wulandari hanya gowes tiap akhir pekan sejauh 50-80 km. Tapi itu sudah cukup untuk membuat dia percaya diri terjun di Nggravel Glenmore 2026. 

”Sebenarnya waktu masih naik road bike, sudah sering saya pakai main gravel. Makanya dibilang road bike murtad,” ungkapnya. Kecelakaan yang bikin hidungnya harus dioperasi tiga kali itu tidak bikin Nuy kapok sepedaan. "Malah makin mantap lah pindah ke gravel,” imbuh dia.

Saking sukanya dengan medan berbatu, mereka hanya mengikuti berbagai event sepeda gravel. Khusus Glenmore, mereka tertarik karena event tersebut dijuluki sebagai ”Unbound-nya Indonesia”. Selain itu, daerah Banyuwangi memang terbilang jarang mereka jamah. 

”Event gravel itu, rutenya enggak pernah kepikiran bahwa kami akan sepedaan ke sana. Jadi kami lebih surprised,” jelas Wulan, yang berasal dari Bintaro.

Tidak ada persiapan khusus bagi ketiga bestie itu sebelum mengikuti Nggravel Glenmore 2026. Sebab, setiap pekan, mereka selalu bersepeda minimal antara 50-80km. Namun, mereka tidak mau terjun di kategori race. Ketiganya kompak terjun di kategori Non-Competitive, untuk menikmati jalur dan bikin konten.

”Ibaratnya, udah jauh-jauh ke sini, masa mau buru-buru selesai? Nggak lah, kita santai-santai saja,” kata Eka, lantas tertawa. ”Yang penting, gincu on, kita bakal on fire. Kalau gincuku kurang menyala, nanti aku lemah,” imbuhnya kenes. Good luck, Mama-Mama cantik! (Mainsepeda)

Populer

3 Bestie Pencinta Gravel Ingin Nikmati Glenmore Sambil Ngonten
Stephen Lane Siap Debut Gravel di Indonesia, Kai Besser Comeback Setelah 20 Tahun
Pogacar Lewatkan Kejuaraan Eropa dan Il Lombardia, Comeback pada 2027
Panduan Lengkap RPC Nggravel Glenmore 2026: Lokasi, Alur, dan Regulasi Peserta
Dari RD Nge-Hang sampai Salah Ban, Bike Check Jadi Penyelamat Sebelum Start Nggravel Glenmore
Komunitas Goku Siap Jelajah Glenmore Lalu Berburu Rujak Soto
Ini Kalender Event Mainsepeda 2026 - Tantangan untuk Segala Jenis Sepeda!
Bentang Jawa 2025: Stephen Lane Juara! Pecah Rekor Finish Under 78 Jam
Bikepacking untuk Membuang Kejenuhan Bersepeda
"Curi Start", 2 Cyclist Gowes Lintas Pulau Menuju Nggravel Glenmore 2026