Jonas Vingegaard Out dari Tour de France 2026 karena Patah Tulang Selangka

Harapan Visma-Lease a Bike untuk merebut gelar Tour de France 2026 bersama Jonas Vingegaard harus berakhir lebih cepat. Pembalap asal Denmark itu dipastikan mundur dari balapan setelah mengalami kecelakaan pada etape ke-15 yang mengakibatkan patah tulang selangka, Minggu (19/7).

Insiden tersebut sekaligus mengubur ambisi besar tim asal Belanda itu yang sejak awal musim memusatkan seluruh strategi kepada Vingegaard. Sang juara dua kali Tour de France juga sebelumnya membidik pencapaian langka, yakni menjuarai Giro d'Italia dan Tour de France dalam satu musim.

Kehilangan Vingegaard menjadi pukulan telak bagi Visma-Lease a Bike. Ia itu dikenal sebagai satu-satunya pembalap yang pernah mengalahkan Tadej Pogacar (UAE Team Emirates - XRG) dalam perebutan gelar juara umum Tour de France.

Rekan setimnya, Matteo Jorgenson, mengaku sangat terpukul dengan situasi tersebut. Menurutnya, seluruh tim datang ke Tour de France dengan satu target utama, yakni mengantar Vingegaard menjadi juara.

"Apa lagi yang bisa saya katakan? Rasanya sangat menyakitkan. Kami sudah menjalani 15 etape dan kami tak memiliki rencana cadangan. Seluruh tim bertaruh pada Jonas, kami semua percaya dia bisa melakukannya. Hari ini sebenarnya berjalan sangat baik. Dia tampil sangat kuat, tetapi terkadang balap sepeda memang sangat kejam," ujar Jorgenson usai finis di Plateau du Solaison.

Baca Juga: Tour de France 2026-Etape 15: Evenepoel Taklukkan Pogacar di Plateau de Solaison

Baca Juga: Tour de France 2026-Etape 14: Pogacar Melesat, Vingegaard Tertinggal 4 Menit

Marc Reef Direktur olahraga Visma-Lease a Bike menjelaskan, kecelakaan terjadi begitu cepat hingga rombongan mobil tim baru mengetahui kondisinya beberapa saat kemudian.

"Kami melewati sebuah tikungan. Dari tayangan televisi saya juga tidak melihat dengan jelas. Saat mobil tim tiba di lokasi, Jonas sudah tergeletak di jalan. Sangat disayangkan ini terjadi dan dia harus menghentikan balapan," kata Reef.

Menurut Reef, Vingegaard langsung menjalani pemeriksaan menggunakan sinar-X untuk mengetahui tingkat cederanya. Ia mengaku hanya sempat menyampaikan rasa prihatin kepada pembalap andalannya karena sejak awal sudah terlihat bahwa Vingegaard tidak mungkin melanjutkan perlombaan.

"Dia mengeluhkan rasa sakit. Dalam situasi seperti itu sebenarnya tidak banyak yang bisa diucapkan. Setelah itu dia dibawa menggunakan ambulans," ucap Reef.

Sebelum kecelakaan terjadi, Visma-Lease a Bike merasa strategi yang mereka susun berjalan sesuai rencana. Tim bahkan telah menempatkan dua pembalap di depan untuk mendukung serangan Vingegaard pada etape pegunungan tersebut.

"Kami datang dengan target besar untuk memenangi etape hari ini. Semua berjalan sesuai rencana hingga kecelakaan itu terjadi. Selisih waktu masih terkendali, situasi balapan juga sesuai perhitungan, dan Jonas benar-benar merasa dalam kondisi terbaiknya," jelas Reef.

Saat ditanya apakah lokasi kecelakaan tergolong berbahaya, Jorgenson menilai insiden kemungkinan dipicu efek berantai di dalam rombongan.

"Sepertinya bukan tikungan yang berbahaya. Sepeda motor mengambil sisi kiri pulau jalan, Victor Campenaerts mengikuti jalur itu, sementara kami harus mengerem. Kemungkinan terjadi efek berantai sehingga roda saling bersentuhan atau ada benturan. Hal seperti ini memang sering terjadi dalam olahraga balap sepeda," tuturnya.

Baca Juga: Tour de France 2026-Etape 13: Mauro Schmid Pecah Telur, Pogacar Masih Memimpin GC

Baca Juga: Tour de France 2026-Etape 12: Tim Merlier Hat-trick Menang Sprint

Hingga sebelum kecelakaan tersebut, Visma-Lease a Bike masih berupaya memberi tekanan kepada pemuncak klasemen umum, Tadej Pogacar, meski tertinggal sekitar empat menit. Kini, tim harus segera menyusun ulang strategi untuk sisa balapan yang tinggal menyisakan beberapa etape.

Jorgenson mengakui perubahan target di tengah Tour de France bukan perkara mudah. Menurutnya, seluruh pembalap telah mengorbankan waktu, tenaga, dan disiplin tinggi sepanjang musim demi tampil maksimal di ajang balap sepeda paling bergengsi di dunia itu.

"Kami menghabiskan hampir sepanjang tahun berlatih di pegunungan, mengatur pola makan, melakukan semuanya demi balapan ini. Kehilangan target memang sulit diterima, tetapi itulah bagian dari olahraga ini," kata Jorgenson. (mainsepeda)


COMMENTS