EVENT Bromo KOM sering menjadi panggung pembuktian para cyclist. Hal itu pula dirasakan pula oleh cyclist asal Bekasi, George Ibrahim, pada Bromo KOM 2026. Manager Brand Activation PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) itu butuh berpartisipasi tiga kali sebelum akhirnya mampu menyentuh garis finis sebelum Cut Off Time (CoT).
George mengibaratkan hubungannya dengan event signature Mainsepeda itu seperti "tobat sambal". Pedas banget, sampai bikin tobat. Namun selalu bikin rindu untuk kembali.
Ketika debut terjun di Bromo KOM 2020, George gagal finis (did not finish/DNF). Ia mencapai puncak Wonokitri pada pukul 14.00 WIB. Terlambat 30 menit. Lima tahun berselang, pada Bromo KOM 2025, ia kembali mencoba. Hasilnya tetap DNF, meski ada perbaikan waktu dengan tiba di pukul 13.40 WIB.
Baru pada edisi 2026 ini, kerja kerasnya membuahkan hasil. George berhasil lulus dengan catatan waktu cukup impresif, yakni pukul 12.13 WIB. Berkurang jauh sekali dari capaiannya setahun sebelumnya. Sangat hebat.
Baca Juga: Guntur Priambodo Raih Lifetime Achievement Award di Bromo KOM 2026, Ikut Event Sejak Era Audax
"Yang jelas ini yang dinamakan 'kapok sambel'. Nagih terus, penasaran. Alhamdulillah tahun ini bisa finis bahagia," ujar George ketika diwawancarai Senin, 8 Juni 2026.
Keberhasilan pria yang akrab disapa Boim itu untuk menyentuh garis finis di bawah CoT tidak datang secara instan. Evaluasi besar dilakukan setelah kegagalan tahun lalu. Saat itu, ia menyadari bahwa berat badan menjadi faktor utama saat menghadapi gravitasi tanjakan.
Pada Bromo KOM tahun lalu, badan George memang lebih besar daripada sekarang. Beratnya mencapai 94 kg. Ia kemudian diet. Melakukan transformasi pola makan secara konsisten.
George memangkas konsumsi gula, tepung, serta ultra-processed food seperti makanan instan atau minuman kemasan. Menu makannya diubah dengan memperbanyak protein hewani mencapai 70 persen. Sisanya diisi sayur dan buah. Porsi nasi dikurangi menjadi setengah, dan hanya dikonsumsi sekali sehari.
Hasilnya terlihat saat ia mengikuti Banyuwangi Blue Fire Ijen KOM 2025 empat bulan berselang. Berat badannya sudah menyusut ke kisaran 78 kilogram. Ia berhasil finish strong di bawah CoT saat melintasi tanjakan ekstrem menuju Ijen tersebut.
"Kalau nanjak yang jelas di mana-mana butuh effort. Tapi jika kita tahu teknik dan latihan, semua bisa dilalui," ungkap Boim. "Tanjakan Wonokitri mempunyai karakter tersendiri. Tidak terlalu ekstrem tetapi panjang, dan kita bener-bener diuji untuk tetap tidak ngepush di awal," jelasnya.
Selain menjaga pola makan, George memperkuat fisiknya dengan latihan teratur. Sebagai seorang pekerja kantoran yang bekerja setiap hari, manajemen waktu menjadi kunci utama George menjaga performa.
Di tengah kesibukannya, ia selalu menyempatkan diri untuk bersepeda sebelum berangkat ke kantor. Kondisi geografis Bandung yang berbukit dimanfaatkannya secara optimal. Dalam seminggu, ia rutin bersepeda sebanyak 3 hingga 4 kali, termasuk long-ride di akhir pekan.
Baca Juga: VC Kelulusan Anak Sambil Nanjak, Bawa Pulang Oleh-oleh Lanterne Rouge dari Bromo KOM
"Pintar-pintar kita ngatur waktu. Sebelum ngantor sempetin gowes. Lumayan dapet elevasi 400-600 meter," ungkapnya. "Dan kalau akhir pekan, kadang long ride sama teman-teman. Di Bandung enggak susah cari jalur nanjak, keluar rumah sudah nanjak," katanya, lantas tertawa.
Bagi cyclist 38 tahun itu, motivasi utamanya bersepeda kini telah bergeser. Dari sekadar hobi menjadi kesadaran akan investasi kesehatan jangka panjang seiring bertambahnya usia. Gowes menjadi caranya untuk tetap bugar dan produktif hingga tua.
Setelah berhasil menaklukkan target finis di bawah COT tahun ini, George sudah membidik sasaran baru untuk edisi tahun depan. Yakni memperbaiki catatan waktu personalnya di rute Bromo KOM. (Mainsepeda)